
"Dahulu kala, ratusan tahun yang lalu, aku ingin memperistri Kanjeng Ratu Ageng Sedo, tapi dia menolak pinanganku karena wajahku yang buruk rupa, dia memilih seorang lelaki keturunan manusia suci untuk menjadi pendamping nya, karena sakit hati atas penolakannya, aku melenyapkan lelaki itu, tapi setelah itu Ageng Sedo tetap menolakku, dan dia berjanji akan menerima pinanganku setelah wajahku yang buruk ini berubah, tapi setelah puluhan tahun pertapaan, dan aku kembali dengan keberhasilan, kesaktianku bertambah sehingga rupaku menjadi awet muda dan tampan. Ageng Sedo malah mengingkari janjinya, ku putuskan untuk melakukan segala cara untuk memilikinya, salah satunya dengan merebut mustika yang berada di atas mahkotanya, dan hanya kau saja yang bisa membantuku, kau harus bekerja sama denganku, temui saja anak tiri mu itu, buat dia tidak sadarkan diri dan siksa dia, sampai dia meminta pertolongan pada Ageng Sedo, dan saat itulah aku akan datang berhadapan langsung dengannya, aku akan membuatnya lemah setelah itu mahkota yang berada dikepalanya akan ku rebut." Jelas Ki Barata menyipitkan matanya, sorot balas dendam terlihat di matanya.
Juragan Suripto tertegun mendengar cerita langsung dari Ki Barata, dia memandang orang sakti itu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ki Barata memberikan sebuah batu merah delima, batu itu mengeluarkan suar cahaya berwarna merah.
"Kau harus mengikat batu merah delima ini ditubuh anak tiri mu, setelah itu dia akan kehilangan kesadarannya, dan lekas bawa dia ke pondok ku, karena aku akan menggunakannya untuk memanggil Kanjeng Ratu Ageng Sedo datang, dengan menyiksa pengikutnya Ageng Sedo akan terpanggil datang, saat itulah aku akan menagih janji ratusan tahun silam." Ucap Ki Barata.
Juragan Suripto berbicara dalam hatinya, dia tidak yakin dapat membawa Larasati ke pondok orang sakti itu, nampak Ki Barata menatap tajam ke arahnya dengan membulatkan kedua matanya.
"Kau meragunkanku?."
Dengan cepat Juragan Suripto menggelengkan kepalanya. "Aku hanya tidak yakin dapat membawa Larasati sampai kesini Ki, dia bukanlah gadis biasa, mana mungkin aku dapat melawannya." Sahut Juragan Suripto dengan menghembuskan nafas panjang.
"Kau hanya perlu membuat perempuan itu tidak berdaya, setelah itu dia tidak akan dapat mengendalikan kesaktian yang bersemayam didalam tubuhnya, culik Ibunya dan ancam dia untuk menyerahkan diri padamu, setelah itu dia pasti kalut dan menemuimu, saat itulah kau ikatkan batu merah delima itu padanya."
Apakah aku bisa menggunakan Karsiti untuk mengancam Larasati, tapi jika aku tidak melakukannya, nyawaku sendiri yang akan terancam, batin Juragan Suripto gelisah.
"Aku tau masih ada ketakutan didalam dirimu, aku akan memberikanmu jimat pelindung, yang akan melindungimu dari kekuatan gaib yang perempuan itu miliki."
"Jadi aku pasti aman kan Ki, Kanjeng Ratu tidak akan bisa mencelakai ku kan?." Tanya nya dengan peluh yang membasahi keningnya.
"Kau hanya akan terlindungi dari anak tiri mu, dan untuk Ageng Sedo, aku tidak bisa menjamin nya, yang terpenting kau bisa terbebas dari amarah dan dendam nya."
Dengan raut wajahnya yang bingung, lelaki itu melangkahkan kakinya menghampiri Mbah Warno, tanpa mengatakan apa-apa dukun itu mengetahui isi hati Juragan Suripto. "Tutup mulutmu, kita bicara di tempat lain." Bisik Mbah Warno.
