
Siang itu Juragan Suripto mendatangi Unar di rumahnya, Hayati mempersilahkan sang Juragan untuk melihat kondisi suaminya. Juragan Suripto membulatkan kedua matanya, dia terkejut mengetahui kondisi Umar yang sangat mengenaskan, lelaki yang dipercaya sebagai tangan kanannya, terlihat seperti mayat hidup, tubuhnya mengeluarkan aroma tidak sedap, seluruh tubuhnya kaku, tapi deru nafasnya sangat cepat.
Tragis sekali nasibmu Mar, aku yakin bukan manusia biasa yang melakukan semua ini padamu, karena selama ini kau selalu setia padaku, aku akan berusaha mencari tau yang sebenarnya, batin Juragan Suripto didalam hatinya.
Hayati menceritakan kronologi tentang bagaimana suaminya ditemukan, Juragan Suripto menyipitkan matanya berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa kali dia berusaha mengajak Umar untuk berbicara, tapi lelaki itu tak bergeming sama sekali.
Dret dret dret...
Ponsel Juragan Suripto bergetar, dia menerima panggilan telepon dari Mbah Warno, dukun itu memintanya segera datang ke rumahnya, karena ada hal penting yang harus dibicarakan nya. "Ini menyangkut tentang hidupmu, nyawamu sedang dalam bahaya, lekas temui aku sebelum semuanya terlambat." Ucap Mbah Warno diseberang telepon sana.
Juragan Suripto buru-buru meninggalkan rumah Umar, dia berpesan pada Hayati, jika Umar sudah bisa diajak berbicara, Hayati diminta untuk segera meneleponnya. lelaki itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di rumah dukun itu, nampak sang dukun sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Mbah Warno mengatakan sesuatu yang membuat Juragan Suripto terkejut.
"Aku mendapatkan pesan dari guruku, untuk membawamu bertemu dengannya, ada hal penting yang harus kau ketahui tentang anak tiri mu itu, mari kita pergi ke Alas Roban sekarang juga." Ucap Mbah Warno dengan wajah yang cemas.
Saat itu juga mereka berangkat menuju hutan yang terkenal dengan keangkeran nya, banyak cerita mistis yang beredar tentang hal-hal gaib yang ada disana, Juragan Suripto mengusap peluh yang membasahi keningnya, terlihat ketakutan menyelimuti dirinya.
"Mbah apa kau yakin jika kita harus berjalan kaki memasuki hutan yang angker ini?," tanya Juragan Suripto dengan memandang ke segala arah.
"Apa kau tidak percaya padaku, kenapa kau terlihat ragu dengan perintah ku, aku membawa mu kesini untuk menyelamatkan hidupmu, tapi sepertinya kau lebih rela mati ditangan anak tirimu."
"Tidak Mbah, bukan seperti itu, aku aku hanya takut berada di tengah hutan seperti ini."
"Yakinlah padaku, ayo kita lanjutkan perjalanan ke bagian hutan yang lebih dalam lagi." Ajak Mbah Warno seraya melangkahkan kakinya ke pedalaman Alas Roban.
Suara angin malam yang berhembus membuat udara semakin dingin, suasana di Alas Roban terlihat semakin angker karena gelapnya malam, tidak ada satupun orang yang berani keluar melintasi daerah itu, cerita turun temurun tentang hantu yang berkeliaran selepas magrib, membuat warga di sekitar hutan itu ketakutan, sehingga mereka lebih memilih memutar jalan yang lebih jauh, ketika mereka terpaksa pergi ke suatu tempat.
Juragan Suripto berjalan perlahan dipimipin oleh Mbah Warno, sang dukun kepercayaannya. Lelaki itu merapatkan jaket tebal yang melindungi tubuhnya dari rasa dingin. Mbah Warno mengarahkannya dengan senter yang dibawanya, dia mengarahkan sorot cahaya senter sebagai petunjuk untuk Juragan Suripto, menuju ke sebuah jalan setapak yang sangat kecil, jalan itu menuju ke sebuah pondok yang berada di atas bukit terpencil yang berkabut pekat.
