Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Rahasia yang hampir terbongkar.


Kemudian juragan Suripto mengakhiri panggilan telepon itu, dan menanyakan apa yang Laras lakukan.


"Apa kau membutuhkan sesuatu Ras? kenapa kau bangun tengah malam begini", tanya juragan Suripto dengan mengerutkan keningnya.


"Hmm tidak ada, permisi", jawabnya seraya kembali ke kamarnya.


Untung saja dia tiidak bertanya macam-macam, sepertinya dia tidak mendengar pembicaraanku, hampir saja aku mengatakan segalanya, tapi aku sadar dengan kedatangannya, batin juragan Suripto dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Keesokan harinya Larasati meminta Ardi untuk menjemput nya, tapi dia sedang berada di luar kota bersama salah satu kerabatnya, sehingga Larasati harus pergi mencari calon tumbalnya seorang diri, sebenarnya semalaman dia tidak bisa memejamkan kedua matanya, karena terus teringat dengan mimpinya tentang ucapan Kanjeng Ratu Ageng Sedo, tapi setengah hatinya tidak rela jika harus melepaskan Adinata begitu saja, karena Laras juga mengingat ucapan laki-laki yang masih dicintainya itu, jika Adinata akan mencari cara supaya dia dapat terbebas dari ikatannya dengan Ageng Sedo, setelah dirinya selesai membalaskan dendamnya, sehingga Larasati memutuskan untuk mencari tumbal untuk ritual nya beberapa hari lagi.


Bagaimanapun aku masih sangat mencintai mas Adinata, aku belum sanggup merelakan nya begitu saja, batin Laras didalam hatinya.


Setelah itu Larasati pergi ke kampus dengan mengemudikan mobil sendiri, di tengah perjalanan hampir saja dia menabrak seorang pemuda yang tengah menyeberangi jalan, sontak Laras membanting setir untuk menghindari tabrakan, lalu beberapa orang menghampiri nya, dan menanyakan bagaimana keadaannya, kemudian Larasati mengatakan jika dia baik-baik saja.


"Maaf ya mbak jika saya membuat kaget, karena tiba-tiba menyeberang, tadi ada seekor kucing yang hampir terlindas mobil, makanya saya berlari untuk menolongnya", ucap pemuda berperawakan seperti orang Arab.


"Iya mas tidak apa-apa", jelas Larasati dengan menerawang melalui batin nya.


Ternyata pemuda ini masih perjaka, meski wajahnya sudah cukup berumur, apa sebaiy aku mendekati nya saja ya, aku tidak tau harus mencari lelaki perjaka dimana lagi, batin Larasati dengan menundukkan kepalanya.


Terdengar lelaki itu meyakinkan keadaannya, apakah ada yang bisa dibantu nya, lalu Larasati bersandiwara seakan kepalanya tiba-tiba sakit, dan pemuda itu menawarkan untuk membawanya ke rumahnya.


"Jika kau berkenan, aku akan membawamu ke rumahku, kebetulan rumahku tidak jauh dari sini".


Nampak Larasati menerima ajakan lelaki itu, dan lelaki yang belum dia kenal namanya itu mengemudikan mobilnya menuju sebuah tempat yang sangat besar dari luar, ternyata lelaki itu tinggal di sebuah pondok pesantren, sial untuk Larasati haris berurusan dengan orang yang memahami agama, sesampainya disana lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai Sadam, dia adalah anak pemilik pondok pesantren, tapi ternyata dugaan Laray salah, meskipun Sadam tinggal disana iman nya tidak begitu kuat seperti yang dibayangkan nya, Sadam mengaku pada Larasati jika tadi dia sedikit mabuk setelah mengkonsumsi minuman keras, karena di depan banyak orang Sadam tidak berani mengatakan yang sebenarnya.


"Setelah aku melihat mu, jantungku berdetak sangat kencang, belum pernah aku melihat gadis secantik dirimu Ras, bolehkah aku mengenal mu lebih dekat lagi".


