
"Maaf mbak bukan nya saya bermaksud tidak sopan, sebagai seorang lelaki normal bukan nya wajar jika saya sempat memandangi mbak yang mengenakan pakaian menggoda seperti itu, karena saya tersadar maka saya menundukan pandangan saya sehingga terjatuh seperti tadi", sahut lelaki itu saraya melangkahkan kaki nya pergi.
Sialan dia berani menasehati ku seperti itu, aku tau benar jika dia masih banyak perjaka, sepertinya dia lelaki lugu, mungkin benar katanya untuk sesaat dia tergoda dan memandangku, karena tidak ku rasakan aura hidung belang dari jiwa nya, tapi bagaimana caranya aku menggoda nya supaya mau lebih dekat lagi denganku, batin Larasati dengan memijat pangkal hidungnya.
Setelah itu Laras berjalan ke sofa dan duduk termenung disana, dipandangnya lelaki tampan berkopiah yang sempat berdebat dengan nya tadi, nampaknya lelaki itu sedang menunggu seseorang disana, ditengah kekalutan hatinya terdengar ponselnya bergetar, lalu Laras bergegas menerima panggilan telepon itu, ternyata itu adalah telepon dari Ardi yang memberitau nya, jika dia berhasil mendapatkan calon tumbal untuknya, dan Ardi akan segera menemuinya di cafe itu.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit lamanya, Ardi datang bersama seorang pemuda desa, yang tidak terlalu tampan, tapi dari aura nya jelas sekali jika lelaki itu masih perjaka, Ardi memperkenalkan lelaki itu pada Laras, namanya adalah Guntur, nampak Larasati berbisik pada Ardi dan mengatakan jika lelaki yang dibawanya tidak tampan, gadis itu takut jika Kanjeng Ratu Ageng Sedo marah dan menolak bersetubuh dengan lelaki itu, tapi Ardi dengan tegas meyakinkan Larasati jika kekhawatiran nya tidak akan terjadi, karena makhluk gaib seperti Kanjeng Ratu tidak pernah mempermasalahkan fisik, yang dia inginkan hanyalah darah dari seorang lelaki perjaka.
"Percayalah padaku Ras, aku lebih dulu bergelut dengan dunia gaib macam itu, yang terpenting kau bisa melaksanakan ritual itu", cetus Ardi meyakinkan Larasati.
Nampak Laras hanya bisa menganggukan kepala nya, dan Ardi pun berpamitan pada keduanya karena ada urusan pekerjaan di suatu tempat, Ardi mengatakan pada Guntur jika dia akan dikenalkan dengan teman wanita nya yang baru saja putus cinta, gadis itu sangat cantik dan menawan, seketika Guntur terlena dengan Larasati yang baru saja dikenalnya.
"Aku sudah menepati janji ku mengenalkanmu dengan temanku yang cantik ini, sekarang kalian bisa menghabiskan waktu bersama, aku pergi dulu ya Tur, selamat bersenang-senang", tukas Ardi seraya melangkahkan kakinya pergi.
Terlihat Larasati agak canggung berbicara dengan nama pemuda yang baru dikenalnya itu, karena berkali-kali dia melihat pandangan nya selalu tertuju pada lekuk tubuh Laras yang molek, sedangkan disana masih ada lelaki berkopiah yang mengomentari cara berpakaian nya.
Entah kenapa aku jadi risih berada disini, aku tau lelaki ini sudah tergoda melihat tubuhku, tapi masalahnya disini masih ada pemuda yang sok suci itu, dan aku tidak bisa leluasa menggoda kejantanan lelaki ini, batin Larasati dengan mengkerut kan keningnya nya.
Kemudian Larasati memutuskan pergi dari sana dan mengajak Guntur ngobrol di tempat lain, nampak Guntur bagaikan kerbau yang di cucuk hidungnya, dia hanya bisa menuruti ucapan gadis yang sangat membuatnya berkeringat dingin.
