Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Hati yang bimbang.


Ternyata mbah Parmin tengah berbicara dengan makhluk peliharaan nya, dia mengirimkan sihir pada Adinata, supaya lelaki itu dapat melupakan cintanya pada Larasati, lalu mbah Parmin mengkerutkan kening nya dia melihat sesuatu yang melindungi Larasati.


Apakah gadis ini bersekutu dengan makhluk gaib, jika aku mengirimkan sihir atau pun guna-guna padanya, mungkin aku akan berurusan dengan makhluk yang menjaganya, lebih baik aku mengirimkan sihirku pada lelaki itu saja, batin mbah Parmin didalam hati nya seraya menganggukan kepalanya.


Hanya dengan rapalan mantra saja, mbah Parmin berhasil mengirimkan guna-guna nya, supaya Adinata membenci perempuan yang dicintai nya, lalu mbah Parmin mengatakan pada Lasmini, jika esok hari semua nya akan berubah, karena Adinata akan mulai membenci Larasati, dan mulai menutup hati nya untuk perempuan yang ada didalam hati nya itu.


"Ini berikanlah air ini pada anakmu, campurkanlah pada minuman nya, supaya dia lebih cepat melupakan perempuan yang dicintai nya itu, dan satu lagi yang akan ku ingatkan padamu, kau bisa saja membuat anakmu menjauhi kekasihnya itu, tapi perempuan itu dilindungi oleh makhluk gaib yang sangat sakti, jika perempuan itu yang mendatangi anakmu, dan ingin bersamanya kembali akan susah untukku mengendalikan keadaan, jangan pernah sekalipun kau berurusan dengan perempuan itu, dia bukanlah tandinganmu, ada kesaktian lain yang melindungi nya, jadi aku tidak mau berurusan dengan nya, bukan karena aku takut melawan nya, tapi imbalan yang aku dapat darimu tidak sebanding jika aku harus melawan makhluk gaib yang menjaga nya." cetus mbah Parmin dengan mendongakan kepala nya ke atas.


"Apa maksudnya mbah, si Larasati itu dijaga oleh makhluk gaib juga, bagaimana jika makhluk itu mencelakai ku dan juga keluargaku mbah." seru Lasmini dengan membulatkan kedua mata nya.


"Kau tenang saja, selama kita tidak mencelakai perempuan itu, makhluk gaib yang menjaganya juga tidak akan mencelakaimu, kita hanya perlu menjauhkan anakmu darinya, tapi jangan sekalipun ada yang mencelakainya, jika kalian semua tidak ingin merasakan murka makhluk gaib yang menjaganya." jelas mbah Parmin.


"Baiklah mbah lagipula aku hanya ingin anakku melupakan Larasati, aku tidak berniat mencelakainya, terima kasih mbah atas bantuan nya, kami permisi dulu." ucap Lasmini seraya memberikan amplop berwarna putih pada mbah Parmin.


"Ingatlah satu hal setiap jumat kliwon kau harus datang kesini, karena sihir yang ku berikan pada anakmu, hanya bisa bertahan sampe malam itu saja, dan jika kau ingin anakmu terus melupakan cintanya pada Larasati, kau harus datang ke tempat ini setiap malam jumat kliwon." tegas mbah Parmin dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Nampak Lasmini dan juga Murni hanya menganggukan kepalanya, kedua nya melangkahkan kaki nya pergi dari rumah dukun itu, terdengar Murni mengatakan sesuatu pada Lasmini, jika dia takut pada Larasati setelah mendengar penjelasan mbah Parmin tadi.


"Jika memang Larasati dilindungi makhluk gaib, apakah tidak akan berbahaya untuk kita Las, jika kita memisahkan Larasati dari Adinata, bukankah secara tidak langsung kita sudah melukai hatinya." ucap Murni dengan wajah cemas.


"Entahlah mbakyu semoga saja tidak akan berpengaruh dengan kita, aku kan hanya ingin yang terbaik untuk anakku, dan aku tidak mencelakainya secara langsung, sudahlah mbakyu tidak usah dipikirkan lagi, aku yang akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu." cetus Lasmini dengan mengkerutkan kening nya.


Setelah itu Lasmini kembali ke rumah nya, nampak Adinata masih mengunci pintu kamar nya dari dalam, lalu Lasmini meminta anak perempuan nya, untuk membujuk kakaknya Adinata supaya mau keluar dari kamarnya.


