Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Bisikan gaib sang Kanjeng.


"Sadar Laras, kau tak boleh menuruti dendam itu. Bagaimanapun calon adikmu tak ada sangkut pautnya dengan ayahnya. Dia tetaplah adikmu, anak dari ibumu sendiri." kata Awan sambil menggenggam tangan Larasati.


Kanjeng Ratu Ageng Sedo sependapat dengan Awan. Perempuan gaib itu memperingatkan Larasati jika bayi yang tak berdosa itu, tak dapat menanggung beban dosa dari ayahnya.


"Bukankah menurutmu itu tak adil? meski ia adalah keturunan dari Suripto, bayi itu tetaplah darah daging ibumu. Dan kelak hanyau kau saja keluarga yang dimilikinya." ucap Kanjeng Ratu Ageng Sedo, meski ia adalah sosok gaib, ternyata masih ada hati naluri di dalam dirinya.


Awan menjadi dilema setelah mendengar ucapan perempuan gaib itu. Apa mungkin ia akan membantu Nyai Loreng untuk mengalahkan Kanjeng Ratu Ageng Sedo.


"Tidak! aku tidak boleh goyah. Tujuanku bukan untuk mengalahkan nya, tapi aku hanya ingin menyadarkan Laras kembali ke jalan yang benar." batin Awan di dalam hati.


Nampaknya Kanjeng Ratu Ageng Sedo mengetahui kegelisahan hati Awan, ia memandang Awan dan menyunggingkan senyumnya.


"Tak perlu ada yang diperdebatkan lagi, cepatlah pergi waktu kalian tak akan lama."


Setelah itu keduanya bergegas meninggalkan hutan. Dengan tergopoh-gopoh Awan membawa Larasati keluar dari hutan wingit itu. Ia berusaha mencari tumpangan untuk sampai ke kota. Beruntungnya ada mobil pengangkut sayur yang lewat, dan mereka menumpang sampai ke kota.


"Aku gak sanggup bayangin hari-hariku tanpa Ibu huhuhu." Larasati terisak membayangkan kehidupan nya kelak.


"Kau tenang saja Ras, hidup dan mati seseorang memang sudah ditentukan Yang Maha Kuasa. Tapi semuanya belum tentu terjadi kan, mari kita sama-sama panjatkan doa demi keselamatan Ibu dan adikmu."


Awan dan Larasati duduk di bak belakang mobil, keduanya sedang menengadahkan tangan, memanjatkan doa supaya semua baik-baik saja. Perjalanan itu terasa sangat lama, apalagi dengan rasa cemas yang menggelayut di pikiran Larasati.


"Maaf Mas, saya hanya bisa mengantar sampai sini karena kami harus sampai di pasar secepatnya." ucap sopir itu sambil menoleh ke belakang.


Setelah mengucapkan terima kasih, mereka segera memesan taksi online. Tiba-tiba ponsel Awan berdering, terlihat panggilan telepon masuk dari Parjo. Segera Awan menjawab panggilan telepon itu. Parjo memberi kabar jika persalinan sudah selesai, dan keduanya dapat diselamatkan.


"Tapi Mas, menurut Dokter kondisi Juragan sangat lemah. Ia kehilangan banyak darah, meski tadi sudah ada beberapa pendonor yang datang. Saya takut juragan kenapa-napa Mas." kata Parjo dengan menghembuskan nafas panjang.


"Kita banyak berdoa saja Pak, semoga Ibu baik-baik saja. Sebentar lagi saya dan Larasati akan segera sampai di Rumah Sakit." jelas Awan sebelum mematikan panggilan telepon.


"Apa yang terjadi pada Ibuku Mas?" tanya Larasati dengan panik.


"Alhamdulillah keduanya bisa diselamatkan Ras. Hanya saja kondisi Ibumu masih lemas, padahal tadi ia sudah mendapatkan donor darah. Kita pasrahkan saja semua pada Tuhan."


Disepanjang perjalanan Larasati hanya diam, ia sedang membayangkan pembalasan dendamnya pada Suripto. Kali ini kesabaran nya sudah benar-benar habis, ia tak bisa membiarkan lelaki be*jat itu hidup lebih lama lagi.


Dengan lembut Awan menggenggam tangan Larasati, ia menggelengkan kepala memberi tanda pada Larasati untuk tidak melanjutkan dendamnya.


