
Larasati memalingkan wajahnya ke arah lelaki tua itu, tiba-tiba sosoknya menghilang di telan kabut malam. Larasati memandang ke segala arah mencari keberadaan lelaki tadi, sampai akhirnya kedua matanya tertuju ke arah pintu masjid yang terbuka. Dengan langkah tertatih Larasati berjalan ke depan masjid, hingga langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu.
"Tidak Laras, kau sudah hina dan penuh dosa, kau tidak pantas berada di tempat yang suci itu." Larasati terisak dengan berlutut di luar masjid itu.
Hatinya dipenuhi rasa bersalah yang teramat besar, tapi kekejaman Juragan Suripto telah membutakan mata hatinya. Dia kembali ke hutan angker itu, tangisnya pecah di pedalaman hutan yang gelap. Setengah hati nya ingin bertaubat dan kembali ke jalan kebenaran, tapi mengingat Juragan Suripto masih hidup, dan memperdaya ibu nya. Larasati tidak terima dan bertekad untuk melenyapkan lelaki itu, dia berdiri dengan mata nyalang memanggil sesosok makhluk gaib dari alamnya..
Kilatan petir menyambar hembusan angin kencang menggoyangkan seluruh pepohonan, sang ratu kegelapan muncul dengan tatapan mengerikan. Ternyata wejangan dari lelaki tua tadi tak membuat dendamnya pada Juragan Suripto mereda, kini dia kembali membuat kesepakatan dengan Kanjeng Ratu Ageng Sedo. Larasati berlutut dibawah kakinya, matanya berkaca-kaca meminta pertolongan.
"Kanjeng Ratu ku mohon tolonglah aku, tanpa kesaktian darimu, aku tidak mampu melakukan apapun, dendam ku belum terbalaskan sempurna, dan kini nyawa ibuku dalam ancaman." Pinta Larasati bersimpuh dengan menyatukan kedua tangan didepan dada.
"Apa yang akan kau persembahkan untukku? bahkan kau tak sanggup melupakan perasaan mu pada kangmas Adinata, dan kini kau memohon kepadaku untuk sesuatu yang tak bisa kau berikan padaku!."
"Apapun itu Kanjeng Ratu, demi nyawa ibuku aku siap memberikan apapun, nyawa ku hidup ku, bahkan perasaan ku pada mas Adinata akan ku relakan untukmu."
"Nyawamu tidak ada harganya untukku, kau gadis penuh dendam yang sudah tidak suci lagi, dan perasaan mu itu tidak sepadan untuk menggantikan harga kesaktian ku. Bukankah kau sangat mengasihi ibumu, saat ini dia sedang mengandung, dan aku menginginkan calon bayi yang ada didalam perutnya. Persembahkan bayi itu padaku setelah dia terlahir ke dunia ini, apa kau setuju dengan perjanjian ini?." Tanya nya dengan tersenyum miring.
Jantung Larasati berdetak kencang, apa yang diinginkan penguasa kegelapan itu tidak main-main. Untuk menyelamatkan nyawa sang ibu, dia harus membayar dengan nyawa calon adiknya yang belum terlahir ke dunia. Tertunduk dengan nafas yang berat, Larasati memohon untuk memberinya pilihan lain.
"Ta tapi Kanjeng, apa salahnya bayi itu, kenapa harus dia yang menjadi tumbal untuk keselamatan ibuku."
"Tentu saja ada salahnya, bayi itu terlahir dari benih seorang lelaki biadap. Ayahnya telah banyak melakukan kesalahan, bukankah wajar jika bayi itu harus menebus semua kejahatan ayahnya!." Seru Kanjeng Ratu dengan membulatkan kedua matanya.
Larasati terdiam seribu bahasa, air mata nya mengalir membasahi wajah cantiknya. Tidak tega harus mempersembahkan seorang bayi yang tidak berdosa, tapi Larasati harus tetap memilih agar Kanjeng Ratu Ageng Sedo mau menolongnya.
"Kediaman mu memiliki dua arti, apakah kau setuju atau tidak. Kalau kau memang menginginkan ibumu selamat, tentu kau akan menerima persyaratan ku. Lagipula jika dukun yang di utus lelaki itu berhasil mencelakai ibumu, kau akan kehilangan keduanya. Karena dukun itu pasti akan melenyapkan nyawa ibumu, dan bayi yang ada didalam perutnya akan ikut tiada bersamanya." Ucapan penguasa kegelapan itu membuat hati Larasati tersentak.
Terlihat gadis itu makin terpuruk dihadapkan pada dua kenyataan, apapun yang dipilihnya akan membuat beban bagi dirinya sendiri.
...Bersambung....