Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Penemuan mayat di gudang terbengkalai.


Keesokan hari nya seorang lelaki yang biasa mencari rumput untuk pakan ternak nya, berjalan menyusuri gudang terbengkalai itu, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat dua orang manusia tergeletak di dalam gudang kosong, lelaki itu berlari menghampiri kedua nya, nampak lelaki itu membulatkan kedua matanya, menatap sesosok jazad lelaki yang bersimbah darah di atas perut nya, dan disamping jazad itu ada seorang perempuan yang bersimbah darah diatas kepala nya, tapi perempuan itu masih menghembuskan nafas nya, karena sangat panik dan tidak tau harus berbuat apa, lelaki itu berlari meninggalkan tempat itu, untuk mencari bantuan pada penduduk sekitar, dan setelah dia mendapatkan bantuan dari warga terdekat, beberapa warga lain nya mengikutinya, datang ke gudang terbengkalai itu.


Sesampainya mereka di tempat itu, semua orang nampak terkejut dengan apa yang terjadi disana, beberapa dari mereka menghubungi ambulance dan juga polisi, setelah ambulance datang nampak Larasati digotong masuk ke dalam mobil ambulance itu, sedangkan polisi yang baru saja tiba bergegas memasang garis polisi berwarna kuning di sekitar tempat kejadian perkara, satu saksi yang pertama kali mengetahui kejadian itu, dimintai keterangan tentang apa yang dilihatnya, dan dia mengatakan jika kejadian itu sudah terjadi sebelum dia datang.


"Sepertinya kejadian itu sudah terjadi beberapa jam yang lalu pak, ketika aku melihat jazad itu, darah nya sudah mengering, dan gadis itu juga tergeletak disamping jazad yang sudah kaku, saya sama sekali tidak tau apa-apa pak." jelas lelaki itu ketakutan.


"Baiklah pak setelah ini, bapak harus ikut bersama kami ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan yang lebih lanjut." tegas seorang petugas kepolisian.


Kemudian team forensik datang untuk mengidentifikasi jazad itu, setelah semuanya selesai dilakukan menurut prosedur yang berlaku, jazad itu segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan nya autopsi, nampak team forensik memberikan identitas jazad itu pada pihak kepolisian.


Sementara di rumah juragan Darman, nampak istrinya Karsiti sudah semalaman tidak tidur, karena suami dan anak gadisnya tidak ada kabar dari semalam, sejak semalam perempuan itu tidak memejamkan matanya sama sekali, hati nya sangat gelisah menantikan kepulangan suami dan anak tercinta nya.


"Jo tolong pergilah ke kota, cari tau dimana suami dan anakku berada, sejak tadi malam mereka tidak dapat ku hubungi." seru Karsiti meminta Parjo sang sopir untuk mencari info.


Nampak Parjo mengemudikan mobil juragan nya, lelaki itu nampak kelimpungan mencari tau dimana keberadaan keluarga juragan nya, dia mencari sampai ke rumah-rumah teman seprofesi juragan nya, tapi Parjo tidak mendapatkan informasi apapun, sampai pada akhirnya dia lelah dan berhenti di sebuah warung kopi, nampak beberapa orang bercerita tentang penemuan mayat di gedung terbengkalai, mereka mengatakan jika salah satu korban nya seorang perempuan dan masih hidup, dengan rasa penasaran yang besar, Parjo memberanikan diri menanyakan pada pengunjung warung kopi itu, mereka mengatakan pada Parjo jika keduanya dibawa ke rumah sakit, tapi mobilnya masih berada di gudang itu, sedang menunggu untuk di derek ke kantor kepolisian.


"Memangnya bapak kenal dengan korban itu?." tanya seorang lelaki muda yang menjawab pertanyaan Parjo.


"Saya sedang diminta juragan untuk mencari suami dan anak gadisnya, sejak semalam mereka tidak bisa dihubungi, karena itu lah saya mencoba mencari tau kejelasan nya." jawab Parjo pada semua orang.


