Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Penyiksaan.


Pagi itu di Rumah Sakit Polri, Juragan Suripto terbaring dengan sebelah tangan yang diborgol. Dia terbangun dari tidurnya dan meremas perutnya dengan erat. Ia ingin berteriak namun tiba-tiba pita suaranya tidak bisa ia gunakan. Kedua matanya melotot kaget saat tenggorokannya terasa panas, dan darah yang luar biasa banyak mengalir dari mulutnya.


Lelaki itu berusaha berteriak meronta kesakitan, tapi dia tidak dapat mengeluarkan suaranya, akhirnya dengan tenaga yang menipis ia mencoba menggeser tubuhnya, untuk menjatuhkan gelas yang ada disamping nya. Berharap polisi yang berjaga akan mendengarnya.


Nampak ketakutan dari raut wajahnya, ketakutan akan kematian yang mungkin akan menjemputnya. Juragan Suripto membulatkan kedua matanya, melihat sosok perempuan berjubah merah ada di sudut ruangan itu. Dengan terbata-bata Juragan Suripto memohon ampunan, tapi perempuan berjubah merah itu tersenyum sinis menatap dirinya penuh keangkuhan.


Juragan Suripto menjerit dalam diam, rasa terbakar itu menjalar keseluruh tubuhnya. Lalu dari leher nya, tiba-tiba cairan merah mengalir dari sela-sela kulitnya yang pucat. Juragan Suripto tidak kuat merasakan rasa panas itu, ia mencengkeram lehernya yang kini banyak mengucurkan darah. Kulit di lehernya melepuh dan aliran darah membasahi baju tahanan tersebut.


Dia terus menggelepar di atas ranjang, dan menatap pintu dengan harapan ada polisi yang lewat atau siapapun yang akan menolongnya.


Larasati tersenyum miring, sorot matanya menjanjikan sebuah kematian yang akan menyiksa Juragan Suripto dengan perlahan, tapi penuh dengan kesakitan.


Kedua kaki Juragan Suripto tiba-tiba membengkak merah, lalu dari ujung kukunya keluar bercak darah yang mengalir. Juragan Suripto tersengal saat merasakan nafasnya putus-putus, dia berharap jika kematian akan segera menjemputnya. Karena dia sudah tidak mampu menahan rasa sakit yang tidak terkira, lalu kedua telinga nya berdengung kencang, membuatnya segera menutupi telinga itu dengan sebelah tangan nya. Juragan Suripto mengedipkan matanya, karena pandangan nya terlihat buram, namun rasa panas di sekujur tubuhnya tidak berkurang sedikitpun.


Suara dengungan telinga semakin kuat, dan ketika memuncak menjadi dentuman, seketika membuat kejut dalam jantungnya. Denyut jantung nya melemah seiring darah yang keluar dari kedua telinga nya.


Terlihat Larasati tersenyum puas melihat penderitaan ayah tirinya, karena tidak ingin melihatnya mati begitu saja. Larasati menghentikan penyiksaan nya pafa Juragan Suripto.


"Aku menghentikan permainan ini, bukan karena mengampuni mu. Aku hanya memberimu sedikit waktu untuk merasakan setiap kesakitan yang ku beri pada tubuhmu, sudah ku katakan bukan. Kalau aku akan membuat mu memohon untuk kematian mu, tapi kali ini aku masih berbaik hati padamu. Kau akan menghembuskan nafas terakhir disaat yang tepat, tapi sebelum semua terjadi. Aku akan selalu kembali untuk menyiksa jiwa dan ragamu." Ucap Larasati seraya menghilang pergi dari sudut ruangan itu.


Nampak Juragan Suripto terkapar di atas ranjang, matanya melotot nyalang, berharap ada seseorang yang akan datang memberikan pertolongan. Dan harapan nya terkabul, seorang perawat masuk ke dalam ruangan nya. Perawat berteriak lantang memanggil Dokter yang ada di luar ruangan, sontak saja Dokter itu tergopoh-gopoh berlari ke dalam ruangan.


Dokter membulatkan matanya dengan menggeleng kepala nya berulang kali, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pasien yang dijaga oleh petugas polisi di luar ruangan, tidak mengetahui bahkan mendengar apapun dari dalam ruang inap. Tapi tiba-tiba pasiennya ditemukan dengan kondisi yang sangat mengenaskan, seluruh tubuhnya dipenuhi darah dengan luka melepuh di sekitar lehernya.


...Bersambung....