
Kraakk...
Umar menjerit histeris, matanya berurai air mata, melihat darah yang menyembur dari pergelangan tangannya yang sudah terputus, nampak tangan itu masih bergetar, dengan jari-jemari yang bergerak-gerak, meski pergelangan tangannya telah putus.
Karena terbawa amarah yang teramat besar, Larasati tidak sadar jika pagi akan segera tiba, lalu terdengar suara adzan subuh, Larasati memekik dengan menutupi kedua telinganya, seluruh tubuhnya terasa panas seperti terbakar, dia baru sadar, jika raganya telah dirasuki jiwa Kanjeng Ratu Ageng Sedo, sehingga tubuhnya merasa kepanasan ketika mendengar ayat-ayat suci itu, akhirnya dia membalikan tubuhnya, meninggalkan Umar yang masih terus menjerit kesakitan. Larasati melesat pergi memasuki hutan belantara yang paling dalam.
Beberapa saat kemudian, jalanan itu mulai ramai lalu lalang kendaraan, beberapa warga membawa hasil ladang dan kebun nya ke Kota, mobil pick up melewati tubuh Umar yang tergeletak di pinggir semak-semak yang tertutup ilalang, sebuah bola mata dan daun telinga terlindas hancur oleh beberapa kendaraan yang melintas, terlihat beberapa warga desa pergi ke lahan pertanian nya, yang letaknya melewati pinggiran hutan belantara itu, pak Marno terbelalak melihat seorang lelaki dengan darah yang membasahi seluruh wajahnya. "Ma mayaatt, tolong... Ada mayat!" seru pak Marno ketakutan.
Beberapa pengguna jalan menghentikan laju kendaraan, mereka menghampiri pak Marno yang sedang berdiri gemetar di dekat semak-semak. Semua orang makin panik setelah mengetahui apa yang dilihat Pak Marno, mereka melihat kondisi Umar yang tidak sadarkan diri, dan mengira jika dia telah tewas, tapi seorang warga yang mengenal lelaki itu memastikan, jika Umar masih bernafas, lelaki itu bergegas membawa Umar ke rumahnya dengan mobil yang dikemudian Umar. "Tolong bantu saya membawanya ke mobil hitam itu, saya akan membawanya ke rumahnya, takut kenapa-kenapa jika dibawa ke Rumah Sakit, mengingat kondisinya sangat parah." Lelaki itu mengemudikan mobil dan membawa Umar ke rumahnya.
Rumah kecil Umar terlihat ramai, beberapa aparat Desa datang kesana, sebagian warga datang karena penasaran, namun sebagian lagi malah sibuk bergunjing.
Hayati menatap sendu suaminya dengan mata berkaca-kaca, kabar tentang Umar yang ditemukan pagi tadi di pinggiran hutan, dengan kondisi yang memperihatinkan, membuat hati Hayati semakin tersayat. Sebelah mata Umar nampak bolong, dan yang sebelahnya lagi terbuka tapi tatapannya kosong, seluruh tubuhnya seperti mati tidak bisa digerakkan, namun Umar masih hidup dan bernafas normal.
Dokter dari Puskesmas datang untuk memeriksanya, dia menjelaskan jika Umar mengalami syok berat, sehingga mentalnya terganggu.
Meski Larasati belum sempat merobek mulut Umar, nampak mulut lelaki itu terus menganga lebar, karena guna-guna yang diberikan Larasati dari kedalaman hutan, supaya Umar tidak bisa berkata apapun tentang dirinya, yang membuat Umar menjadi seperti mayat hidup, nampak air liur Umar selalu mengalir dari mulutnya, dan tercium aroma busuk dari dalam mulut yang terbuka itu.
Semua orang terlihat jijik ketika berada di dekat Umar, sehingga mereka menjaga jarak, karena tidak tahan dengan aroma busuknya.
"Apa yang terjadi padamu mas?," Pekik Hayati terisak dengan membelai kepala Umar, perempuan itu tidak berdaya melihat kondisi suaminya.