Mereka berpamitan pada Ki Barata, dan bergegas meninggalkan pondok itu, Juragan Suripto terdiam memikirkan berbagai rencana yang akan dilakukan nya, Mbah Warno berkata, jika dia harus yakin dengan perintah Ki Barata.
Sesampainya di rumah Mbah Warno, Juragan Suripto enggan kembali ke rumah, dia ketakutan jika harus berhadapan langsung dengan Larasati, lalu dia memikirkan sebuah rencana untuk mengelabuhi Karsiti, dia ingin Karsiti keluar dari rumah itu, supaya dia dengan mudah dapat menculiknya.
"Juragan Nyonya, saya diperintahkan Juragan Tuan untuk membawa Juragan pergi ke suatu tempat ada hal penting yang harus Juragan ketahui." Jelas Hendra, salah satu ajudan Juragan Suripto.
"Memangnya ada apa Hen, apakah suamiku berhasil menemukan Larasati?." Tanya Karsiti dengan wajah cemas.
Karena tidak tau harus menjawab apa, Hendra hanya terdiam dengan menundukan wajahnya, Karsiti yang terlalu mencemaskan anaknya, tidak berpikir panjang untuk pergi bersama Hendra.
Hendra membawa Karsiti ke sebuah rumah kuno, nampak Karsiti turun dari mobil itu dengan wajah yang semakin cemas, Juragan Suripto keluar dari rumah kuno itu, berjalan menghampiri Karsiti yang terlihat bermuram durja.
"Istriku maafkanlah suamimu ini, aku tidak bisa menyelamatkan Larasati dari sekapan penjahat yang sedang menculiknya, mereka ingin tebusan uang yang sangat banyak, jika kita ingin Larasati kembali dengan selamat, karena aku mencemaskan mu di rumah itu, aku menyiapkan tempat ini untuk persembunyian mu, aku tidak ingin bayi yang ada didalam perutmu kenapa-kenapa, kau harus menandatangani beberapa berkas penjualan aset-aset mu, setelah aku mendapatkan uang dari hasil penjualan tanah mu, aku akan membawa Larasati kembali, harta bisa dicari tapi keselamatan Larasati lebih penting dari segalanya." Ucap Juragan Suripto bersandiwara.
Beberapa berkas sudah siap untuk ditandatangani, Karsiti nampak percaya dengan drama yang suaminya ciptakan, tanpa memperdulikan apapun Karsiti menandatangani berkas-berkas itu, yang tanpa Juragan Suripto ketahui, jika tanpa persetujuan tanda tangan dari Larasati, aset-aset itu tidak akan pernah bisa dijual, karena harta yang ditinggalkan Juragan Darman masih berstatus milik bersama, karena terburu-buru Juragan Suripto tidak memeriksa berkas itu terlebih dulu.
"Kau beristirahat saja di kamar aku akan pergi ke notaris untuk mengurus segalanya, ingatlah pesanku baik-baik, jangan pernah pergi dari rumah ini, karena hidupmu sedang terancam, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu." Ucapnya bersandiwara.
"Aku berjanji mas, aku akan tetap berada disini menunggu mu pulang bersama Larasati, berjanjilah kai akan datang bersamanya." Pinta Karsiti dengan berlinang air mata.
Setelah itu Juragan Suripto meninggalkan rumah itu, dia meninggalkan pesan untuk Larasati, yang dikirimkan melalui pesan singkat di ponselnya.
Entah kau akan datang mencari mu atau tidak, saat ini aku hanya akan menyelamatkan hidupku, jika aku harus mengorbankan Karsiti dan juga bayi yang ada didalam perutnya, aku tidak akan sungkan-sungkan melakukannya, selama aku masih bisa selamat, aku akan melakukan segalanya, batin nya seraya mengemudikan mobil.
Di pedalaman hutan belantara, Larasati masih bertapa di dalam Goa, tiba-tiba perasaannya gelisah teringat ibunya, gadis itu bangkit dari duduknya dengan mengerutkan keningnya.
"Kenapa perasaanku tidak tenang, Jangan-jangan terjadi sesuatu pada ibu, aku tidak akan mengampuni siapapun yang berani menyentuh ibuku." Seru Larasati pada dirinya sendiri.
...Bersambung....