Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Karma itu ada.


Berbekal pengakuan yang dilontarkan Juragan Suripto, Petugas Polisi memberikan pengakuan itu untuk dilaporkan pada Komandan nya. Meski persidangan Juragan Suripto sudah dilakukan. Lelaki itu dirawat di Rumah Sakit dengan tangan terborgol, ia sangat cemas seakan ajal akan menjemputnya. Berulang kali Juragan Suripto meminta Petugas untuk menemaninya di dalam, ia benar-benar takut jika Larasati datang untuk mencabut nyawanya.


Di lain tempat, nampak Karsiti sedang duduk di atas ranjang kamarnya. Perutnya terasa mulas, air ketuban nya membasahi lantai. Beberapa pembantu di rumah terkejut dan segera membawanya ke Rumah Sakit.


"Jo Parjo, tolong segera bawa Juragan ke Rumah Sakit. Sepertinya beliau akan melahirkan hari ini!" seru Mbok Trinem dengan wajah panik.


"Tapi Mbok, siapa yang akan menjadi penjamin di Rumah Sakit. Mbak Larasati sedang tak ada di rumah, aku tak tahu apapun mengenai persyaratan yang harus dibawa." tukas Parjo kebingungan.


"Itu urusan belakangan aja Jo, yang penting Juragan segera mendapatkan penanganan."


Setelah itu Parjo bersama Mbok Trinem segera membawa Karsiti ke Rumah Sakit. Karena keadaan sangat mendesak, langsung dilakukan tindakan di Ruang bersalin.


Proses persalinan berlangsung dengan keadaan tegang. Karena saat itu kondisi tubuh Karsiti sedang lemah, ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Nampak raut wajah Mbok Trinem sangat cemas, ia takut terjadi apa-apa pada Juragan nya.


"Jo segera hubungi Mbak Larasati, aku takut terjadi apa-apa pada Juragan." perintah Mbok Trinem dengan menundukkan kepalanya.


"Gak usah disuruh Mbok. Dari tadi aku sudah berusaha menghubungi ponsel Mbak Laras, tapi gak ada satupun panggilan yang terhubung."


Terlihat keduanya makin cemas, mereka berjalan mondar-mandir di lorong Rumah Sakit itu. Lalu Mbok Trinem meminta Parjo menemui Awan di rumahnya.


"Kau tahu rumahnya Mas Awan kan Jo? bukankah kau pernah mengantarkannya pulang? cepat jemput Mas Awan, dan minta ia datang kesini. Setidaknya ada Mas Awan yang akan membantu kita mengatasi masalah ini. Biar ada yang menjadi penjamin Jo." ucap Mbok Trinem, membuat Parjo ikut panik dan cemas.


"Sebenarnya ada apa to Mbok? kok kayaknya panik banget to? aku jadi ikutan takut loh ini!" seru Parjo.


"Entahlah Jo, firasatku tak enak saja. Cepat jemput Mas Awan, semoga semuanya baik-baik saja."


Akhirnya Parjo mengemudikan mobil ke rumah Awan. Sesampainya disana, Awan sedang mengajari anak-anak mengaji. Ia terkejut mendengar kabar jika Karsiti akan melahirkan.


"Larasati kemana Pak? kenapa kau sampai jauh-jauh kesini?" tanya Awan dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Parjo menjelaskan dengan raut wajah cemas, ia mengatakan jika Larasati tak tahu dimana, dan ia tak dapat dihubungi. Karena tak tahu mau minta tolong pada siapa, Parjo terpaksa datang ke rumahnya.


"Jangan-jangan Larasati pergi menemui Kanjeng Ratu Ageng Sedo, padahal saat ini Ibunya sedang membutuhkannya." batin Awan di dalam hatinya.


Setelah bersiap, Awan segera pergi bersama Parjo. Disepanjang perjalanan Awan berusaha menghubungi Larasati berkali-kali, tapi tak ada jawaban sama sekali. Awan sangat resah, hawatir jika Larasati akan melanjutkan dendamnya. Karena Awan sudah berpesan sebelum menyerahkan raganya, untuk menuntun Larasati kembali ke jalan yang benar.


Dret dret dret.


Ponsel Parjo bergetar, nampak panggilan telepon dari Mbok Trinem. Segera Parjo menerima panggilan telepon itu, dan ia sangat terkejut mendengar kabar jika Juragannya kritis dan kehabisan darah.


