Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Karsiti kerasukan makhluk gaib.


Sore itu Awan datang bersama beberapa santri, mereka bersiap melakukan pengajian di rumah Larasati. Terlihat Karsiti terbaring di atas ranjangnya, sorot mata nya kosong seakan tidak ada kehidupan didalamnya.


Ketika lantunan ayat-ayat suci dibacakan, terdengar suara gaduh dari dalam kamar Karsiti. Beberapa barang terjatuh dari tempat nya, kedua pembantu nampak ketakutan. Mereka duduk saling berhimpitan, Parjo duduk di depan kamar Karsiti dengan menelan ludahnya kasar. Terlihat Karsiti bangkit dari tidurnya, matanya melotot ke arah pembantu nya. Dengan sekuat tenaga Karsiti mendorong kedua pembantu nya, hingga mereka jatuh tersungkur ke lantai. Parjo berusaha memegangi Juragan nya, tapi amarah Karsiti terlalu besar. Hingga Parjo juga menjadi korban, tubuhnya dilemparkan begitu saja. Kepala nya membentur kaki meja yang ada di dapur, karena kegaduhan terdengar Awan melangkahkan kaki nya ke belakang. Dia membulatkan kedua matanya, memandang Karsiti yang seperti kesetanan.


Karsiti berjalan merangkak di atap rumahnya, sontak saja beberapa santri ketakutan dan menghentikan bacaan doa nya.


"Adik-adik tolong lanjutkan bacaan doa kalian, beliau sedang kerasukan. Jika kalian berhenti membaca ayat-ayat suci, kita tidak bisa menyadarkan nya." Pekik Awan dengan wajah cemas.


Bacaan ayat suci terus dilantunkan, Karsiti memekik dan terjatuh dari atas atap itu, Awan menangkap nya dari bawah. Karsiti terus meronta kepanasan, matanya nyalang dengan raungan dan tangan yang mencakar tembok rumah.


"Dengan ijin Allah yang Maha Kuasa, ku musnahkan kau dengan bacaan ayat-ayat suci Nya." Ucap Awan dengan membacakan ayat kursi tepat ditelinga Karsiti. Tubuhnya kembali berontak dan bergetar hebat, dia memuntahkan cairan berwarna hitam pekat dari dalam mulut nya. Perlahan gerakan nya melemah, mata yang sebelumnya nyalang kini mulai sayu, dan terpejam dengan tenang.


"Alhamdulillah beliau sudah berangsur membaik, teruskan bacaan doa kalian ya." Ucap Awan seraya membopong Karsiti kembali ke kamar nya.


Kedua pembantu rumah itu memberanikan diri untuk mendekat, Awan meyakinkan mereka jika kondisi Juragan nya sudah jauh lebih baik. Awan meminta segelas air putih yang akan dibacakan doa-doa, dia meminum kan air tersebut pada Karsiti ketika dia mulai membuka kedua matanya. Dengan terbatuk-batuk Karsiti meminun air pemberian Awan.


"Ada apa denganku Nak, kenapa kalian mengerumuni ku?." Karsiti menatap satu persatu orang yang ada di dalam kamarnya.


Dia mencari satu persatu orang yang sangat dirindukan nya. "Dimana Larasati, aku ingin bertemu dengan nya." Ucap Karsiti lirih.


Setelah menolong Pak Parjo, Awan membantu para pembantu menghidangkan suguhan pada para santri, lalu Awan berjalan ke teras rumah itu. Dia memandang ke segala arah, berharap Larasati akan segera datang.


Sebenarnya masih banyak yang harus ku jelaskan pada Larasati, perlahan aku mendapatkan ingatanku kembali, dan aku sedikit mengerti dengan apa yang telah terjadi, batin Awan dengan memijat pangkal hidungnya.


Dari dalam rumah, terdengar suara Karsiti yang mengucapkan terima kasih pada para santri. Karsiti memberikan amplop yang berisi beberapa lembar uang berwarna merah.


"Saya ingin berterima kasih pada adik-adik semuanya, maaf jika merepotkan kalian semuanya. Ini ada sedikit berkat untuk kalian semua, tolong terus doakan saya dan anak-anak saya." Ucap Karsiti dengan suara parau.


Semua santri berpamitan dan kembali ke pesantren, dari arah berlawanan nampak sesosok perempuan sedang berjalan perlahan ke rumah itu. Larasati menyunggingkan senyumnya, menatap sang ibu dengan penuh kerinduan.


"Syukurlah ibu sudah sadar kembali." Ucap Larasati menghambur ke pelukan ibu nya, lalu keduanya saling memeluk dengan berlinang air mata. Sementara Awan hanya tersenyum lega, dengan menatap Larasati penuh cinta.


...Terus dukung Author dengan memberikan Like dan Komentarnya, jika berkenan memberi hadiah dan Vote nya alhamdulillah sekali. Terima kasih 😘💕...


...Bersambung....