
Kemudian juragan Suripto melangkahkan kaki nya gontai menemui Karsiti, nampak wajahnya sangat kalut menerima kabar kehamilan istrinya itu, ditatapnya wajah Karsiti yang sedang tersenyum bahagia seraya memeluk dirinya, Karsiti terdengar bersyukur atas kehamilan nya saat itu, dan ternyata di depan pintu itu ada Larasati yang tidak sengaja mendengar ucapan ibunya yang mengatakan jika dia tidak percaya akan mengandung di usia nya yang sekarang, lalu Larasati berjalan mendekati ibunya dan memeluk nya.
"Apakah ibu yakin saat ini sedang mengandung adik Laras bu?", tanya Larasati dengan menyunggingkan senyumnya.
"Iya nduk, tadi dokter mengatakan seperti itu, tapi karena hamil di usia yang sudah tidak muda lagi, dokter menghawatirkan kesehatan ibu, karena itulah ibu harus dirujuk ke rumah sakit yang ada di kota untuk pemeriksaan yang lebih lanjut", jawab Karsiti dengan memeluk anak perempuan nya.
"Kalau begitu ibu harus lebih menjaga diri setelah ini, ibu tidak boleh terlalu capek ya, tapi maaf Larasati tidak bisa menemani ibu ke rumah sakit, karena ada tugas kampus yang harus diserahkan pada dosen sore ini, ibu tidak apa-apa kan jika Laras tidak menemani ibu".
"Ya sudah nduk tidak apa-apa, kan ada bapakmu yang akan menjaga ibu, kau hati-hati di jalan ya, mungkin ibu akan lama di rumah sakit menunggu penjelasan dari dokter".
Sebenarnya aku ingin menemani ibu, tapi malam ini aku harus melakukan ritual persembahan, dan Ardi juga belum memberiku kabar, aku harus mencari sendiri lelaki perjaka itu, untuk berjaga-jaga jika Ardi tidak bisa membawakan ku tumbal, batin Larasati didalam hatinya.
Nampak juragan Suripto memijat pangkak hidungnya, seakan beban yang ada didalam hidupnya semakin bertambah karena kehamilan Karsiti, yang membuatnya sangat terguncang, juragan Suripto tidak pernah menyangka jika Karsiti akan hamil di usia nya yang sudah berumur, dan Larasati membuyarkan lamunan nya, karena dia ingin berpamitan pada ayah tirinya itu.
"Pak Larasati pergi dulu ya, titip ibu, karena Laras tidak bisa membantu menjaga ibu disana, tapi ada apa denganmu pak, wajahmu terlihat pucat seakan tidak bersemangat", seru Larasati.
"Mungkin bapakmu masih shock nduk, ini kan pertama kalinya dia akan menjadi seorang ayah, karena itulah dia terlihat kebingungan seperti itu", sahut Karsiti dengan senyum kecil diwajahnya.
Kemudian juragan Suripto mengatakan hal yang sama dengan Karsiti, jika dia hanya terkejut saja mendengar kabar bahagia itu, setelah itu Larasati pun bergegas pergi dari klinik itu, sementara ibu dan ayah tirinya langsung pergi ke rumah sakit yang ada di kota, terlihat Umar hanya terdiam menatap wajah pucat juragan nya, dan dia baru mendengar tentang kehamilan istri juragan nya itu.
"Mar pelan-pelan saja ya bawa mobilnya, kata dokter aku tidak boleh merasakan guncangan yang terlalu keras, karena aku hamil di usia yang tidak muda lagi, banyak gangguan kesehatan yang harus aku jaga, supaya kedepan nya bayiku ini akan baik-baik saja", ucap Karsiti dibelakang kemudi nya.
Untuk sesaat Umar terkejut dan tidak menjawab ucapan istri juragan nya, nampak dia membukatkan kedua matanya menatap wajah juragan nya dari kaca yang ada didepan nya.
Sekarang aku mengerti, kenapa wajah juragan berubah pucat seperti itu, ternyata istri yang tidak dicintainya tengah mengandung benihnya, pantas saja juragan terlihat gelisah, apa yang akan dia lakukan setelah ini, tidak mungkin dia menyingkirkan ibu dari anak kandungnya sendiri, batin Umar dengan mengkerut kan keningnya.