Semakin siang, kabar tentang ditemukannya Umar di pinggir hutan dengan kondisi yang mengenaskan semakin tersebar luas, melihat kondisi Umar yang aneh itu membuat berbagai kesimpulan, beberapa warga mengaitkan nya dengan keangkeran hutan itu, semua warga negara percaya jika Umar telah melanggar pantangan yang terlarang, sehingga penduduk gaib di hutan itu merasa terganggu dan mengambil jiwa manusia nya, karena semua warga desa masih mempercayai mitos-mitos macam itu, sehingga topik itu langsung beredar luas sampai ke Desa sebelah.
"Mbah Dul, apakah kita harus memberikan sesajen di hutan, sebagai tolak balak supaya bangsa gaib tidak semakin meresahkan, kami takut dengan kemarahan penunggu hutan, yang telah diganggu Umar, Mbah." Seru beberapa warga Desa dengan wajah cemas.
"Dulu peristiwa tragis hampir terjadi di Desa kita, karena ada seorang pemuja iblis yang ingin menumbalkan manusia, untung saja ada sesepuh Desa Rawa Belatung yang membantu kita terbebas dari tragedi itu." Seru Agus tetangga sebelah rumah Umar.
Seketika semua warga terdiam termasuk Mbah Dul yang hanya menghela nafas panjang, tidak ada yang berani mengeluarkan pendapat. Keheningan membuat mereka mengingat kembali tragedi tiga tahun silam, peristiwa itu masih meninggalkan trauma di ingatan mereka.
"Lebih baik kita kembali ke rumah masing-masing, biarkan Umar istirahat dengan tenang, dan Hayati dapat mengurusi suaminya, kita tidak perlu mengingat tragedi yang sudah berlalu, semoga saja, kejadian yang di alami Umar tidak ada hubungannya dengan tragedi di masa lalu kita bantu doa supaya Umar lekas sembuh." Ucap Mbah Dul seraya berpamitan dengan Hayati.
Akhirnya semua orang meninggalkan rumah itu, nampak Hayati semakin pilu setelah mendengar keresahan warga tentang kondisi suaminya.
Kabar tentang kondisi Umar yang mengenaskan akhirnya sampai ditelinga Juragan Suripto, lelaki itu sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Bukankah semalam aku meminta Umar untuk menjemput Larasati, apakah mungkin semua ini karena perbuatan Larasati, memang semalam perempuan itu tidak datang ke acara empat bulanan ibunya, jangan-jangan kecurigaan ku memang benar, lebih baik aku pergi ke rumah Umar, untuk memastikannya, jika memang Larasati yang telah melukainya, berarti dia sudah tau semuanya, batin Juragan Suripto dengan mengerutkan keningnya.
Karsiti menghampiri suaminya dengan berjalan terburu-buru, dia mengatakan tentang kekhawatiran nya tentang Larasati, yang tidak bisa dihubungi sejak semalam.
"Mas tolong carilah Larasati, sudah dari semalam dia tidak ada kabar, bahkan Umar yang kau perintah untuk mencarinya, ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan, jangan-jangan Larasati semalam bersamanya mas, dan sesuatu terjadi padanya." Pekik Karsiti berderai air mata.
Kau tidak tau saja, jika anakmu itu sudah bersekutu dengan iblis, mana mungkin ada sesuatu yang bisa mencelakai nya, batin Juragan Suripto didalam hatinya.
Juragan Suripto mendekap Karsiti berusaha memenangkan nya, satu yang pasti, jika Larasati sampai datang menemuinya, Juragan Suripto akan sangat ketakutan, karena dia belum mendapat kejelasan dari Umar.
"Aku keluar sebentar ya Bu, banyak yang harus ku cari tau, bagaimana bisa Umar ditemukan dengan kondisi seperti itu, jika itu adalah tindakan kriminal, kenapa tidak ada barang berharga yang hilang, pasti ada motif lain dibalik tragedi itu." Selidik Juragan Suripto dengan mengerutkan keningnya.
...Bersambung....