
Setelah mencari sampai keluar hutan belantara, Ardi hanya dapat menemukan jejak roda mobil yang pergi dari hutan itu, terlihat dia sangat kesal tidak dapat melihat siapa antek penjahat itu, dengan langkah gontai Ardi kembali ke gubuk tua sang dukun dan mengatakan pada Larasati, jika dia tidak berhasil menemukan orang yang mengikuti mereka.
Kenapa antek-antek penjahat itu bisa mengetahui keberadaanku, apakah dia mengikutiku dari kampus, batin Larasati dengan mengerutkan keningnya.
Kemudian dukun itu mengatakan pada mereka, jika dari awal orang yang mengikuti mereka sudah mengawasi mereka dari awal, sebelum keduanya pergi ke hutan itu, lalu Ardi meminta petunjuk pada dukun tua itu, supaya dia bisa mencari tau siapa yang telah mengawasi mereka, tapi dukun itu hanya tersenyum kecut seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah mengatakan, jika aku tidak dapat memberitahu lebih dari yang ku beritahu di dalam tadi, cepat atau lambat gadis ini akan menemukan suatu kebenaran yang sangat pahit", ujar sang dukun.
"Apa maksudmu mbah, bukankah aku akan tenang ketika mengetahui semua kebenarannya nanti".
" Di antara kebenaran itu, akan ada kepahitan untukmu, kau harus memilih dan mengambil keputusan".
"Tentu saja nyawa harus dibayar nyawa mbah, kenapa Larasati harus memilih, pasti dia akan melenyapkan dalang kejahatan itu, karena orang itu adalah bos besar dari semua penjahat itu", celetuk Ardi.
"Kau bisa beranggapan seperti itu, tapi kenyataan yang akan dihadapinya berbeda, meski Larasati ingin menghabisi nyawa semua penjahat itu, akan ada satu orang yang akan membuatnya ragu untuk melenyapkan nya, siapkanlah hati dan mentalmu, tunggu sampai lusa depan, apakah kau berhasil menemukan semua penjahat itu atau tidak, jika hanya anak buahnya saja, kau masih memiliki waktu untuk memikirkan kata-kata ku dengan baik", jelas sang dukun seraya melangkahkan kaki nya ke dalam gubuk.
Setelah itu Ardi mengajak Larasati untuk kembali ke kota, karena urusan nya disana sudah selesai, tapi Larasati seakan terpaku karena mendengar penjelasan dukun itu.
Apakah yang akan aku hadapi ke depan nya, kenapa dukun itu mengatakan sesuatu yang membuatku penasaran, apakah salah satu penjahat itu mengenal diriku, batin Larasati resah.
Plaaak...
Ardi menepuk pundak Larasati yang masih berdiri di tempatnya, gadis itu tidak bergeming meski Ardi berteriak memanggil namanya sedari tadi.
"Ada apa sih Di, kau mengagetkan ku saja", seru Larasati mendengus kesal.
"Bagaimana aku tidak menepuk pundakmu, aku sudah berteriak memanggil mu daritadi, tapi kau hanya diam membisu melamun disini", tukas Ardi seraya menarik tangan Larasati.
Kemudian mereka menaiki sepeda motor kembali, kali ini Ardi ingin mengajak Larasati ke rumah kost teman nya, karena disana banyak mahasiswa baru yang datang dari desa, Ardi sengaja mengajak Larasati kesana dengan tujuan mencari lelaki perjaka untuk tumbal selanjutnya, dan disepanjang perjalanan Ardi mengatakan banyak hal pada Larasati, tapi gadis itu hanya terdiam dan masih sibuk dengan pikirannya sendiri, namun Ardi kembali mengagetkan Larasati dengan mengerem motor nya tiba-tiba.
"Aww kau mengagetkan ku lagi kan Di", seru Larasati seraya menepuk pundak Ardi.
"Daritadi aku mengajakmu berbicara tapi kau sama sekali tidak menjawab ku Ras, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?", tanya Ardi penasaran.
"Sebenarnya aku kepikiran dengan ucapan dukun tadi, aku takut menerima kenyataan jika salah satu penjahat itu adalah orang yang aku kenal, entah aku bisa membalaskan dendamku tanpa beban atau tidak, aku jadi takut Di", jawab Larasati dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Kau tidak perlu takut ataupun ragu Ras, semua penderitaan yang telah kau alami tidak sebanding dengan keraguanmu saat ini, kau sudah kehilangan segalanya, kehormatan mu, ayahmu, bahkan lelaki yang kau cintai telah direbut sosok gaib sembahan mu, kau harus membulatkan tekad untuk membalaskan dendammu, meski siapapun dalang kejahatan itu, aku mendukung mu sejauh ini, karena aku mengerti penderitaanmu Ras, hanya kau satu-satunya teman baikku, aku ingin kau mendapatkan keadilan", ucap Ardi meyakinkan Larasati.
"Baiklah Di, terimakasih selalu mendukungku dan membantuku, jika tidak ada kau, entah aku bisa melanjutkan semuanya atau tidak", ujar Laras seraya memeluk Ardi dari boncengan belakang sepeda motor.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan nya, sampai di sebuah rumah kost sederhana dengan cat berwarna biru laut di temboknya.
Tok tok tok...
"Permisi, Dimas nya ada tidak?", tanya Ardi pada seorang lelaki muda dengan kumis tipis di atas bibirnya.
"Maaf mas, saya baru kost disini, jadi belum mengenal orang yang ngekost disini", jawabnya seraya mencuri pandang menatap Larasati.
"Oh iya tidak apa-apa, jika boleh kami mau menunggu disini boleh, biar aku menelepon teman ku Dimas terlebih dulu", ucap Ardi pada lelaki muda itu.
Karena terpikat dengan pesona kecantikan Larasati, lelaki muda itu mempersilahkan keduanya untuk menunggu di ruang tamu kost itu, nampak Ardi berjalan ke teras rumah untuk menghubungi Dimas melalui panggilan telepon, sementara Larasati melancarkan aksinya dan menebarkan pesona nya, tidak membutuhkan waktu lama, lelaki muda itu memperkenalkan dirinya pada Larasati, dia adalah Tedy, anak mahasiswa baru yang baru saja datang ke kota itu, Larasati melihat melalui batin nya, mencari tau apakah Tedy masih perjaka atau tidak, untuk sesaat Larasati bingung karena aura Tedy seakan tertutup sesuatu.
Kenapa aku tidak dapat melihat lebih dalam lagi, ada apa sebenarnya, aku mencium darah perjaka darinya, tapi seakan dia pernah melakukan sesuatu sebelumnya, batin Larasati didalam hatinya resah.
...Dukung Author yuk kak, jangan lupa berikan Vote atau gift nya, makasi 🤗...
...Bersambung. ...