"Aku tahu kau masih marah dan memendam keinginan untuk menghabisi lelaki biadap itu. Tapi Ras, kau tak boleh memenuhi bisikan setan. Itu bukanlah keinginan mu sendiri, kau sudah terhasut ucapan iblis Ras. Dengan membalaskan dendam padanya, tak akan mengubah keadaan jadi lebih baik. Yang ada hanya akan memperburuk keadaan. Adik kecilmu akan menjadi anak yatim, di usianya yang masih sangat kecil. Apa kau tega melihatnya kehilangan sosok ayah?" Awan meyakinkan Larasati dengan penuh kelembutan, berharap agar pujaan hatinya luluh dan melupakan dendam nya.


"Kenapa kau berubah Mas? setelah menempati raga Awan, kau bertingkah seakan-akan kau memang Awan. Seorang pemuda yang menuntut ilmu di pesantren. Kau bukan dia Mas, kau adalah Mas Adinata, lelaki yang selalu mendukungku!" seru Larasati dengan membulatkan kedua matanya.


"Mengertilah Ras, aku menerima raga Awan bukanlah tanpa sebab. Ia memberi pesan terakhir untuk membawamu kembali ke jalan yang benar. Aku hanya ingin menepati janjiku oadani, dan aku pribadi juga tak ingin membuat mu terjebak dengan dosa yang lebih dalam lagi. Semua itu aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, tolong mengertilah Ras."


Tak ada jawaban dari Larasati, ia hanya menundukan kepalanya. Keadaan jadi sedikit canggung, karena tak ada obrolan disepanjang perjalanan. Sampai akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit. Larasati berjalan terlebih dulu meninggalkan Awan. Lelaki itu nampak gusar, ia takut jika Larasati bertambah murka jika melihat kondisi Ibunya yang terbaring lemah. Nampak Mbok Trinem bergegas memeluk Larasati, ketika ia melihat anak Juragannya itu datang.


"Bagaimana keadaan Ibu Mbok? dimana Ibu sekarang?" tanya Larasati dengan wajah cemas.


"Juragan masih diperiksa Dokter, tiba-tiba perawat berlarian, lalu Dokter juga datang masuk ke ruangan itu." jawab Mbok Trinem dengan menunjuk sebuah ruangan di ujung lorong.


"Apa yang terjadi dengan Ibu Mbok? bukankah Pak Parjo bilang jika Ibu sudah mendapatkan donor darah? lalu kenapa Dokter tiba-tiba masuk ke ruangan Ibu? apa kondisi Ibu drop lagi?"


Nampak Mbok Trinem kebingungan menjawab pertanyaan Larasati, menurutnya Dokter memang sempat mengatakan jika kondisi Juragannya sudah lebih baik. Tapi ia tak tahu kenapa tiba-tiba perawat dan Dokter masuk kembali ke ruangan Juragannya. Awan yang baru saja masuk berusaha menenangkan Larasati, tapi Larasati bersikap acuh padanya.


"Kau tak perlu bersikap perduli padaku Mas, biarkan aku mengatasi masalahku sendiri!" seru Larasati dengan menghempaskan tangan Awan.


"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat Ras, mengertilah. Ibu dan adikmu lebih membutuhkan kita semua, mari kita shalat dulu dan berdoa pada Tuhan, aku yakin semua akan baik-baik saja. Tolong dengarkan aku kali ini saja Ras."


"Apa jika aku kembali melakukan ibadah, Ibu akan pulih kembali? apa ibadahku masih diterima setelah kejadian keji itu terjadi padaku? katakan Mas, aku ini sudah tidak suci lagi huhuhu." Larasati menundukan kepalanya, ia terisak mengingat semua tragedi kelam dalam hidupnya.


"Aku mengerti Ras, apa yang kau alami masih menyisakan duka dan trauma. Tapi Allah maha pengasih dan pengampun, kau tak perlu ragu melakukan ibadah lagi. Ayo kita shalat Isya sekalian berdoa untuk Ibu dan Adik kecilmu."


Setelah dibujuk oleh Awan, Larasati tergerak untuk kembali beribadah. Langkah kakinya gontai, seakan ada beban berat di pundaknya. Rupanya ada bisikan gaib dari Kanjeng Ratu Ageng Sedo. Perempuan gaib itu memperingatkan Larat supaya tak melanjutkan niatnya.


"Jika kau masih bertekad melakukan ibadahmu, aku tak akan membantumu lagi untuk membalaskan dendammu." bisikan gaib dari Kanjeng Ratu Ageng Sedo, membuat Larasati dilema.


...Akankah Larasati mendengarkan bisikan gaib itu? tunggu episode selanjutnya ya paypay 👋...


...Bersambung....