Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Kiriman Santet.


"Sementara waktu pergi lah dari rumah mu, aku akan mengadakan pengajian disana dengan mengundang beberapa santri dari pondok pesantren."


"Terima kasih Wan, maaf jika aku belum bisa mengikuti ucapanmu untuk bertaubat. Saat ini ibuku lebih membutuhkan bantuan ku, jika aku terus membiarkan iblis itu tetap hidup. Maka ibuku akan terus terpengaruh dengan tipu daya nya." Larasati tertunduk dengan wajah sendu.


"Sebenarnya aku ingin kau kembali ke jalan kebeneran, tapi aku tidak memaksamu. Kau harus bertaubat dengan kesadaran mu sendiri, jika tidak akan percuma saja. Karena kau hanya akan menyesali pertaubatanmu."


Kemudian mereka mengakhiri panggilan telepon itu. Larasati memberi pesan pada semua pekerja yang ada di rumahnya. Jika dia harus pergi beberapa waktu, dan akan ada acara pengajian di rumah itu.


"Tolong jaga ibu ya Pak, aku harus pergi karena ada pekerjaan yang tertunda. Nanti temanku Awan datang bersama beberapa santri, tolong layani mereka semua dengan baik." Perintah Larasati pada Parjo dan kedua pembantu nya.


Larasati pergi ke Goa tempat nya bertapa, dia duduk dengan menyilakan kedua tangannya. Dia mengirimkan santet pada Juragan Suripto. Larasati memegang sebuah boneka lusuh bertuliskan nama Juragan Suripto. Sebelah tangannya memegang paku panjang yang di tusuk-tusukan ke beberapa bagian tubuh boneka itu. Sontak saja seluruh tubuh Juragan Suripto menggelepar di lantai penjara yang dingin itu, dengan tersenyum miring Larasati kembali menusukan paku itu ke bagian dada boneka itu. Nampak Juragan Suripto memuntahkan gumpalan darah dari dalam mulutnya.


"Mati kau... Mati!." Seru Larasati dengan sorot mata kekejaman.


Larasati memegangi kepala boneka itu, dia berniat memutar bagian kepala nya, supaya Juragan Suripto segera menjemput ajalnya. Tapi tiba-tiba Larasati teringat akan sumpahnya, yang akan memberikan kematian yang lebih menyakitkan daripada langsung membunuh nya begitu saja.


Seorang petugas polisi terkejut melihat keadaan salah satu tahanan, dia tergeletak di lantai dengan memuntahkan darah dari mulutnya. Nampak sekujur tubuhnya membiru, seperti ada luka di bagian dalam tubuhnya. Polisi itu membawa Juragan Suripto ke Rumah Sakit Polri, lelaki itu langsung mendapatkan tindakan dari Dokter. Ketika di Rontgen terlihat bagian tubuh dalam lelaki itu penuh luka berlubang, Dokter melotot tidak percaya. Karena tidak ada luka dibagian luar tubuhnya, tapi luka-luka yang terlihat di foto rontgen tidak dapat dipungkiri. Terjadi sesuatu pada tubuh lelaki itu.


"Ini sungguh di luar nalar manusia, kami tidak menemukan bagian tubuh luar yang terluka. Tapi semua organ bagian dalamnya dipenuhi luka berlubang, apakah terpidana mencoba melakukan sesuatu pada dirinya sendiri?." Tanya seorang Dokter pada petugas polisi.


"Kami tidak mengijinkan para tersangka membawa benda-benda tajam, bagaimana mungkin dia menyakiti dirinya." Petugas polisi itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kami juga menemukan benjolan kecil pada hati nya, seperti kanker kecil yang tumbuh. Kami harus segera melakukan tindakan, jika tidak kanker itu akan tumbuh semakin besar. Dan itu akan membahayakan nyawa nya."


"Kami akan melaporkan ini pada Atasan terlebih dulu, jika memungkinkan tindakan itu harus di undur. Karena sebentar lagi mendekati Sidang putusan akhir untuknya."


Sang Dokter hanya terdiam dengan mengerutkan keningnya, dia akan memeriksa lebih lanjut apakah pengangkatan benjolan di dekat hatinya bisa di tunda untuk beberapa waktu atau tidak.


...Bersambung....