Bukit itu sangat ditakuti oleh semua orang, karena sering menyesatkan dan memakan korban,nampak Juragan Suripto berjalan payah dengan agak menyesal, jika dia tidak mengikuti ucapan dukun itu, pasti dia tidak akan kelelahan berjalan di tengah hutan angker seperti itu. Di tengah hutan Alas Roban, Juragan Suripto harus kedinginan berjalan melewati semak belukar, lalu Mbah Warno membalikkan tubuhnya menatap lelaki itu dengan mengernyitkan dahinya. "Apa kau menyesal datang kesini bersama ku?," tanya Mbah Warno membuat Juragan Suripto tercekat.
Lelaki itu menyangkal pertanyaan sang dukun, dan meminta nya lebih cepat berjalannya, supaya mereka segera sampai di tempat tujuan.
Kalau aku tidak melihat kondisi Umar yang mengenaskan, aku tidak akan mau susah payah datang ke tempat ini, batinnya didalam hati dengan mengusap peluh di keningnya.
Mengingat sosok gaib yang berada didalam tubuh Larasati, Juragan Suripto mempercepat langkahnya menyusul sang dukun, dengan kuat lelaki itu melawan dinginnya angin malam, satu hal yang menjadi keinginan nya, mendapatkan bantuan dari guru Mbah Warno.
"Kita sudah sampai." Jelas Mbah Warno dengan menyunggingkan senyum puasnya.
Juragan Suripto mengerutkan keningnya, seraya memandang ke sekitar tempat itu, terlihat didepan matanya, sebuah pondok kecil bernuansa seram, matanya menyelidik mengamati keadaan sekitar, nampak tulang-tulang tengkorak manusia berserakan disana, Juragan Suripto bergidik ngeri lalu mengalihkan pandangannya ke sebuah pintu pondok yang tertutup.
Mbah Warno menyentuh bahu Juragan Suripto, memintanya untuk berlutut bersamanya, dengan setengah hati dia melakukannya, mereka berlutut cukup lama tapi pintu pondok itu belum terbuka juga, lelaki itu nampak jengah berlutut karena kakinya sudah kesemutan, tapi Mbah Warno memintanya mempertahankan posisinya.
Beberapa detik kemudian, pintu pondok terbuka dari dalam, ruangan temaram membuat kesan mistis dari luar, Juragan Suripto mengerutkan keningnya, karena matanya tidak dapat menemukan sosok guru yang dibicarakan Mbah Warno.
"Ayo segera masuk, kedatangan kita sudah ditunggu oleh Ki Barata."
Di dalam pondok yang temaram itu, Juragan Suripto dapat melihat sosok yang sedang duduk dengan menyilakan kedua kakinya.
"Duduklah." Perintah Ki Barata yang sedang memejamkan kedua matanya.
Terlihat Mbah Warno bersujud dengan menyatukan kedua tangannya, Juragan Suripto mengernyit heran dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tadinya dia mengira jika guru Mbah Warno adalah seorang lelaki yang lebih tua dari dukun itu, ternyata perkiraan nya itu salah. Ki Barata adalah seorang lelaki muda yang sangat tampan dan rupawan, bahkan Ki Barata lebih muda darinya, menurut cerita Mbah Warno di perjalanan tadi, Ki Barata berumur ratusan tahun, karena itulah Mbah Warno menganggap gurunya memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Juragan Suripto duduk didepan Ki Barata, sedangkan Mbah Warno menunggu di sudut pondok itu.
"Aku memintamu datang kesini karena suatu alasan yang sangat penting." Ucap Ki Barata seraya membakar dupa yang ada dihadapannya.
Terlihat Juragan Suripto terdiam dengan mendengarkan ucapan orang sakti itu.
"Saya kesini juga ingin meminta tolong Ki." Sahutnya dengan wajah ketakutan.
"Hidupmu dalam bahaya, anak tirimu memuja sosok gaib yang sangat sakti, meski yang dipujanya memiliki kesaktian tinggi, aku bisa melawannya untuk menyelamatkan hidupmu, Kanjeng Ratu Ageng Sedo tidak akan dengan mudah melepaskan mu, karena kau akan menjadi mangsanya." Jelas Ki Barata.
...Bersambung....