Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Menggali sisa kenangan.


Dua hari berlalu, pagi itu Risma membantu Awan merapikan pakaiannya. Selimut di atas ranjang yang berantakan segera di lipatnya, Risma terkejut dibalik selimut itu terselip batu mengkilap berwarna kemerahan.


"Batu apa ini Le, tumben sekali kau menyimpan benda semacam itu?." Tanya Risma dengan memegang Batu mengkilap itu.


Kemudian Awan mengernyit dan memperhatikan Batu itu lebih dalam lagi.


Batu itu sepertinya tidak asing untukku, batin Awan dengan berkonsentrasi keras mengingat sesuatu.


Tiba-tiba ada potongan-potongan cerita, yang terlintas didalam pikirannya. Terlihat sesosok perempuan cantik dengan baju khas Jawa, sedang berdiri di atas singgasana bersama seorang lelaki yang wajahnya sedikit buram. Mereka sedang merayakan suatu pesta, datanglah sosok lain yang mengajaknya ke alam manusia, dan dia membawa serta mustika candra kenanga. Ya batu mengkilap berwarna kemerahan itu adalah mustika sakti dari alam gaib.


Ditengah pergolakan batinnya, Larasati datang untuk mengantarkannya pulang. Gadis itu membulatkan kedua matanya, menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ibu darimana ibu mendapatkan batu ini." Larasati berbicara dengan terbata-bata.


"Entahlah Nak, ibu menemukan nya dibalik selimut yang Awan kenakan." Jelas Risma seraya menyerahkan batu itu pada Awan.


Awan memegangi batu mustika itu dengan mengerutkan kening nya, dia berusaha kembali mengingat sesuatu yang mungkin dia lupakan. Lalu terlintas beberapa memori dimana seorang lelaki sedang memintanya untuk menggantikan posisinya, potongan memori terus bergeser dimana terlihat tubuh kaku seorang lelaki tergeletak di atas brangkar.


Muncul berbagai kenangan tergambar seperti ringkasan sebuah film, ada rasa sakit, pedih, dan harapan yang begitu besar, air mata berlinang di pipi, tapi terlambat dia mengusapnya. Larasati melihat Awan seperti kebingungan.


"Ada apa Wan kenapa kau menangis? ceritalah padaku, kita kan teman, siapa tau ada yang bisa ku bantu."


"Tidak ada apa-apa Ras, aku hanya...." Awan bingung harus menjawab apa, untung saja Risma muncul, dengan membawa kursi roda.


"Ayo Wan kita pulang sekarang, kau masih harus duduk di kursi roda, karena kaki mu masih lemah."


Mereka membawa Awan kembali ke kontrakan kecil nya, sang ibu ingin membawa Awan kembali ke desa, tapi perawatannya di Rumah Sakit masih terus berjalan. Larasati tersenyum dengan menepuk pundak Awan.


"Cepat sembuh ya Wan, aku harus pulang dulu, ibuku sedang membutuhkan bantuan ku." Larasati berpamitan dengan wajah sendu.


"Tunggu Ras, bawalah batu ini bersamamu, jangan pernah kau lepaskan batu ini, aku memiliki firasat buruk padamu, dan sepertinya batu ini adalah jimat untuk keselamatan seseorang."


"Sejak kapan kau percaya dengan hal macam itu, sejak kau bangun dari koma, aku merasa jika kau sudah berubah, kemana Awan yang religius itu, lalu darimana kau mendapatkan batu ini?." Tanya Larasati penuh tanya.


"Aku sendiri juga tidak mengerti, aku merasa jika akun memiliki dia kepribadian ganda. Terkadang aku merasa sangat memahami tentang agama, tapi aku juga memahami tentang hal-hal berbau mistis dan supranatural. Sebenarnya ada apa denganku Ras, dan batu itu adalah batu mustika milik sosok perempuan di alam gaib, entah bagaimana aku bisa memilikinya." Awan semakin kebingungan dengan peluh yang membasahi keningnya.


"Tunggu, ketika kau terbaring koma di Ruang ICU, apakah jiwamu sempat terlepas dari ragamu?."


Nampak Awan mengernyit dan berusaha mengingat kembali, semakin dia berkonsentrasi tubuhnya akan melemah, tapi dia tetap berusaha menggali kenangan yang tertutup tabir misteri itu.


...Bersambung....