Chiiit...
Mendadak Umar menginjak remaja mobil, karena ada seekor kucing yang tiba-tiba menyeberang jalan, sontak juragan Suripto murka dan memaki Umar dengan kata-kata kasar, nampaknya secara tidak sadar juragan Suripto tidak ingin jika calon bayinya kenapa-kenapa dia memaki Umar dan memintanya untuk menabrak kucing itu saja, daripada bayi yang ada didalam kandungan istrinya kenapa-kenapa, tapi Karsiti menenangkan suaminya itu.
Meski aku tidak suka dengan kehamilan Karsiti, bagaimanapun bayi yang ada didalam rahimnya adalah darah daging ku, jika seperti ini bagaimana rencanaku untuk menikahi Larasati, ibunya sedang mengandung anakku, dan aku tidak mungkin melenyapkan nya dalam waktu dekat ini, batin juragan Suripto dengan mengusap rambutnya kasar.
Terlihat Karsiti menatap bingung tingkah suaminya, dia cemas dan bertanya apa yang sedang mengganggu pikiran suaminya saat itu, dan juragan Suripto terbelalak mendengar pertanyaan dari istrinya.
"Aah tidak ada apa-apa bu, aku hanya mencemaskan dirimu saja, semoga kau dan juga bayi kita baik-baik saja, aku sangat bahagia mengetahui jika aku akan memiliki keturunanku sendiri", ucapnya seraya mengecup kening Karsiti.
Sementara diluar sana Larasati sedang berusaha menghubungi Ardi melalui ponselnya, tapi dia tidak menjawab panggilan telepon itu, nampak Larasati sangat cemas dan dia pergi tidak tentu arah mencari lelaki hidung belang yang mungkin saja masih perjaka.
Larasati berpakaian mini dengan make up yang tidak begitu menor, membuatnya nampak anggun dan menggoda dengan pakaian yang dikenakannya, gadis itu duduk di sebuah sofa yang ada di cafe tengah kota, matanya sibuk memandangi setiap lelaki hidung belang yang menatapnya dengan tatapan menjijikkan, seakan mereka sedang berfantasi dengan dirinya yang sangat menggoda jiwa kejantanan nya, tidak lama setelah itu datang lah seorang lelaki muda yang mengenakan baju rapi dan kopiah di atas kepalanya, lelaki itu sempat melirik ke arah Larasati yang sedang duduk termenung seorang diri, sampai akhirnya lelaki itu berjalan dan menabrak ujung meja yang ada dihadapan nya.
Braak...
Sontak seisi cafe manatap kearahnya, dan Larasati bangkit dari duduk nya lalu menghampiri lelaki itu, terlihat Laras membantunya berdiri dan bertanya apakah lelaki itu baik-baik saja, untuk sesaat lelaki itu menatap kagum tubuh molek gadis yang ada dihapan nya, tapi setelah itu dia menundukan kepalanya seraya bangkit berdiri.
"Maaf saya tidak bermaksud memandangmu seperti ini, lain kali kau gunakan saja baju yang tertutup agar pandangan lelaki tidak tertuju kepadamu", serunya masih menundukan kepalanya.
Apa yang baru saja dikatakan nya, dia memintaku untuk berpakaian tertutup, dasar munafik, tadi saja kau menatapku seakan ingin menikmati tubuhku, dasar lelaki tidak tau diri, batin Larasati mendengus kesal.
Dan Larasati pun mengatakan pada lelaki itu, jika dia tidak perlu berkomentar tentang gaya berpakaian nya, karena dia pun juga sempat memandangi tubuhnya.
"Jangan sok suci lah, aku tau kau juga memandang tubuhku, karena itulah kau sampai terjatuh ke lantai, kenapa sekarang kau mendadak sok suci dan menasehati ku hah", seru Larasati dengan berkacak pinggang.
...Hari senin nih kak, yang baik hati dan selalu mendukung Author recehan sepertiku, bagi Vote dan hadiah nya ya, supaya aku rajin up setiap hari nya, makasih all 🥰🤗...
...Bersambung....