Nampak Larasati memasuki mobilnya dan mengemudikan mobil itu, menyusuri jalanan kota yang mulai remang-remang disinari cahaya lampu dari pinggiran jalan, terlihat Larasati mulai menggoda naluri Guntur sebagai seorang lelaki normal, ketika mobil berhenti sejenak di lampu merah, Larasati membuka dua kancing baju atasnya, membuat dua gundukan kembarnya menyembul keluar, kedua mata Guntur terbelalak menyaksikan keindahan itu, keringat dingin membasahi keningnya, dengan detak jantung yang berdegup kencang, lalu Larasati memandangi wajah Guntur yang sudah basah dipenuhi peluh, dan dia mengusapnya dengan tisu yang ada di mobilnya.
"Apakah kau sakit mas, kenapa kau berkeringat seperti itu", ucap Larasati seraya menempelkan dadanya di dada Guntur yang jantungnya berdegup tidak beraturan lagi.
"Aah iya mendadak aku meriang seperti ini, mungkin cuaca di kota berbeda dengan di desa, aku agak demam Ras", ucap Guntur dengan gugup.
"Baiklah kita ke hotel saja ya mas, sepertinya kau terlalu lelah di jalan, aku akan merawatmu disana, kau bisa istirahat dan tidur di hotel saja, aku akan menemani mu malam ini", cetus Larasati seraya mengemudikan mobilnya kembali.
Tidak lama setelah itu, mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah hotel berbintang yang nampak mewah, Larasati menggenggam jemari Guntur dan mengajaknya masuk ke dalam lobby untuk chek in, setelah mendapatkan kamarnya, Larasati segera melepas pakaian Guntur dan memintanya untuk mandi supaya tubuhnya bisa rileks.
"Kau mandi dulu saja ya mas, aku akan keluar sebentar dan akan segera kembali menemanimu, aku akan membuatmu tubuhmu segar kembali".
Apakah Larasati akan tidur bersamaku malam ini, kenapa tubuhnya sangat menggodaku, aku takut jika aku tidak sadar akan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, batin Guntur dengan menelan ludahnya kasar.
Setelah itu Guntur memutuskan untuk mandi, supaya pikiran kotornya dapat jernih kembali, sementara Laras akan melakukan ritual pemanggilan di hutan angker yang ada di desa nya, karena tidak mungkin bagi Laras membawa calon tumbalnya kembali ke desa, karena warga desa akan mencurigainya.
Setelah menempuh perjalanan dari kota ke desa, Larasati berjalan tergesa-gesa memasuki kamarnya, dipakainya jubah merah yang selalu dipakainya ketika ritual persembahan, lalu Larasati berjalan keluar dengan membawa sebuah lentera ditangan nya, gadis itu berjalan menuju perbatasan hutan yang ada di desa nya, kemudian Larasati berhenti di sebuah gubuk yang menjual berbagai aneka sesajen untuk ritualnya nanti, menurut penduduk desa di hutan itu ada pasar gaib yang menjual beraneka ragam barang yang diperlukan untuk ilmu Hitam, hanya orang tertentu dan dukun ilmu Hitam saja yang dapat melihat keramaian di pasar gaib itu, setelah Larasati mendapatkan apa yang dibutuhkan nya dia melangkahkan kakinya kembali ke sisi utara hutan itu, seperti petunjuk simbah Gayatri jika dia harus melakukan ritual persembahan menghadap ke arah utara, dan disana ada sebuah goa gelap tempat dukun-dukun biasa bersemedi, diapun masuk ke dalam goa itu, dan menyiapkan berbagai sesajen yang dibawanya, setelah semua siap Larasati mulai membaca rapalan mantra, untuk memanggil sesembahan nya.
Sedulur Papat Kalima Pancer, Kawula pitados Sukma Sejati... Pletiking nyuwun Kanjeng Ratu Ageng Sedo pinarak teng mriki, Kawula ngatur aken pinarak monggo.
Tidak lama setelah itu datanglah angin yang berhembus kencang, terlihat cahaya suar kemerahan memasuki goa itu seketika cahaya itu menyilaukan pandangan mata Larasati, dia pun memejamkan kedua matanya, dan terdengar suara perempuan yang tersenyum dan memanggil lirih nama Larasati.
...InsyaAllah akan up setiap hari jika dukungan dari kalian terus bertambah, yuk berikan hadiah mawar atau kopi nya, kalau bisa beri vote nya juga Terima kasih sekali hehehe, jangan bosen tunggu Author update lagi ya 😄...
...Bersambung....