Bagaikan gayung bersambut, Larasati tidak perlu susah-susah merayu lelaki itu, ternyata meski dia tinggal di kawan pesantren, pergaulan nya tidak terlalu kental agamanya, lalu Sadam berpamitan untuk ke belakang sebentar, dan Larasati menunggu kesempatan untuk memberikan ramuan supaya Sadam semakin terpikat dan berhasrat dengan nya, disaat Larasati membacakan mantra-mantra dan menyebutkan nama Sadam, ada seseorang yang masuk ke dalam ruang tamu rumah itu, sontak Larasati terkejut dan menghentikan kegiatan nya.


"Apa yang kau lakukan Ras, kau membaca mantra apa hah, jelaskan padaku atau aku akan mencari taunya sendiri", seru seorang lelaki.


Larasati sangat terkejut dan takut untuk membuka kedua matanya, tapi perlahan Laras memandang seorang lelaki yang tengah berdiri dihadapan nya dengan wajah yang sangat kesal, ternyata dia adalah Awan, lelaki yang selalu menggagalkan rencana nya untuk menumbalkan lelaki perjaka, yang sudah diincarnya.


Sebelum Larasati sempat menjawab ucapan Awan, nampak Sadam datang membawakan segelas minuman untuk gadis yang baru dikenalnya itu.


"Hei Wan, tumben kau datang ke rumahku, Ayahku sedang mengajar santri di pondok, lebih baik kau langsung kesana saja", ucap Sadam.


"Dam kau harus berhati-hati dengan gadis ini, ada yang tidak beres dengannya, percayalah padaku", jelas Awan meyakinkan Sadam.


"Maaf sepertinya kehadiranku di sini mengganggu kalian, aku permisi dulu", tukas Larasati seraya berlari keluar rumah itu.


Kemudian Awan mengejarnya, disusul dengan Sadam dibelakangnya, Awan menarik tangan Laras, dan mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.


"Apa kau sedang mempelajari semacam ilmu hitam Ras, aku sudah lama curiga padamu, dan hari ini aku melihatmu membaca mantra-mantra", ucap Awan dengan membulatkan kedua matanya.


Setelah itu Sadam melepaskan tangan Laras dari genggaman Awan, Sadam memaki Awan yang bertingkah tidak sopan pada tamunya, lalu Awan mengatakan pada Sadam, jika dia sudah lebih dulu mengenal gadis yang bersamanya.


"Lebih baik kau diam dulu Dam, aku ingin bertanya tentang sesuatu yang sangat penting dengannya", seru Awan menarik paksa tangan Larasati.


Nampak Sadam sudah tersulut emosi, dia memberikan bogem mentah di wajah Awan, sontak Awan jatuh terpelanting ke tanah, seketika semua santri yang ada disana melihat pertengkaran keduanya, sementara Larasati bertambah panik dan tidak tau harus berbuat apa, karena dia lebih dulu mengenal Awan, Laras berusaha melerai keduanya, dan menarik paksa Awan untuk segera pergi dari sana.


"Ayo pergi dari sini, tanyakan padaku apa yang ingin kau katakan", cetus Larasati menggandeng tangan Awan.


Mereka berjalan ke arah mobil Larasati, dan di dalam mobilnya Larasati membersihkan luka yang ada diwajah Awan.


"Kenapa kau selalu ikut campur dengan urusanku hah, kita belum lama mengenal, untuk apa kau selalu ingin tau urusanku, sudahlah berhenti untuk ingin tau apa yang akan aku lakukan, kau tidak pernah tau apa yang aku alami selama ini, jadi jangan sok tau dengan apapun itu", ucap Larasati dengan wajah sendu.


"Aku hanya tidak ingin orang-orang yang sudah aku kenal terjerumus dengan hal-hal yang negatif, percayalah aku tidak bermaksud buruk terhadapmu, apalagi kau berusaha melakukan sesuatu pada orang-orang yang aku kenal, bagaimana aku bisa tinggal diam Ras, aku ini tidak buta dan tuli, aku melihat dan mendengar segalanya, jika memang kau sedang kesusahan katakan saja padaku, InsyaAllah aku akan membantumu", jelas Awan dengan memandang wajah cantik Larasati yang berubah murung.


...Terus berikan dukungan Vote dan hadiahnya ya, jangan lupa tekan tombol like dan favoritnya, salam sayang untuk kalian semua 🤗...


...Bersambung....