Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Pergolakan batin?


Larasati duduk di ujung koridor Kantor polisi, dia berurai air mata tidak tau harus berbuat apa. Ingin sekali rasanya dia melenyapkan Ayah tirinya, tapi kondisi sang ibu sedang dalam pengaruh ilmu Hitam dukun kepercayaan Juragan Suripto.


Bisikan-bisikan suara terus terdengar ditelinga nya, suara yang memintanya kembali ke jalan kebenaran.


"Segera bertaubat lah, temui ustadz di pondok pesantren, kau akan menemukan jalan dari semua masalah mu, sudahi dendam yang bersemayam didalam hatimu. Tidak semua keburukan harus dibalas dengan cara yang sama, percayalah padaku." Suara itu terdengar lirih ditelinga Larasati.


Kenapa aku terus mendengar suara Awan, apakah dia baik-baik saja, batin Larasati mencemaskan kondisi teman nya.


Setelah itu Larasati memutuskan untuk menjenguk Awan di Rumah Sakit, nampak Risma sedang duduk di depan ruang inap dan menyapa nya.


"Nak Larasati, sudah beberapa hari tidak pernah kesini, apa kabarnya?." Sapa perempuan dengan wajah lesu itu.


"Larasati baik bu, ibu sepertinya kelelahan, maaf ya Laras tidak bisa membantu menjaga Awan beberapa hari ini. Karena sekarang Laras sudah disini, ibu bisa kembali ke kontrakan dan istirahat dulu."


"Tidak Nak, ibu tidak mau meninggalkan Awan, kemarin dia sudah sempat tiada, detak jantungnya berhenti untuk sesaat. ibu benar-benar terpukul saat itu, karena hanya Awan saja yang ibu punya di dunia ini." Ucap Risma dengan berlinang air mata.


Larasati mengerutkan keningnya seakan tidak percaya, lalu dia memeluk Risma untuk menenangkan nya.


"Sudah ya bu, yang penting saat ini Awan sudah baik-baik saja, tadi perawat di depan sempat memberitahu ku, jika Awan sudah dipindahkan ke ruang inap, karena itulah Laras langsung kesini. Mari bu kita ke dalam, siapa tau ada yang Awan butuhkan."


Keduanya masuk ke dalam ruang inap itu, nampak Awan sedang memejamkan kedua matanya. Larasati melihat kondisi Awan yang jauh lebih baik beberapa alat kesehatan sudah terlepas. Hanya perban di tangan dan kepalanya saja yang belum dilepas. Karena mendengar suara orang didekat nya, lelaki itu terbangun dari lelapnya. Ditatap nya Larasati yang berada disamping perempuan berjilbab, Awan tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak rela mas kau menikah dengan Kanjeng Ratu Ageng Sedo, tapi kita tidak memiliki pilihan lain."


Sesosok perempuan gaib dengan wajah cantik jelita menghampirinya, dia mengancam akan mencelakai Larasati, jika mereka tidak segera menikah.


"Kangmas Adinata, kau harus menerima pernikahan ini, dan melupakan Larasati, jika tidak akan ku celana semua manusia yang kau sayangi."


Adinata... Iya itu adalah namaku, lalu siapakah Awan. Kenapa ibu itu memanggilku Awan? batinku dengan penuh tanya.


Awan Al Huda, tiba-tiba sebuah nama muncul dalam ingatan nya.


Benar namaku adalah Awan, lalu siapakah Adinata? Adinata Candra Kusuma, nama indah pemberian sang kakek, selalu terdengar agung ketika dia mengingat nya.


Bayang-bayang kehidupan Adinata mulai terlihat meski samar. Pikirannya bergejolak, dan membuat denyutan di kepalanya semakin sakit.


"Adinata itu aku... Awan juga aku... Tapi siapakah aku yang sebenarnya." Gumamnya dengan menggelengkan kepala berulang kali.


...Bersambung....