
Setelah mendengar penjelasan Kanjeng Ratu Ageng Sedo, Larasati berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menerima kenyataan bahwa sebagian jiwanya sudah menyatu dengan sosok gaib yang ada di hadapannya. Nampak Kanjeng Ratu melepaskan Adinata yang sudah merasuk ke dalam raga Awan. Ki Barata tercekat dengan apa yang baru saja diketahui nya, ia ingin menghentikan Ageng Sedo membebaskan Awan. Tapi satu ucapan perempuan idaman nya itu, menghentikan niatnya.
"Jika kau ingin bersatu denganku, jangan pernah usik kehidupan mereka. Aku bersedia menerima pinanganmu dengan beberapa syarat. Hanya di malam-malam tertentu saja kita bersama, kau bisa berkuasa di wilayah ini. Dan jangan pernah kau campuri urusan di Kerajaan ku. Jangan kau turut campur dengan pembalasanku, pada para manusia laknat yang telah tega merenggut paksa kehormatan setiap wanita. Karena setiap wanita yang terenggut kehormatan nya secara paksa, akan ku lindungi dan ku bantu untuk membalaskan dendamnya. Dan semua manusia laknat itu akan menjadi budak abadi di alam ku!." Kanjeng Ratu Ageng Sedo berjalan mengambang menuruni tangga altar.
Ki Barata mengerutkan keningnya, ia terpaku memandang kecantikan paripurna sang Kanjeng. Mbah Warno berusaha mengatakan pada Ki Barata untuk mempertimbangkan persyaratan yang di ajukan, tapi Ki Barata mengacuhkan ucapan pengikutnya itu. Cinta nya pada Kanjeng Ratu Ageng Sedo lebih besar daripada hasratnya memiliki banyak pengikut.
Mbah Warno yang merasa tak dapat mengubah keputusan Ki Barata akhirnya pasrah. Ia tak mungkin melawan kedua makhluk sakti itu, lalu ia pergi meninggalkan bukit Alas Roban, untuk menemui Juragan Suripto dan memperingatkan nya untuk berhati-hati. Sementara Larasati bersama Awan kembali ke rumah. Nampak Karsiti sedang menunggu anak perempuannya di teras rumah. Hati nya sebagai seorang ibu merasa Sang cemas karena tiba-tiba sang anak menghilang dari rumah tanpa berpamitan.
"Nduk cah ayu, kau darimana saja to? Ibu sangat menghawatirkan mu. Apa yang terjadi pada kalian berdua, kenapa Awan terlihat lemah begitu?." Karsiti panik melihat kondisi Larasati yang nampak kelelahan, apalagi keadaan Awan seperti orang yang hampir kehilangan kesadarannya.
"Laras tidak apa-apa bu, mulai hari ini hidup kita akan baik-baik saja."
"Apa kau masih bersekutu dengan makhluk gaib itu nduk?."
Larasati menghembuskan nafas panjang, ia mendongakan kepalanya ke atas memandang sendu wajah ibu nya.
Merasa ada raut kesedihan diwajah ibunya, Larasati memandang lekat kedua mata sang ibu. Ia ingin tau apa isi hati ibunya yang sebenarnya, karena ada setengah kesedihan di raut wajah lega nya.
"Ibu tak menaruh kesedihan untuk lelaki laknat itu nduk. Ibu hanya berduka untuk calon adikmu yang akan segera lahir ke dunia ini. Nasibnya sangat buruk karena memiliki ayah seperti Suripto. Dan ketika ia lahir nanti, ia tak akan dapat melihat wajah ayahnya. Ia akan terlahir sebagai anak yatim, itu yang membuat ibu bersedih." Penjelasan sang ibu membuat Larasati tertunduk, duka sang ibu untuk calon adiknya memang wajar menurutnya.
"Maafkan Larasati bu, semuanya harus terjadi demi keadilan. Jiwa ayahku akan beristirahat dengan tenang setelah kematian Suripto, meski calon adikku akan terkena getahnya."
Kedua perempuan itu saling memeluk dan menguatkan, tiba-tiba Awan tersadar dan berusaha bangkit. Awan memandangi Larasati, ia seperti terkejut karena menyadari jika saat itu ia berada di dalam tubuh orang lain. Awan memegangi wajahnya dan berteriak memanggil Larasati. Sontak saja Larasati menghampiri Awan dan bertanya apa yang membuat nya berteriak histeris seperti itu.
Siapa aku sebenarnya? Kenapa aku seperti di antara dua ingatan, dan berada di tubuh orang yang tak ku kenali? batin Adinata yang ingatan nya kembali, tapi tubuh yang ia miliki bukanlah tubuhnya sendiri.
...Bersambung. ...