Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Tewas dibunuh!!!


Saat kakinya diseret melewati bangku kayu yang ada di dekatnya, Juragan Suripto bersusah payang berpegangan dengan kursi kayu itu, tapi tangan Umar begitu kuat menariknya, sehingga kursi yang dijadikan pegangan itu akhirnya ikut terseret, tak mau kalah begitu saja, Juragan Suripto melempar kursi kayu itu tepat ke kepala Umar.


Bruug...


Umar jatuh tersungkur dengan darah yang membasahi kepalanya, disaat Umar masih tergeletak di lantai itu, Juragan Suripto langsung mengangkat kursi kayu yang berada di samping nya, lalu memukulkan ke kepala Umar berulang-ulang kali.


Jeritan Juragan Suripto saat memukulkan kursi tersebut, membawa beberapa tetangga Umar masuk ke dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi disana.


"Astagfirullah, ya Allah! Tolong, tolong! ada yang membunuh Umar." Teriakan tetangga seakan tak terdengar di telinga Juragan Suripto.


Dengan penuh raut kekejaman Juragan Suripto terus menerus memukulkan kursi kayu itu pada kepala Umar, bahkan darah merah dari kepala Umar telah berceceran ke mana-mana, namun Juragan Suripto tidak sedikitpun menghentikan perbuatannya.


Akhirnya Polisi segera datang, setelah aparat desa setempat menghubungi nya, nampak istri Umar menangis histeris saat melihat kondisi suaminya yang tewas mengenaskan, sedangkan Juragan Suripto terlihat tertunduk linglung melihat borgol di tangannya, di sisi kanan dan kirinya diapit oleh dua orang berseragam polisi, semua tetangga Umar menunjuk-nunjuk dengan raut wajah kebencian, dari situlah Juragan Suripto baru menyadari apa yang telah terjadi.


Astaga, apa yang telah ku lakukan, kenapa akhirnya aku juga yang meringkuk di dalam penjara, pasti semua ini ulah Larasati, aku harus meminta tolong pada Mbah Warno, supaya dia memberi tau Ki Barata untuk segera menolong ku bagaimana pun caranya, batinnya dengan peluh yang membasahi keningnya.


Tidak jauh dari kerumunan itu, nampak seorang gadis yang mengenakan jubah merah terlihat tersenyum miring, kemudian dia berbalik dan pergi meninggalkan tempat dengan langkah tenang.


Dan Polisi itu membawa Juragan Suripto ke tahanan, dia dimasukan ke sel penjara yang terlihat gelap dan pengap, dia mencengkeram kedua tangannya dengan gemetar, sedang memikirkan langkah apa yang harus di ambilnya.


Aku benar-benar bodoh, kenapa aku membunuhnya, gumamnya dengan membayangkan kondisi mayat Umar yang penuh darah.


Juragan Suripto mengusap rambutnya kasar, dia benar-benar frustasi tidak tau mau meminta tolong pada siapa lagi, karena pagi tadi Mbah Warno tidak berada di rumahnya, terlintas di kepalanya untuk bersandiwara di depan Karsiti, demi mendapatkan belas kasihnya, tapi Juragan Suripto bergidik ngeri saat membayangkan Larasati akan mencelakainya, ketika dia berusaha mendekati Ibunya lagi.


Juragan Suripto terbelalak kaget, saat melihat wajah Larasati yang sangat cantik dan juga terlihat begitu agung, sehingga setiap orang yang menatapnya merasa ingin menundukan diri di hadapannya.


"La Larasati." Ucap Juragan Suripto lirih.


Larasati hanya terdiam membisu, matanya menatap tajam padanya, sampai Juragan Suripto merasakan seluruh tubuhnya dingin, disaat itulah, dia merasakan apa itu rasa takut, hatinya bergetar, tangannnya melemah, dia bersimpuh pasrah dihadapan Larasati.


"Aku datang untuk mengingatkan mu, jika semua ini belum berakhir, atas apa yang telah kau lakukan padaku dan juga keluargaku, penjara ini hanyalah awal penderitaan mu, mungkin aku bisa mengampuni nyawamu jika saat itu kau tidak membunuh Ayahku, hukuman di dalam penjara adalah harga untuk apa yang telah kau lakukan padaku, dan untuk harga nyawa Ayahku, aku akan menagihnya setelah penderitaan mu di dunia ini cukup panjang, nyawa harus dibayar dengan nyawa, persiapkanlah dirimu untuk ku bunuh, atau kau akan ku tumbal kan pada iblis-iblis kelaparan di hutan angker itu, jangan pernah bermimpi untuk bisa memohon ampunan pada Ibuku, karena aku tetap akan membunuhmu." Ucap Larasati terasa menusuk ke dalam jantung Juragan Suripto, sehingga dia berlutut dan memohon ampunan pada Larasati.


"Tolong Larasati ampuni nyawaku, biarlah aku tetap hidup membusuk di penjara ini, asal aku masih bisa melihat wajah calon anakku yang ada didalam rahim Ibumu."


"Calon anak katamu, calon anak mana yang kau maksud, jika kau mengasihi darah daging mu sendiri, kau tidak akan mengurung Ibuku di gudang pengap itu."


Setelah itu Larasati membaca mantra-mantra, dia membuka mulutnya dan menghembuskan cahaya kemerahan, yang masuk ke dalam tubuh Juragan Suripto, nampak lelaki jahat itu terbelalak merasakan kesakitan didalam perutnya, Juragan Suripto memuntahkan seteguk darah kental berwarna merah, nampak Larasati tersenyum dengan dingin saat Juragan Suripto menggelepar di lantai dengan mata nyalang, lelaki itu berteriak kencang meminta pertolongan, dan jeritan nya terdengar oleh petugas Polisi yang bergegas mendatangi sel nya, seketika Larasati pergi menghilang dari sana.


Dengan tergesa-gesa beberapa petugas Polisi membawa Juragan Suripto ke Ruang Kesehatan, Dokter yang memeriksanya nampak bingung, karena dia tidak bisa mendiagnosa penyakit lelaki itu, tapi dia juga terkejut melihat keadaan nya yang memuntahkan darah segar, hingga akhirnya Dokter hanya memberikan obat pereda sakit saja, Juragan Suripto berkata pada Posisi, jika sakitnya ini hanya bisa di obati oleh dukun kenalannya saja.


"Tolong Pak, hubungi dukun itu, aku tau sakitku ini tidak beres, karena ada orang yang sengaja membuatku sakit seperti ini." Pintanya dengan nafas tersengal-sengal.


Tanpa menghiraukan ucapan Juragan Suripto, Polisi itu menarik paksa dia kembali ke dalam sel yang gelap itu, dengan memegangi perutnya yang masih terasa agak sakit, matanya memandang ke segala arah, cemas jika Larasati datang kembali untuk menyakitinya.


...Bersambung....