
Sesampainya di perkebunan, nampak kericuhan disana, ada beberapa buruh yang mogok bekerja, karena upah nya harus dipotong oleh pihak administrasi perkebunan, lalu Larasati bergegas menghampiri kerumunan itu, dia berteriak seraya berlari menanyakan apa yang membuat mereka marah.
"Kenapa kalian membuat kericuhan disini, bukankah upah kalian selalu dibayarkan tepat waktu, kami sudah bersusah payah mencari pinjaman untuk menutup biaya produksi di perkebunan ini, dan saya mohon bapak-bapak bisa bekerja sama dengan kami, jangan membuat produksi tersendat dengan demo yang kalian lakukan ini", seru Laras dengan wajah cemas.
Terlihat buruh-buruh itu menundukan kepalanya, mereka tidak sampai hati mendengar penjelasan anak juragan nya itu, tapi mereka terdesak dengan kebutuhan hidup setiap harinya, lalu salah satu buruh yang merupakan mandor perkebunan, berusaha menjelaskan pada Larasati alasan kenapa mereka semua melakukan demo itu.
"Maaf mbak Laras, sebelumnya upah kami memang selalu dibayarkan terlambat, tapi uang itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami semua, tapi sekarang upah kami selalu dibayarkan tepat waktu dengan potongan yang lumayan besar, apakah salah jika kami mempertanyakan potongan upah yang lumayan besar bagi kami semua", ucap mandor perkebunan.
Potongan upah, kenapa aku baru mendengarnya, apakah ibu sudah tau ini, batin Larasati dengan mengkerutkan keningnya.
Setelah itu Larasati berjalan menghampiri bapak tirinya, dan menanyakan perihal potongan upah para buruh perkebunan, lalu juragan Suripto menjelaskan pada anak tirinya itu, jika itu adalah kebijakan baru yang di ambil untuk menutupi biaya tak terduga dan juga asuransi jiwa para pekerja.
"Maaf nduk bukan nya aq yg memutuskan semua nya begitu saja, tapi pihak administrasi yang membuat kebijakan itu, dan ibumu juga sudah menyetujuinya, mungkin dia lupa mengatakan nya padamu", jelas juragan Suripto.
Kemudian lelaki itu mengatakan pada semua pekerja, jika potongan upah itu bisa mereka gunakan sewaktu-waktu mereka sakit, sehingga mereka bisa berobat ke dokter langganan perkebunan, nampak mandor pekerja hanya terdiam dengan mengkerutkan keningnya, mereka nampak kebingungan harus berkata apa, lalu Larasati mengatakan jika dia akan mengkaji ulang aturan itu.
"Saya minta bapak-bapak semua kembali bekerja seperti biasa, saya akan melihat semua prosedur yang ada, jika memungkinkan saya akan mengurangi jumlah potongan upah itu, semoga bapak semua bisa mengerti dan saling bekerja sama", tukas Laras berusaha menenangkan para pekerja.
Kemudian satu persatu dari mereka melangkahkan kaki nya pergi, beberapa ada yang kembali bekerja di perkebunan, dan yang lain nya pergi entah kemana, nampak mandor perkebunan berbicara empat mata dengan Larasati, sepertinya dia mengeluhkan cara bekerja bapak tirinya itu, menurut mandor itu juragan Suripto jarang berada di kantor perkebunan, hanya beberapa kali saja dia datang dalam sepekan, dan untuk potongan upah itu mereka semua tidak diberi tau sama sekali, jadi tidak ada musyawarah yang dilakukan.
"Mbak Laras tau sendiri kan hampir semua warga desa ini bergantung dari hasil perkebunan ini, mereka semua terpaksa menerima aturan yang merugikan nya, karena jika mereka menolak makan pihak kantor akan memecat mereka, sampai akhirnya kami semua bersatu untuk demo, dan mempertanyakan potongan upah itu, dan jika saya boleh memperingatkan mbak Laras, tolong berhati-hati lah dengan bapak tiri mu mbak, kami mempunyai pemikiran jika juragan Suripto ingin mengambil alih usaha mendiang juragan Darman, sudah dari lama mereka sudah bersaing, sampai akhirnya dia yang memimpin usaha mendiang juragan Darman", ucap mandor pekerja perkebunan itu dengan menundukan kepalanya.
"Baiklah terimakasih pak, saya akan memikirkan semua yang bapak katakan, saya harap bapak bisa mengajak semua pekerja untuk kembali bekerja, setelah ini saya akan mengevaluasi kebijakan baru itu", jelas Larasati seraya berjalan pergi ke arah kantor perkebunan.
Nampak juragan Suripto membulatkan kedua matanya, menatap penuh kebencian pada mandor itu, lalu dia berjalan mengikuti anak tirinya, terlihat Larasati sedang sibukembaca berkas-berkas di kantor, dan melihat semua data di komputer, tapi juragan Suripto terlalu licik, sehingga dia sudah mempersiapkan semuanya, supaya Larasati tidak mengetahui manipulasi data yang telah dia lakukan.
Tidak ada yang salah dengan data-data ini, semua sudah sesuai dengan ketentuan, tapi potongan upah pekerja terlalu besar, aku harus membicarakan nya lagi, batin Larasati seraya bangkit dari duduknya.
"Pak bisakah kita pangkas biaya lain untuk menambah upah para pekerja, kenapa upah untuk pekerja di kantor tidak di potong seperti pekerja kebun itu, jadi mereka bisa merasakan potongan upah yang sama, toh kalau dilihat pekerjaan di lapangan lebih berat".
"Terserah kau saja nduk, jika menurutmu itu yang terbaik kau bisa membuat laporan keuangan untuk bulan depan, supaya administrasi kantor menghitung ulang upah semua pekerja", seru juragan Suripto agak kesal.
Kemudian lelaki itu keluar dari kantor itu, dia mendengus kesal karena anak tirinya selalu menghalangi rencana nya untuk menguasai harta kekayaan almarhum ayahnya.
Sepertinya aku harus melakukan sesuatu pada Larasati, supaya dia tidak ikut campur dengan pekerjaanku, aku ingin dia selalu setuju dengan apapun yang ku lakukan, jika memungkinkan aku akan menggunakan ilmu pelet padanya, gumam juragan Suripto seraya melangkahkan kakinya ke mobil.
Setelah itu juragan Suripto bersama tangan kanan nya pergi ke rumah dukun langganan nya, banyak rencana yang ingin dilakukan nya, tapi dia tidak tau jika Larasati yang sekarang bukan lah manusia biasa seperti sebelumnya, karena sebagian jiwa Kanjeng Ratu Ageng Sedo bersemayam pada raganya.
...Dukung Author yuk kak berikan Vote dan hadiahnya, dan bantu doa untuk kesembuhan anak bulu ku ya kak, agak tidak semangat karena anabul sakit 🤧...
...Bersambung....