Tapi tiba-tiba Parjo menerima panggilan telepon dari Karsiti, juragan perempuan nya itu menangis histeris dan meminta dirinya untuk kembali ke rumah secepatnya, dan setelah menutup panggilan telepon itu, Parjo bergegas mengemudikan mobil kembali ke rumah juragan nya, terlihat Parjo sengaja melewati jalan pintas untuk segera sampai di rumah juragan nya, dan ketika Parjo melewati gudang terbengkalai yang dimaksud pengunjung warung kopi tadi, Parjo menghentikan laju mobil itu mendadak, dia segera turun dari mobil itu, untuk memastikan mobil warna merah yang diderek itu adalah mobil yang biasa dipakai anak juragan nya.


Astagfirullohaladzim mobil merah itu plat nomor nya seperti milik mbak Larasati, gumam Parjo pada dirinya sendiri dengan jantung yang berdegup kencang.


Setelah memastikan mobil yang dilihatnya adalah milik anak juragan nya, Parjo memacu laju mobil itu supaya cepat sampai di kediaman juragan nya.


Tapi sesampainya di pagar depan rumah juragan nya, nampak juragan perempuan itu sedang berdiri dengan menangis tersedu-sedu, Parjo yang ingin mengatakan segalanya pada Karsiti, nampak ragu karena tidak tega untuk menyampaikan berita buruk itu.


"Jo tadi ada yang menghubungi ponselku, dia memberi kabar jika suami dan anakku ada di rumah sakit, sepertinya mereka mengalami kecelakaan, tapi orang itu tidak memberitau ku apa yang sebenarnya terjadi, orang itu hanya memintaku untuk datang ke rumah sakit Bina sehat, ayo Jo cepat antarkan aku kesana sekarang juga." tukas Karsiti berderai air mata.


Aku tidak mungkin mengatakan segalanya pada juragan Karsiti, mungkin lebih baik jika dia mengetahuinya sendiri, batin Parjo didalam hatinya.


Setelah sampai di rumah sakit Bina sehat, nampak Parjo menawarkan diri untuk menemani juragan Karsiti masuk ke dalam rumah sakit itu, tapi juragan nya meminta Parjo untuk tetap di mobil saja, dan Parjo yang tidak bisa membantah perintah juragan nya, terpaksa menuruti perintah Karsiti.


Sebenarnya aku tidak tega melihat juragan Karsiti, pasti dia akan sangat terkejut ketika melihat keadaan suami dan anak nya, entah bagaimana kondisi mbak Larasati sekarang, batin Parjo dengan wajah sendu.


Sementara itu Karsiti sudah sampai di lobby rumah sakit, terlihat beberapa petugas polisi datang menghampirinya, ketika mengetahui jika dia datang mencari suami dan anak gadisnya.


"Permisi selamat pagi bu, apakah ibu ini keluarga dari bapak Darman sudirotedjo?." tanya polisi itu pada Karsiti.


"Iya pak saya istri nya, ada apa dengan suami dan anak saya pak huhuhu." jawab Karsiti terisak.


Kemudian polisi itu memberikan penjelasan pada Karsiti, jika saat ini kondisi anak gadis nya sedang kritis di IGD, karena benturan dikepala nya, dan ada sedikit luka dibeberapa bagian tubuhnya.


"Untuk lebih jelasnya ibu bisa bertanya langsung dengan dokter yang merawatnya." ucap polisi itu.


"Lalu dimana suami saya pak bagaimana keadaan nya." seru Karsiti yang berlinang air mata.


Nampak polisi itu menundukan kepalanya, dia mengatakan pada Karsiti jika suami nya sudah meninggal dunia, suami nya tiada di tempat kejadian perkara, karena ada seseorang yang menusuk perutnya.


"Tidaaak huhuhu... Bapak huhuhu... Ini tidak mungkin terjadi kan pak, suamiku itu orang yang sangat baik, siapa yang tega menusuknya huhuhu." pekik Karsiti berderai air mata pilu.


Karena tidak kuasa menerima kenyataan yang ada, akhirnya Karsiti jatuh pingsan di lorong rumah sakit itu.


*


*


...Bersambung....