"Nduk Seruni tolong bujuk mas mu Adinata, supaya dia mau keluar dan makan bersama kita." ucap Lasmini pada anak gadisnya.


"Tapi bu mas Adinata belum keluar sama sekali dari dalam kamarnya, bagaimana caraku untuk membujuknya." sahut Seruni dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Kemudian Lasmini meminta anak gadisnya untuk berpura-pura sakit, dan meminta mas nya Adinata supaya mau membelikan nya obat ke apotik, nampal Seruni terpaksa menuruti ucapan ibu nya, dia melangkahkan kaki nya ke depan kamar Adinata dan mengetuk pintu kamar itu.


Tok tok tok...


"Mas tolong aku perutku sangat sakit, obat di rumah sudah habis, tolong belikan obat ke apotik ya mas." ucap Seruni berpura-pura sakit dengan wajah sendu.


Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar Adinata, hampir saja Seruni menyerah mengetuk pintu kamar itu, tapi beberapa saat kemudian Adinata membuka pintu kamarnya, nampak wajahnya sendu dengan kedua mata yang sembab.


Terlihat Lasmini menghembuskan nafasnya panjang, karena Adinata sudah keluar dari dalam kamarnya, lalu dia berjalan menghampiri kedua anaknya.


"Jika kalian berdua sedang tidak enak badan, lebih baik kalian makan dulu lalu istirahat lagi, ibu akan meminta orang lain untuk membelikan kalian obat." tukas Lasmini seraya menggandeng tangan Adinata dan Seruni ke meja makan.


Terlihat pak Tirto memandang sendu wajah anak lelaki nya, dia tidak tega melihat Adinata begitu terluka.


Kasihan sekali nasibmu Le, kau baru saja kembali dari perantauan, tapi kabar buruk itu membuatmu terguncang, bapak sangat paham dengan keadaanmu saat ini, tapi bapak juga tidak bisa menyalahkan ibumu, dia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, karena itu lah ibumu bersikap keras padamu, batin pak Tirto seraya mengkerutkan kening nya.


"Ini Le dimakan masakan favoritmu, ibu sudah memasaknya dari pagi tadi, tapi setelah kau datang kau belum sempat memakan nya." ucap Lasmini seraya menghidangkan gulai ikan kesukaan Adinata.


Nampak Adinata berbicara pada adiknya Seruni, dia menanyakan apakah perutnya masih terasa sakit.


"Ah tidak apa-apa mas, rupanya aku hanya lapar saja, ngomong-ngomong mas Adinata membawakan oleh-oleh apa untukku?." tanya Seruni untuk mencairkan suasana.


"Nanti kau pilih saja sendiri Run, aku sudah meletakan semuanya didalam tas, ada nama kalian masing-masing disetiap bingkisan nya." jawab Adinata dengan menundukan kepalanya.


Bahkan aku sudah menyiapkan hadiah special untuk Larasati, ada cincin yang aku pesan khusus dengan ukiran nama kita berdua, tapi setelah kejadian ini apakah Laras masih mau bertemu denganku, aku takut dia malu bertatap muka denganku, mungkin aku belum bisa menerima keadaan nya, tapi aku masih sangat menyayangi nya, aku ingin menghiburnya dan membicarakan kelanjutan hubungan kami, batin Adinata resah didalam hati nya.


"Le kenapa kau melamun seperti itu, ayo dimakan dulu supaya perutmu tidak kosong, sejak kau pulang ke rumah ini, kau belum makan sama sekali, bapak tau hati dan perasaanmu sedang kalut, tapi kau harus tetap makan Le." tukas pak Tirto dengan wajah cemas.


Nampak Lasmini mendengarkan ucapan suaminya dengan kesal, dia menuangkan air pemberian mbah Parmin ke dalam gelas minuman Adinata, dan disana ada Seruni yang melihat ibu nya mencampur sesuatu, ke dalam gelas minuman Adinata hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kenapa ibu mencampur sesuatu ke dalam gelas minuman itu ya, aneh sekali tidak biasa nya ibu bertingkah aneh seperti itu, batin Seruni dengan mengkerutkan kening nya.


*


*


...Berikan Vote dan hadiahnya ya kak, supaya Author bersemangat nulis nya 😉...


...Bersambung....