"Dokter meminta pendonor Jo, bagaimana ini? aku gak tahu apa-apa, kalau saja aku bisa memberikan darahku untuk Juragan." kata Mbok Trinem dengan terisak.


Awan merasa semakin cemas setelah melihat ekspresi wajah Parjo, ia menanyakan apa yang dikatakan Mbok Trinem barusan. Dengan wajah sendu Parjo menjelaskan jika sang Juragan sedang kritis, dan membutuhkan donor darah.


"Bagaimana ini Mas? saya terjadi apa-apa dengan Juragan. Karena sebelumnya beliau memang sedang tidak sehat, tapi takdir berkata lain, beliau mengalami kontraksi dan air ketuban nya sudah pecah."


"Tenang Mas Parjo, kita harus banyak berdoa. Semoga semua baik-baik saja, saya akan segera mencari pendonor untuk beliau. Dan apabila darah saya cocok, saya akan mendonorkan darah saya." kata Awan dengan memijat pangkal hidungnya.


Sesampainya di Rumah Sakit, keadaan nampak tegang. Beberapa perawat berlarian ke sebuah ruangan. Mereka terlihat cemas, ada yang membawa baskom berisi air, ada juga yang berlari mengambil alat-alat medis. Nampak Mbok Trinem menangis sesegukan di sudut ruangan, ia mengatakan jika hanya salah satu saja yang bisa diselamatkan. Awan dan Parjo saling menatao, keduanya terlihat benar-benar cemas.


"Dok, saya akan mendonorkan darah. Tolong selamatkan keduanya." pinta Awan berteriak dari luar ruangan.


Tak ada jawaban dari dalam sana, kini Awan duduk dengan lemas di lantai. Dengan harapan terakhirnya bisa menyelamatkan keduanya tak dapat kepastian. Awan bertekad pergi ke Hutan Larangan untuk mencari Larasati, ia tak dapat tinggal diam melihat keadaan Ibu dari perempuan yang dicintainya sekarat.


"Mbok, saya akan pergi mencari Larasati. Jika ada apa-apa dengan Ibu, segera minta Parjo untuk menghubungi saya." jelas Awan sebelum meninggalkan Rumah Sakit.


Awan segera memesan ojol sampai ke pinggiran kota. Disana terletaknya Hutan wingit yang sangat ditakuti orang. Nampak Driver ojol ketakutan, ia meyakinkan penumpangnya jika di Hutan itu sangat berbahaya.


"Memangnya tujuan Kakak kesana untuk apa? saya hawatir Kakaknya kenapa-kenapa." Driver ojol memperingatkan Awan terus menerus.


"Saya ingin mencari kekasih saya Pak, sepertinya ia berada disana. Jika saya gak segera menemukan nya, saya hawatir dia akan menyesal seumur hidupnya."


"Hutan itu kan tempatnya orang nyari ilmu dan sebagainya Kak. Memangnya pacar Kakak mau nyari apa disana?" tanya Mas ojol dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Entahlah Pak, mungkin ia sedang tersesat saat ini. Saya harus segera menemukan nya, terima kasih sudah mengingatkan."


"Kak saya hanya berani mengantar sampai sini aja, semoga urusannya Kakak lancar ya."


Setelah membayar ongkos ojek online itu, Awan bergegas masuk ke pedalaman Hutan wingit itu. Terdengar suara-suara binatang malam bersahutan. Jarak pandang disana sangat terbatas, karena kabut tebal menghalangi pandangan matanya. Awan kebingungan mencari keberadaan Goa tempat Larasati biasa bertapa. Nampak siluet bayangan di atas pepohonan, tapi iman Awan tak goyah sama sekali. Ia tak memperdulikan berbagai penampakan yang terlihat malam itu. Kakinya terus melangkah menembus rerimbunan pohon besar. Dari kejauhan nampak sebuah gubuk dengan cahaya yang temaram.


"Sepertinya ada yang tinggal disana, aku harus menemuinya dan bertanya dimana letak Goa itu." gumam Awan pada dirinya sendiri.


Whuusd.


Angin dingin menerpa belakang lehernya, Awan membalikkan tubuhnya, dan ia terkejut melihat sosok yang ada dibelakang nya.


"Si siapa kau?" ucap Awan dengan jantung yang berdegup kencang.


...Bersambung. ...


...Maaf agak tersendat ya, sebisa mungkin othor aku melanjutkan novel ini. Mohon dukungan dan semangatnya ya, Terima kasih 😘💕...