Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Perjaka langka.


Ternyata Umar baru saja mendapatkan informasi tentang desa yang dimaksud juragan nya, adik iparnya kebetulan memiliki keluarga yang tinggal disana, dan dia diberi tau jika ada beberapa keluarga yang terlilit hutang di desa itu, dan mereka berniat mencarikan pekerjaan untuk anak-anak mereka supaya dapat membantu ekonomi keluarga, dan membayar cicilan hutang pada rentenir desa, nampak juragan Suripto mengkerut kan kening nya, menatap heran wajah Umar.


Apa gunanya Umar memberitahu ku info macam ini, aku memintanya mencari info tentang gadis yang ada di desa itu, malah dia memberi tau ku tentang penduduk desa yang terlilit hutang, dasar bodoh, batin juragan Suripto dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Bu kau temani Laras saja dulu di kamarnya, ada pekerjaan yang harus aku bicarakan dengan Umar di ruang kerjaku", serunya seraya berjalan ke sebuah ruangan.


Setelah itu Umar mengikuti langkah juragan nya itu ke sebuah ruangan, begitu pintu tertutup nampak satu tamparan tepat mendarat diwajah Umar.


Plaak...


"Ampun juragan, apa kesalahanku?", tanya Umar dengan menundukan kepalanya.


"Kenapa kau memberiku informasi yang tidak berguna semacam itu, yang aku butuhkan info tentang gadis desa, bukan nya soal hutang piutang", jawab juragan nya dengan kesal.


"Bukan itu maksudku juragan, tapi dengan banyak nya warga desa yang terlilit hutang, kau akan semakin mudah untuk masuk ke dalam desa itu, katakan saja pada batang penduduk desa itu, jika kau sedang mencari seorang istri yang masih gadis belia, tentunya gadis itu masih perawan bukan, jika orang tuanya adalah salah satu warga yang memiliki hutang pada rentenir, kau bisa melunasi hutang nya lalu memperistri anak mereka, pasti mereka tidak akan keberatan jika anaknya menikah dengan seorang juragan tanah kaya dari kota, karena mereka akan terbebas dari hutang-hutangnya".


Hmm... Benar juga yang Umar katakan, aku bisa saja memanfaatkan keadaan, dan aku bisa dengan mudah menemukan seorang gadis muda yang masih perawan, untuk ku serahkan pada mbah Warno, batin juragan Suripto dengan tersenyum licik.


"Baiklah Mar, kali ini aku setuju dengan ide mu itu, mintalah bantuan dari adik iparmu, untuk mengatakan pada penduduk desa disana, jika ada seorang juragan tanah dari kota, yang mencari seorang istri muda, dan sebagai gantinya aku akan membayar semua hutang-hutangnya beserta bunga nya, selain itu setelah aku menikahi anak mereka dan membawanya ke kota, aku juga akan memberikan beberapa hewan ternak sebagai sumber pendapatan nya ke depan nya, aku yakin mereka tidak akan menolak tawaran ku ini", ucap juragan Suripto dengan berkacak pinggang.


Kreeaak...


Terdengar suara pintu yang tiba-tiba terbuka, nampak Karsiti sedang berjalan menghampiri suaminya, dia meminta suaminya segera istirahat karena sudah malam, lalu juragan Suripto meminta Karsiti untuk menunggunya di kamar, kemudian dia meninggalkan suami beserta dengan pekerja nya itu, terlihat Umar menghembuskan nafasnya panjang, karena lega jika istri juragan nya itu tidak mendengar percakapan mereka di dalam ruangan itu.


"Kau benar Mar, sangat beresiko jika kita membahas rencana kita di rumah ini, lekaslah pergi menemui adik iparmu, supaya aku bisa pergi ke desa itu secepatnya, pastikan yang akan ku bantu nanti mempunyai anak gadis yang masih perawan, supaya kita lebih mudah menjalankan tugas disana", perintah juragan Suripto.


Setelah itu Umar pergi dari rumah juragan nya, dia menemui adik iparnya di rumah, karena mereka kebetulan tinggal di satu rumah yang sama, terlihat Umar sedang berbicara serius dengan adik iparnya, dan memerintahkan nya segera mencari informasi yang dibutuhkan nya, lalu adik ipar Umar menyanggupi tugas yang diberikan padanya, dan esok pagi dia akan pergi ke desa itu.


Keesokan paginya Larasati bangun dari tidurnya dengan berkeringat, ternyata dia didatangi oleh sosok Kanjeng Ratu Ageng Sedo, yang memperingatkan nya tentang ritual di bulan purnama nanti malam.


Aah aku hampir lupa jika nanti malam aku harus menyiapkan persembahan untuk Kanjeng Ratu, lebih baik aku menghubungi Ardi dulu, apakah dia berhasil menemukan lelaki perjaka untukku, di jaman yang serba moderen seperti ini, sangat sulit untukku menemukan lelaki yang masih perjaka, aku terpaksa meminta bantuan Ardi, dan untungnya dia bersedia membantuku, gumam Larasati dengan mengusap peluh di kening nya.


Terlihat Larasati mengambil ponsel di atas meja dan segera menelepon Ardi, ternyata Ardi belum sampai di rumah teman satu kost nya, karena dia berniat mengunjungi teman satu kost nya yang sedang sakit, dan belum kembali ke kota saat itu, menurutnya di kampung teman nya itu, banyak sekali lelaki yang tinggal bersama keluarganya, mungkin saja dia masih bisa menemukan lelaki yang masih perjaka, karena pantang untuk Larasati menimbulkan lelaki yang masih belia, karena dia hanya akan menumbalkan keperjakaan lelaki yang memiliki nafsu birahi yang tinggi padanya, kemudian Laras menutup panggilan telepon itu, dia bangkit dari duduknya dan berjalan membuka tirai kamarnya, nampak guratan cemas diwajahnya, jika sampai malam nanti dia tidak bisa mendapatkan tumbal untuk Kanjeng Ratu Ageng Sedo, apa yang akan terjadi padanya.


Tapi tiba-tiba muncul sekelebatan bayangan berwarna putih mengagetkan lamunan Larasati, lalu gadis itu membalikan tubuhnya, dia memandang ke segala arah mencari bayangan putih yang sempat membuyarkan lamunan nya.


Bayangan apa itu, kemana pergi nya, batin Larasati dengan jantung yang berdegup kencang.


Wuush...


Angin dingin menerpa belakang tengkuknya, lalu Larasati membalikan tubuhnya kembali, nampak gadis itu membulatkan kedua matanya, karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


...Bersambung....