
Tiba-tiba disaat Larasati sedang menerawang Tedy, datanglah seorang lelaki yang suaranya tidak asing untuk Larasati, lelaki itu sedang mengucapkan salam dan menyapa teman nya Ardi, dan disaat lelaki itu masuk ke dalam ruang tamu kost, terdengar dia menyapa Larasati dan menanyakan kabarnya, sontak Larasati membuka kedua matanya dengan degup jantung yang kencang.
Awan, untuk apa dia datang ke tempat ini, batin Larasati penuh tanya.
"Eh mas Awan, tumben pulang lebih awal, padahal kan aku belum selesai bersih-bersih kamarnya", ucap Tedy menyapa.
Terlihat Larasati membulatkan kedua matanya menatap bingung seorang lelaki berkopiah yang pernah dijumpainya, sedangkan Ardi nampak bingung melihat Larasati bereaksi seperti orang yang baru saja melihat hantu, kemudian Awan menyapa Larasati kembali, dan membuat gadis itu tersadar dari lamunan nya, lalu Larasati hanya tersenyum menanggapi sapaan Awan.
"Hai Ras, apa kau mengenal adik sepupuku Tedy, kenapa kalian berbicara berdua saja?", tanya Awan.
Jadi Tedy itu adik sepupunya Awan, mungkin aku tidak bisa menerawang nya karena dia salah satu dari orang yang rajin beribadah, sama seperti Awan yang masih perjaka, tapi aku tidak bisa melakukan apapun padanya, batin Larasati di dalam hatinya.
"Hmm... Aku baru saja berkenalan dengan Tedy, sebenarnya aku kesini menemani temanku Ardi, dia ingin bertemu dengan teman nya yang bernama Dimas", jawab Larasati dengan menyunggingkan senyumnya.
"Oh jadi mas ini ingin bertemu dengan Dimas, biasanya jam segini dia masih ada di tempat kerjanya, mungkin pulangnya sore, adik sepipuku ini baru tinggal dia hari disini, jadi dia belum mengenal siapapun", jelas Awan.
"Kalau begitu kami pamit pulang saja mas, nanti sampaikan pada Dimas saja, jika teman nya Ardi mencarinya", ucap Ardi seraya berpamitan.
Kemudian Larasati juga berpamitan pada kedua saudara sepupu itu, nampak Tedy mengatakan ingin berteman dengan Larasati dan juga Ardi, dan Larasati mengatakan jika kakak sepupunya itu sudah mengenal dirinya.
"Main saja ke rumah bersama kakak sepupumu itu, dia sudah tau dimana rumahku", ujar Larasati dengan senyum manisnya.
Terlihat Tedy menggoda Awan dengan mengatakan, jika Awan sudah mulai berani mendekati perempuan setelah keluar dari pondok pesantren, dan Awan pun mengelak jika dia mendekati Larasati, karena pertemuan mereka tidak pernah disengaja.
"Kalau begitu kami permisi pulang dulu ya", ucap Ardi seraya mengendarai sepeda motornya.
Disepanjang perjalanan Ardi bertanya pada Larasati, kenapa dia sangat terkejut melihat Aean di tempat kost tadi, lalu Larasati menjelaskan jika Awan adalah orang sholeh, dia tidak dapat menerawang Tedy, karena mereka berdua rajin melakukan ibadah.
"Kau tau kan Di kelemahan kita pada orang-orang sholeh macam mereka, pantas saja keduanya masih perjaka, aku tidak bisa mempengaruhi mental mereka, sekalipun Tedy terlihat tertarik padaku, tapi aku tidak menerawang jiwanya lebih dalam, seakan ada sebuah tabir yang menutupi penglihatanku, kesaktian yang ada didalam jiwaku tidak mampu menembus kejantanan nya", jelas Larasati dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Kalau benar seperti itu, kita harus mencari tumbal di tempat lain, jika tidak laki-laki yang bernama Awan itu akan mengetahui segala rencana kita", tukas Ardi cemas.
"Kalau kau ragu melakukannya, lebih baik kita mencari tumbal di tempat lain, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri Ras, karena aku sebatang kara di tempat ini".
"Terima kasih ya Di, lebih baik kau antarkan aku pulang saja, aku ingin istirahat tubuhku lelah sekali".
