
Juragan Suripto sampai di rumah mbak Warno, dia mengatakan segala kekhawatiran nya, lalu dukun itu menerawang melalui batinnya, dan dia melihat amarah besar pada sosok gaib yang bersemayam ditubuh Larasati.
"Kau bertindak ceroboh lagi, untuk apa kau menculik gadis itu, dia sedang melakukan ritualnya, dan kau lancang mengganggu ritual itu, salah-salah sosok gaib itu akan menaruh dendam padamu, kau melakukan rencana disaat yang tidak tepat," ucap mbah Warno seraya membakar dupa yang ada didepannya.
"Aku tidak sengaja melakukannya mbah, aku hanya takut jika dia berhasil melakukan ritualnya, dan sosok gaib itu akan mencelakai ku, karena itulah aku nekat menculiknya."
"Meski kau telah menculiknya, usahamu tidak akan ada hasilnya, karena sosok gaib itu telah membebaskannya, semua anak buahmu telah tewas, beruntung kau tidak berada disana, kalau tidak, kau pun tidak akan lepas dari amarahnya."
Nampak Juragan Suripto menghembuskan nafasnya panjang, dia bersyukur karena terlepas dari amukan sosok gaib yang dibicarakan mbah Warno.
"Meski sekarang kau telah terbebas darinya, kelak kau akan merasakan murkanya, karena kau telah mengganggu acara ritualnya."
"Apa yang harus ku lakukan mbah? aku tidak ingin mati sia-sia begitu saja."
"Karena kau sudah membantuku memiliki seorang istri muda, aku akan berusaha menyelamatkan nyawamu, tapi kau harus berhati-hati dan jangan gegabah lagi, jangan pernah bertatapan mata lagi dengan Larasati, karena dia akan melihat kilasan balik saat kau menculiknya di hutan, ritual yang dilakukannya sudah selesai, tinggal menunggu waktu saja untuk menemukanmu, kau akan binasa sama seperti anak buahmu yang lainnya, jika kau tak menuruti ucapanku."
Di lain tempat Larasati sedang mengemudikan mobilnya, nampak Awan mengejarnya dengan sepeda motornya, apesnya Sadam mengejarnya dengan meminjam motor temannya yang kebetulan bekerja di penginapan, Sadam memepet motor Awan, hingga motornya terserempet mobil pick up yang ada di sampingnya, sontak saja motor yang dikendadai Awan oleng dan terjatuh ke jalan raya yang padat lalu lintas, kecelakaan pun tidak dapat dihindarkan, tubuh Awan terpental setelah berhasil bangun dan ingin meminggirkan motornya, dia tersenggol kendaraan lain yang melaju kencang, hingga tubuhnya membentur badan jalan dengan kepala yang terbentur ke jalan, dia tidak sadarkan diri dengan luka di sekujur tubuhnya, nampak Sadam terkejut melihat kondisi Awan yang sangat parah, seketika jalanan menjadi macet, dan membuat Larasati tidak dapat bergerak ke depan, dia keluar dari mobilnya untuk melihat keramaian apa yang terjadi di belakangnya.
Kedua matanya tertuju ke sebuah motor yang tidak asing baginya, iya, itu adalah sepeda motor milik Awan, Larasati yang panik bergegas menghampiri kerumunan orang itu, betapa terkejutnya setelah mengetahui Awan sedang tergeletak dengan sekujur tubuhnya yang luka-luka, dia pun memandang ke segala arah, dan Larasati melihat Sadam dengan wajah ketakutan terburu-buru pergi dari sana.
Jangan-jangan kecelakaan ini terjadi karenanya, batin Larasati dengan wajah cemas.
"Pak tolong segera hubungi ambulance, ini teman saya Pak, tolong saya," seru Larasati dengan mata berkaca-kaca.
Polisi lalu lintas pun datang untuk mengatur jalan, Ambulance sudah bersiap membawa Awan ke Rumah Sakit, Larasati tidak bisa langsung menemani Awan, karena saat itu dia sedang dimintai keterangan oleh Polisi, lalu dia menceritakan kecurigaan nya tentang Sadam, karena sudah beberapa kali keduanya terlibat persebatan.
