
Di sebuah Rumah Sakit nampak seorang perempuan tua menangis histeris memanggil Dokter, karena tiba-tiba seluruh tubuh anaknya bergetar kencang, Dokter segera memberi penanganan. Kondisi Awan saat itu sedang kritis, dia sedang berjuang antara hidup dan mati.
Jiwanya melesat pergi dari raganya, tapi tubuhnya yang terbaring di atas ranjang masih bernafas, meski nafasnya sangat berat, dan detak jantungnya sangat lemah.
Di kegelapan malam jiwa Awan melesat menuju alam lain, dia membaur dengan mkhluk gaib yang tinggal negeri antah berantah itu, meski dia hanya jiwa tanpa raga, tapi auranya berbeda dengan makhluk tak kasat mata lainnya. Di sebuah istana megah yang memiliki ornamen dengan hiasan batu berlian yang berkilau, nampak sepasang Raja dan Ratu duduk bersama di atas singgasana, banyak tamu-tamu penting yang datang untuk memberikan selamat. Awan mencari sosok Adinata, dia ingin menitipkan Larasati untuk yang terakhir kalinya. Matanya memandang ke segala arah, mengamati satu persatu makhluk yang ada disana, dan matanya tertuju pada Raja yang berada di atas singgasana, nampak aura kesedihan dari raut wajahnya. Beberapa tamu memberikan hadiah atas naiknya tahta sang Raja dan Ratu dunia gaib itu. Kanjeng Ratu Ageng Sedo menatap pasangannya yang terlihat murung.
"Kangmas ini adalah hari yang bahagia untuk kita, karena kau telah naik tahta menggantikan romo ku sebagai penguasa alam kegelapan ini, tapi wajahmu tidak menunjukkan kebahagiaan sama sekali." Kanjeng Ratu Ageng Sedo memandang Adinata yang teetunduk dengan wajah sendu.
"Aku tidak membutuhkan tahta ini, aku ingin kembali ke alam ku yang sebenarnya, karena tempatku bukanlah di alam ini." Adinata menatap Kanjeng Ratu dengan tatapan nanar.
Adinata melesat turun dari singgasana nya, dia mengambil cawan air untuk melepaskan dahaganya, Awan bergegas melesat mendekati Adinata. "Bisakah kita berbicara empat mata, ada yang ingin ku sampaikan padamu tentang Larasati." Ucap Awan lirih.
"Siapa kau, sepertinya kau bukan berasal dari alam ini?." Tanya Adinata penasaran.
"Aku sama seperti dirimu, tapi sebentar lagi aku akan menjadi seperti mereka yang tidak bernyawa, mari berbicara di tempat yang sunyi, aku tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan kita." Jelas Awan seraya melesat menjauhi keramaian pesta itu.
Tak mau gegabah begitu saja, Adinata melihat keadaan di sekitarnya, dia tidak ingin Ageng Sedo mengetahui jika dia akan meninggalkan hingar bingar perayaan pesta. Nampak Ageng Sedo sedang berbincang dengan para sesepuh alam gaib, dengan begitu Adinata bisa leluasa pergi dari sana. Dia melesat ke sebuah curug di belakang istana besar, disana sudah ada Awan yang berdiri mengambang menunggu kedatangannya.
"Aku mengetahui tentang mu dari Larasati, dia masih sangat mencintaimu, tapi takdir kalian begitu tragis, demi saling menyelamatkan jiwa yang kalian kasihi, kalian mengorbankan perasaan satu sama lain. Satu yang akan ku minta darimu, kepercayaan, apakah kau bisa memberikan itu padaku, aku tau hidupku di dunia tidak akan lama lagi, karena aku sudah melihat malaikat kematian datang beberapa kali. Jujur saja, aku belum rela mati meninggalkan dunia ini, karena Ibuku sudah terlalu tua dan hidup sebatang kara di kampung. Aku adalah anak satu-satunya yang diharapkannya dapat mengurusnya sampai ajal menjemputnya, tapi apalah dayaku, jika ternyata takdir tak berpihak padaku, ini adalah hari terakhirku di dunia, bisakah kau menggantikan ku mengurus Ibuku, gantikan posisiku untuk merawatnya di hari tuanya. Dan satu lagi yang harus kau tau, aku juga mencintai Larasati, tapi dia belum memiliki perasaan yang sama padaku, dengan kau menggantikan posisi ku, kau masih bisa menjaga nya juga." Jelas Awan dengan wajah sendu.
...Bersambung....