Kemudian Ardi mengantarkan Larasati ke rumahnya, dan dia segera kembali ke rumahnya, nampak Larasati berjalan tertatih dengan meregangkan otot yang ada ditubuhnya, lalu Karsiti menghampiri anak gadisnya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah pulang kok tidak mengucapkan salam to nduk, dan ibu perhatikan kau tidak pernah beribadah semenjak kejadian buruk itu terjadi", seru Karsiti dengan mengusap lembut rambut anak gadisnya.
"Untuk apa Larasati beribadah bu, nyatanya Allah tidak pernah melindungi ku, dan Dia membiarkan ayah tiada ditangan penjahat-penjahat itu, kalau Allah peduli dan sayang padaku, Dia pasti akan melindungiku dan juga ayah, tapi semua tidak terjadi, untuk apa aku capek-capek beribadah jika Allah tidak pernah menyayangiku", cetus Larasati seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ssst... Kau tidak boleh berkata seperti itu nduk cah ayu, bagaimanapun Allah masih menyayangimu, jika tidak mungkin saat ini kau sudah tidak bersama ibu lagi nduk, meski kehornatanmu sudah direnggut paksa, tapi Allah masih memberikanmu umur yang panjang, jika kau tidak ada di dunia ini, mungkin ibu tidak akan sanggup menjalani hidup lagi setelah kepergian ayahmu yang sangat mendadak itu", ucap Karsiti dengan berlinang air mata.
"Ibu jangan berkata seperti itu ya, jangan buat Larasati sedih dengan mengatakan hal semacam itu, apapun yang terjadi Laras akan selalu menemani ibu, karena hanya ibu saja yang Laras punya di dunia ini", tukas Larasati seraya memeluk ibunya.
"Kita tidak sendiri lagi nduk, ada bapakmu dan juga calon adikmu", ujar Karsiti dengan mengusap calon bayi yang ada didalam perutnya.
Terlihat kedua perempuan itu saling memeluk dan menenangkan, Karsiti pun mengatakan pada Larasati jika kelak dia harus hidup akur bersama calon adiknya, meski mereka berbeda ayah tapi ibu mereka tetap sama, lalu Larasati mengecup pipi Karsiti, dan mengatakan pada ibunya jika dia tidak akan membedakan calon adiknya.
"Larasati akan tetap menyayangi calon bayi itu bu, yang terpenting ibu harus selalu sehat ya, jangan berkata yang tidak-tidak lagi".
Tidak berselang lama terdengar suara mobil juragan Suripto, lalu Karsiti melangkahkan kakinya untuk menyambut suaminya, sedangkan Larasati tetap berada di dalam kamarnya, tiba-tiba saja Larasati sangat merindukan Adinata, sudah hampir satu bulan mereka tidak pernah bertemu, setelah pertemuan terakhir keduanya.
Mas Adinata apakah kau sudah benar-benar melupakanku, apa kau sudah mulai mencintai Kanjeng Ratu Ageng Sedo, aku sangat merindukanmu mas huhuhu, batin Larasati dengan meneteskan air matanya.
Sementara Adinata yang tinggal di alam gaib bersama Kanjeng Ratu Ageng Sedo di istana megahnya, mulai mempelajari kesaktian dan kekuatan dari istri gaib nya itu, ternyata Adinata memiliki rencana khusus untuk terbebas dari belenggu hubungan dengan perempuan gaib yang menjadi istrinya saat itu, diam-diam Adinata sering berkonsultasi dengan simbah Gayatri, dan dia menyaring setiap ucapan perempuan tua itu, meski simbah Gayatri tidak secara langsung meminta Adinata melepaskan diri dari ikatan Kanjeng Ratu Ageng Sedo, Adinata sangat paham jika dengan mempelajari kesaktian istri gaib nya, dia bisa menggunakan kesaktian itu di kemudian hari, dan setelah Larasati terbebas dari perjanjian dengan Ageng Sedo, Adinata akan segera melakukan sesuatu.
...Dukung Author dengan memberikan Vote atau hadiahnya ya kak, bisa berbagi hadiah bunga atau kopinya, supaya Author lebih bersemangat lagi, terimakasih readers 🤗...
...Bersambung....