"Tadi saya melihat Sadam di tempat ini juga Pak, dia pergi terburu-buru setelah saya melihatnya di tempat ini, bisakah dilihat melalui CCTV yang ada, jujur saja saya memang mencurigainya Pak," jelas Larasati dengan mengerutkan keningnya.
Kemudian pihak kepolisian mempersilahkan Larasati untuk pergi, lalu dia segera menyusul Awan ke Rumah Sakit, Perawat memberitahu jika kondisi Awan sedang kritis di IGD, dia kehilangan banyak darah akibat benturan keras dikepalanya, golongan darah Awan termasuk berjenis langka yaitu AB+, sehingga tidak banyak stok darah yang dimiliki disana, Dokter meminta Larasati untuk mencari di PMI atau donor dari orang-orang terdekatnya, nampak Larasati sangat cemas memikirkan kondisi Awan, dengan menangis tersedu-sedu dia menghubungi ibunya dan menceritakan segalanya, teringat oleh Karsiti, jika suaminya Suripto memiliki golongan darah yang sama dengan Awan, mengingat dulu Awan pernah menolongnya, Karsiti menghubungi suaminya itu untuk segera pulang.
Juragan Suripto yang baru saja sampai di rumah, nampak tercengang mendengar permintaan istrinya, dia diminta mendonorkan darah untuk teman lelaki Larasati.
Dengan terpaksa juragan Suripto menerima keinginan istrinya, mereka segera pergi ke Rumah Sakit untuk mendonorkan darahnya, meski Larasati tidak memiliki perasaan pada Awan, dia sangat perduli padanya, Larasati menghampiri ayah tirinya dan mengucapkan terimakasih berkali-kali, dengan menundukkan kepalanya juragan Suripto hanya bisa terdiam mulutnya seakan kelu berhadapan langsung dengan Larasati, dia baru percaya jika gadis itu memiliki sosok gaib didalam tubuhnya, terdengar di batin nya jika Kanjeng Ratu Ageng Sedo mengatakan sesuatu padanya, akan tiba hari pembalasan yang sudah dinantikan nya.
Dimalam jumat kliwon, tepat jam dua belas tengah malam, datanglah ke air terjun tanpo rogo, lakukan ritual seperti biasanya, aku akan memberitahu mu siapakah pelaku kejahatan yang belum terungkap sampai saat ini, suara Kanjeng Ratu didalam batin Larasati.
Terlihat Larasati menghembuskan nafasnya panjang, nampak wajah yang sendu berubah sedikit cerah, dia memeluk erat ibunya seraya mengatakan jika semua dukanya akan segera berakhir, Karsiti menatap wajah anaknya dengan serius, dia bertanya apa yang dimaksudnya dengan duka yang akan berakhir.
"Sebentar lagi ibu akan mengetahuinya, semua penderitaan kita akan terbayarkan, penjahat-penjahat itu akan menerima ganjarannya."
Apa yang dimaksud Larasati, dia akan membunuhku juga, batin juragan Suripto dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.
"Lho bapak kenapa berkeringat begini, ayo duduk dulu, apa mau langsung pulang saja, sepertinya bapak kehilangan banyak darah setelah donor tadi."
"Aku tidak apa-apa bu, oh iya bu aku ada urusan sebentar, kau bisa pulang bersama Larasati kan, karena Umar harus mengabtarku ke gudang."
"Malam-malam kok ke gudang lagi ada apa to pak?."
"Biasalah bu, ada pengiriman yang bermasalah, nanti aku akan mampir ke apotik untuk membeli obat penambah darah."
Kemudian juragan Suripto menemui Umar di parkiran, dia mengatakan kekhawatiran nya tentang ucapan Larasati tadi.
"Mar apakah kau percaya dengan kesaktian mbah Warno?."
"Memangnya ada apa to Pak, kok sepertinya hawatir sekali."
"Tadi mbah Warno sempat berkata padaku, jika ritual yang dilakukan Larasati akan segera selesai, itu artinya, dia akan segera mengetahui jika aku adalah dalang dibalik semua kejahatan yang menimpanya, aku tidak ingin mati seperti mereka semua Mar."
"Ta tadi saya sudah kembali ke tempat penyekapan, ternyata semua orang memang sudah tewas juragan," ucap Umar semakin membuat juragan Suripto ketakutan.
...Bersambung....