
Larasati berlari ke sepanjang lorong, mencari keberadaan jenazah Ibunya. Ia menjerit histeris dengan berderai air mata. Dan dibelakangnya nampak Mbok Trinem lari dengan tergopoh-gopoh mengejar Larasati.
Nampak tubuh terbujur kaku tertutup kain berwarna putih. Larasati berjalan tertatih masuk ke dalam kamar mayat. Nampak Awan dan Pak Parjo ada di dalam ruangan itu. Pak Parjo berusaha menghentikan langkah Larasati, tapi Awan melarang nya, ia membiarkan Larasati mengeluarkan semua kesedihannya. Karena setelah ini ia harus tegar menghadapi kenyataan, apalagi ada seorang bayi kecil yang membutuhkan kasih sayang darinya.
Terdengar Larasati berteriak memanggil nama Ibunya berulang kali. Ia mengecupi wajah Ibunya dengan berderai air mata pilu.
"Larasati, jangan menghambat kepergian Ibumu ke alam keabadian. Tangisan yang menetes di jenazahnya hanya akan memperberat langkahnya meninggalkan dunia fana ini. Kau harus ikhlas dan menerima kenyataan pahit ini. Kami semua ada disini untuk menguatkanmu, mari kita bawa pulang jenazah Ibumu. Dan segera mengubur jasadnya, karena lebih cepat akan lebih baik."
Tak ada jawaban dari Larasati, ia tak bergeming dari tempatnya. Ia masih mendekap tubuh kaku Ibunya, lalu Mbok Trinem memeluk Larasati dan membuatnya tenang. Bagaimanapun Mbok Trinem sudah lama bekerja di keluarganya, Larasati pasti akan sedikit mendengarkan ucapan perempuan tua itu.
"Mbak Larasati harus bisa menerima kepergian Juragan Ibu dengan berlapang dada. Beliau pasti bersedij jika melihat Mbak Laras seperti ini. Yang kuat Mbak, InsyaAllah Juragan Ibu sudah bisa tenang. Sekarang tugas kita yang masih hidup ini adalah mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhirnya." ucap Mbok Trinem berlinang air mata pilu.
Setelah semua berkas beres, jenazah Karsiti sudah diperbolehkan dibawa pulang. Tapi bayi kecil itu masih harus tinggal di Rumah Sakit selama beberapa hari.
"Ras, Adikmu harus tinggal disini karena ia masih terlalu lemah dan membutuhkan perawatan khusus. Untuk sementara kita tinggalkan ia disini dulu, kita harus mengurus jenazah Ibumu." kata Awan seraya memapah Larasati berjalan.
"Aku tak perduli padanya, biarkan saja bayi itu disini. Karena dia dan Ayah nya, Ibuku menjadi sakit dan kini tiada huhuhu. Aku tak ingin melihatnya lagi!" seru Larasati penuh kebencian.
Tak ada yang bisa menenangkan apalagi menghibur Larasati. Semua orang kini membantu prosesi pemakaman Karsiti. Nampak semua warga desa hanyut dalam kesedihan. Karena dimata semua orang, Karsiti adalah orang yang sangat baik. Ia sering membantu warga yang kesusahan, karena itulah saat ini rumahnya dipenuhi warga yang melayat.
Terdengar beberapa warga yang membicarakan bayi Karsiti. Mereka merasa iba dengan bayi itu, karena menurut mereka Larasati tak akan mungkin bisa menyayangi adiknya. Mengingat bayi itu adalah darah daging Juragan Suripto. Lelaki yang telah membunuh Ayah nya serta menodai dirinya. Pembicaraan warga desa menjadi topik hangat saat melayat, sementara Larasati yang mendengar desas-desus itu merasa malu. Larasati berlari ke kamarnya dengan berderai air mata.
"Huss jangan asal ngomong kalian, jaga perasaan Mbak Larasati. Lihatlah ia mendengar ucapan kalian, pasti saat ini ia sedang menangis. Kalian itu kesini untuk melayat dan mendoakan Juragan Karsiti. Bukan untuk bergosip ngomongin anak-anak nya!" bentak Mbok Trinem yang tak sengaja melihat Larasati menangis.
"Loh kita gak gosip loh Mbok, kan emang bener yang kita bicarakan. Kalau Larasati gak mungkin bisa sayang ke adiknya dengan setulus hati."
Awan yang mendengar perdebatan itu, bergegas menyusul Larasati di kamarnya. Ia memeluk Larasati dan memenangkan nya.
"Kau tak perlu mendengarkan ucapan mereka Ras. Wajar saja mereka membicarakan hal itu, karena bagaimana pun itu adalah fakta. Kau harus bisa menerima ucapan pahit mereka. Tugasmu sekarang adalah mengantarkan Ibumu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Lalu kau harus menjaga adikmu sampai ia tumbuh dewasa."
"Tidak Mas! biarkan saja bayi itu bersama Suripto. Aku tak sudi melihatnya lagi!"
"Laras, apa kau lupa dengan pesan terakhir Ibumu? apa kau mau mengingkari janjimu padanya? mana mungkin Suripto bisa mengurus bayi itu di dalam penjara?"
"Benar juga apa yang dikatakan Mas Awan, aku akan melenyapkan Suripto, bagaimana mungkin ia membesarkan darah dagingnya. Lalu apa yang harus aku lakukan dengan bayi itu?" batinku di dalam hati.
Terdengar suara ketukan pintu, Pak Parjo datang untuk memberi tahu jika jenazah sudah siap berangkat ke pemakaman. Lalu Awan mengajak Larasati keluar, ia memapahnya untuk mengantarkan jenazah sang Ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Nampak semua orang hanyut dalam kesedihan. Beberapa orang membantu Awan menurunkan jenazah Karsiti ke liang kubur, terlihat Larasati semakin terisak, bahkan ia berdiri sempoyongan di pemakaman. Lalu Mbok Trinem memegangi pundak Larasati, supaya perempuan itu tidak jatuh pingsan.
Kabar meninggalnya Karsiti telah sampai di telinga Juragan Suripto. Ia sedang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang Rumah Sakit. Rupanya ia masih memiliki hati nurani sedikit, Suripto mencemaskan bayi yang baru saja dilahirkan Karsiti. Ia takut jika satu-satunya darah dagingnya akan dilenyapkan Larasati.
"Tolong Pak saya ingin melihat bayi saya. Saya takut ia dihabisi oleh perempuan ja*lang itu!" teriaknya pada petugas polisi.
...Apa yang akan terjadi selanjutnya, ditunggu dengan sabar ya. Sambil nunggu othor up baca Novel ini juga yuk. Masih anget baru release 😉...
Yang ini kelanjutan Novel Desa Rawa Belatung. Jangan lupa dibaca juga ya teman-teman 🤗