
Setelah mengantar Larasati ke kampus, Umar bergegas menghubungi juragan nya melalui panggilan telepon, untuk mengatakan kecurigaan anak tirinya, Umar menjelaskan jika Larasati mulai curiga dan menyelidiki beberapa tempat di dekat gudang miliknya, dan juragan Suripto pun mengatakan jika dia sudah menyadari hal itu, karena itulah pagi-pagi sekali dia sudah pergi dari rumah untuk memastikan tidak ada barang bukti lainnya pagi, karena kemarin Larasati menemukan beberapa topeng yang dikenakan anak buahnya.
"Lebih baik kau tetap awasi Larasati, jangan sampai dia kembali kesini sebelum aku memastikan tidak ada barang bukti yang tersisa disini", seru juragan Suripto seraya mematikan panggilan telepon itu.
Terlihat Umar menepikan mobil yang dikemudikan nya, lalu dia mengikuti pergerakan anak tiri juragannya itu, nampak Larasati sedang berbicara dengan seorang lelaki, keduanya seakan sedang berbicara serius, dan Umar berusaha mengingat siapa lelaki yang bersama Larasati, karena dia seperti pernah melihatnya.
Oh iya dia adalah pemuda yang pernah mengantar gadis itu kembali ke rumah, sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan, aku tidak dapat mendengar apapun dari jarak sejauh ini, tapi jika alu lebih mendekat kesana, Laras akan melihat keberadaanku, batin Umar dengan mengerutkan keningnya.
Tidak lama setelah itu Larasati pergi bersama Ardi dengan mengendarai sepeda motor, lalu Umar berjalan tergesa-gesa menuju parkiran mobil, untuk sesaat Umar kehilangan jejak Larasati, tapi dia berhasil menemukan keduanya yang masih berada disekitar kampus itu, nampak Umar menjaga jaraknya supaya mobil yang dinaiki nya tidak terlihat oleh Laras, sampai akhirnya Umar mengemudikan mobil memasuki kawasan hutan belantara yang sangat gelap meski di siang hari, dan di depan sana Ardi menepikan motornya, dia bersama Larasati berjalan memasuki hutan belantara itu, terlihat Umar berjalan dengan hati-hati mengikuti keduanya dari belakang.
Kreeaak...
Sebuah gubuk tua di tengah hutan tiba-tiba terbuka sendiri pintunya, keduanya masuk ke dalam sana dan terdengar seperti sedang berbicara dengan seseorang, Umar yang ketakutan berada di hutan angker itu, terlihat berdiri dengan tubuh yang bergetar, dia berusaha mendengar perbincangan mereka di dalam, dan yang dapat Umar dengar adalah Larasati menyerahkan topeng yang dibawanya, dan seorang lelaki dengan suara berat menjawab, jika orang yang memakai topeng-top ng itu beberapa masih hidup, dan yang lain nya telah tewas karena Larasati telah melenyapkan nya.
"Jadi benar mbah, pemilik topeng-topeng ini adalah penjahat yang telah menodai ku", seru Larasati dengan membulatkan kedua matanya.
"Ya kau tau itu dengan benar, bukankah jiwa gaib yang bersamamu telah membantumu, tapi aku tidak bisa mengatakan siapa dalang dari kejahatan itu, karena sosok gaib yang memiliki perjanjian denganmu bisa marah padaku, jika aku memberitahu segalanya padamu, karena yang telah alu lihat hanya dia saja yang berhak menunjukan segalanya padamu, kau tenang saja nduk, sosok gaib itu akan selalu membantumu dan mengiringi langkahmu untuk membalaskan dendammu, yang bisa ku beritahu hanyalah beberapa penjahat itu akan kembali lusa depan untuk menemui bos besarnya, jika kau beruntung melihatnya sendiri sosok gaib yang bersemayam dalam ragamu tidak akan bisa berbuat apa-apa", jelas lelaki tua di dalam gubuk itu.
"Tapi aku bisa mencarinya kemana mbah?", tanya Larasati gelisah.
Apakah itu orang sakti yang mengatakan segalanya pada Larasati, jika yang dikatakan nya benar, nyawa juragan Suripto sedang dalam bahaya, aku harus segera memberitahu nya, batin Umar seraya melangkahkan kakinya yang pergi.
Braaks...
Karena berjalan terburu-buru Umar tersandung ranting kering yang ada di jalanan setapak hutan itu, seketika semua orang yang ada di dalam gubuk tua itu terperanjat dan melihat keluar, nampak Umar panik dan ketakutan dia bersembunyi dibalik pohon besar dengan merangkak, karena kakinya terbelit ranting kering itu, dengan tergesa-gesa Umar berusaha melepaskan ranting yang melingkat di kakinya, namun tangan tersayat ranting pohon yang runcing, sehingga darah mengalir membasahi jalanan setapak yang ada disana, nampak Ardi mengerutkan keningnya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi disana, sedangkan lelaki tua yang ada disamping nya terlihat memejamkan kedua matanya, seraya berkata jika salah satu anak buah penjahat itu berada disana.
"Salah satu antek penjahat itu sedang mengintai kalian sampai ke tempat ini, rupanya dia sudah curiga dengan kalian berdua", ucap lelaki tua itu dengan tatapan tajam.
Seketika Ardi berlari ke segala arah mencari orang yang dimaksud dukun itu, tapi dia hanya menemukan noda darah dibalik pohon besar, dan noda darah itu mengarah keluar dari hutan belantara itu.
Sialan sepertinya dia sudah mengikutiku dari kota, batin Ardi seraya berlari keluar hutan belantara itu.
...Berikan Vote dan gift nya yuk kqk, supaya author semangat nulisnya, sedang dalam fase benar-benar lelah soalnya 🤧...
...Bersambung. ...