
Setelah itu Umar beserta juragan Suripto memasuki mobil, nampak juragan nya hanya menghembuskan nafasnya panjang, terlihat guratan wajah cemas yang membuat Umar penasaran, lalu dia memberanikan diri untuk bertanya pada juragan nya itu.
"Sebenarnya ada apa juragan, kenapa disepanjang perjalanan wajahmu nampak cemas, tidak seperti biasanya, setelah mengunjubgi mbah Warno kau selalu tersenyum bahagia", seru Umar seraya mengemudikan laju mobil.
"Ada yang mengganjal didalam hati dan pikiranku Mar, syarat yang diberikan mbah Warno sangat berat, entah aku bisa melakukan nya atau tidak", sahut juragan Suripto dengan memijat pangkal hidung nya.
Lalu Umar memberi saran pada juragan nya, jika dia harus melakukan syarat yang diminta mbah Warno, karena dia sudah terlanjur menyetujuinya, karena jika dia melanggar syarat yang diminta bisa-bisa dia sendiri yang akan menjadi sasaran kekecewaan dukun itu, terlihat juragan Suripto memikirkan matang-matang ucapan Umar, kemudian dia meminta Umar untuk mencari informasi tentang sebuah desa dibalik pegunungan yang tidak jauh dari tempatnya tinggal.
"Kau antarkan aku pulang saja, besok carilah info tentang desa yang ku maksud tadi, karena secepatnya kita harus pergi kesana, karena hanya disanalah aku bisa mendapatkan syarat yang dukun itu inginkan".
Cahaya mobil yang menyilaukan mata, mengganggu penglihatan Karsiti yang sedang duduk di teras rumah, menantikan anak dan suaminya yang tak kunjung pulang, terlihat Karsiti bangkit dari duduknya dan menyunggingkan senyumnya, melihat mobil suaminya sudah pulang, dia menghampiri juragan Suripto dan memeluknya.
"Kangmas kenapa pulangnya larut sekali, tidak biasanya kau pulang selarut ini, mana Larasati juga belum pulang ke rumah, aku jadi hawatir memikirkan kalian berdua", ucap Karsiti.
"Iya Kar, aku ada pekerjaan yang harus ku lakukan di kota, dan aku tidak sempat mengabarimu, memangnya kemana Larasati pergi, tadi aku meninggalkan nya di perkebunan, apakah mungkin dia masih berada disana", tukas juragan Suripto dengan mengkerutkan keningnya.
"Tadi Laras menelepon dan mengatakan jika dia ada acara bersama teman kampusnya, tapi sampai jam segini dia belum pulang juga".
Tidak lama setelah itu terdengar suara motor, nampak dua orang turun dari atas sepeda motor itu, dia adalah Larasati bersama Ardi.
"Selamat malam Pak bu, maaf saya terlambat mengantarkan Laras pulang, karena tadi ada urusan lain yang harus dikerjakan", jelas Ardi dengan menyunggingkan senyumnya.
"Jadi kau teman kampus Laras, kalian pergi kemana sampai selarut ini?", tanya juragan Suripto dengan mengkerutkan keningnya.
"Bapak ini, bapak tiri Laras ya, maaf sebelumnya saya sudah menjelaskan semuanya pada ibu Laras, dan beliau sudah menginjinkan kami untuk pergi", jawab Ardi seperlunya.
"Iya Pak, nak Ardi sudah meminta ijin padaku, ayo nak masuk ke dalam dulu", seru Karsiti tersenyum ramah.
Karena Ardi melihat amarah diwajah juragan Suripto, dia memutuskan untuk langsung pulang saja, lalu dia berpamitan pada mereka dan bergegas pergi dari sana, nampak Larasati melangkahkan kaki nya ke dalam rumah, tapi juragan Suripto menghentikan nya, dan memperingatkan Larasati untuk berhati-hati dengan Ardi.
"Begini Laras, bukan nya aku ingin melarangmu dekat dengan nya, tapi kau belum lama mengenalnya, aku tidak mau hal-hal yang buruk terjadi lagi padamu, karena itulah aku harap kau bisa menjaga diri lebih baik lagi, aku harap kau tidak salah paham dengan ucapanku ya Ras", ucap juragan Suripto bersandiwara.
Sebenarnya aku tidak perduli kau mau dekat dengan siapapun, aku hanya tidak ingin kau jatuh hati dengan lelaki lain lagi, setelah mantan kekasihnu itu pergi meninggalkanmu, bisa saja kau dekat dengan lelaki muda tadi, sebelum aku bisa memikatmu tidak akan aku biarkan kau dekat dengan lelaki lain, karena itu akan mempersulit tujuanku, batin nya sangat kesal.
Setelah itu Larasati menjelaskan pada ayah tirinya itu, jika mereka hanya berteman saja, karena hatinya sampai saat ini hanya untuk Adinata, dan dia tidak berniat membuka hati untuk lelaki lain, lalu Karsiti memeluk anak perempuan nya, dan mengatakan jika Larasati harus melupakan Adinata, karena mereka tidak bisa bersama lagi, setelah orang tua Adinata menjodohkan nya dengan gadis lain.
"Bukan karena itu bu, sebenarnya hati mas Adinata hanya untukku, tapi memang keadaan sudah tidak memungkinkan untuk kami bersama, ada pembatas yang sangat tebal di antara kami, meski aku tau kami tidak mungkin bersama, entah kenapa aku tidak bisa melupakan nya bu", jelas Larasati dengan berlinang air mata.
"Sudah yo nduk, yang sabar yang ikhlas, semoga gusti Alloh menunjukan jalan yang benar untukmu, jika memang Adinata berjodoh denganmu, bagaimanapun caranya dia akan kembali bersamamu, jika tidak kau akan menemukan pengganti yang jauh lebih baik darinya", ucap Karsiti dengan memeluk anaknya seraya mengusap air mata Larasati.
Dengarkan saja kata ibumu yang bodoh itu, jodoh yang lebih baik untukmu itu adalah aku Ras, secepatnya kau akan menjadi Nyonya Suripto, setelah aku melenyapkan nyawa ibumu, dan memiliki semua aset kekayaanmu, batin juragan Suripto tersenyum licik.
Namun tiba-tiba Umar masuk ke dalam ruang tamu, dan mengagetkan lamunan juragan nya, nampak dia berjalan menghampiri juragan Suripto dan membisikkan sesuatu.
...Yuk kak dukung Author dengan memberikan Vote dan hadiahnya, jangan lupa ya aku tunggu dukungan dari kalian semua, tekan tombol favorit untuk mendapatkan update terbaru dariku ya 🤗...
...Bersambung....