
Beberapa hari berlalu, Awan masih belum sadarkan diri di Ruang ICU, dan Polisi sudah menetapkan Sadam sebagai tersangka, karena keluarga Awan berada jauh di perantauan, mereka belum bisa datang menjenguknya, hanya ada sang Ibu yang menunggu Awan setiap harinya, Larasati yang merasa iba, selalu menawarkan bantuan untuk bergiliran menjaga Awan, setiap kali ibu Awan kembali ke kontrakan untuk istirahat, Larasati lah yang menjaga Awan, tak terasa hampir dua minggu lelaki itu belum sadarkan diri.
Malam itu Juragan Suripto ingin menyelengarakan acara empat bulanan kehamilan istrinya, dia ingin acara itu meriah, banyak persiapan sudah dilakukan.
Acara empat bulanan itu bertepatan dengan malam jumat kliwon, malam yang dijanjikan Kanjeng Ratu Ageng Sedo, untuk mengungkap semua pelaku kejahatan. Nampak pesta meriah terselenggara di Rumah pribadi Juragan Suripto, semua tamu larut dalam sorak kegembiraan, segala makanan mewah tersaji disana, terlihat semua penduduk desa sangat bahagia, Juragan Suripto juga membagikan amplop berisi beberapa lembar uang berwarna merah, banyak dari warga desa yang bersyukur dan memuji kebaikan hati Juragan Suripto.
Karsiti pun larut dalam pujian banyak warga, dia disebut sebagai perempuan yang paling beruntung, karena memiliki suami yang kaya dan murah hati, tapi kegembiraan nya seakan belum lengkap, karena putrinya Larasati belum datang ke tempat itu, dengan perasaan gelisah, Karsiti menghubungi Larasati melalui ponselnya, tapi panggilan itu masih belum tersambung juga.
"Mas, entah kenapa perasaan ku tidak enak, sampai sekarang Larasati belum datang, jangan-jangan terjadi sesuatu padanya."
"Kau tenang saja Kar, aku akan meminta Umar untuk mencari tau dimana keberadaan Larasati, kau nikmati saja acara yang ku buat untukmu."
Kemudian Juragan Suripto memerintahkan Umar untuk mencari Larasati, karena biasanya gadis itu berada di Rumah Sakit, dan benar saja, sesampainya Umar di Parkiran Rumah Sakit, nampak Larasati sedang berjalan keluar, gadis itu menghentikan Taksi, dan segera masuk ke dalami, Umar yang ingin menghampirinya kalah cepat dengan gerak Larasati, setelah mencoba menghubungi ponselnya, ternyata batrei ponsel Umar sudah habis, sehingga dia terpaksa mengikuti laju Taksi yang ditumpangi Larasati.
Lebih baik aku mengemudikan mobil mengikuti Taksi itu, pasti mbak Larasati akan pergi ke rumah juragan, jadi ku pastikan saja dia benar-benar pergi kesana, batin Umar dibalik kemudinya.
Setelah lama mengikuti Taksi itu, Umar merasa ada yang aneh, karena Taksi yang ditumpangi Larasati pergi ke arah hutan angker, dengan penasaran Umar terus mengikutinya dengan menjaga jarak aman, supaya Larasati tidak mengetahui keberadaannya. Larasati turun dari Taksi itu, tepat di pinggir hutan yang minim penerangan gadis itu berjalan memasuki area hutan, dia berhenti tepat di sebuah pondok bambu, Larasati masuk ke dalamnya, dia keluar dengan memakai jubah berwarna merah dengan lentera yang sudah menyala di tangan kanannya, dia juga membawa bungkusan yang berisi barang-barang untuk sesajen.
Larasati berjalan memasuki area hutan yang paling dalam, aroma tanah tercium karena hujan baru saja berhenti, terdengar suara binatang malam yang mengisi ruang hampa, menambah kesan seram disana.
Srek Srek Srek...
Suara daun-daun kering yang dipijak, terdengar seperti ada seseorang yang mengikuti langkahnya, Larasati membalikkan tubuhnya menatap ke berbagai arah, di naikkan lentera yang dibawanya, tapi tidak ada siapapun selain dirinya disana, Larasati kembali melangkahkan kakinya. Sampailah di tepi air terjun yang sangat tinggi, Larasati duduk menepi di atas batu besar, diletakkan semua ubo rampe dan juga dupa, gadis itu duduk bersila dengan menyatukan kedua tangannya, dibaca nya rapalan mantra pemanggil makhluk gaib sembahannya.
Sesosok perempuan cantik dengan rambut panjang menjuntai ke tanah, nampak berdiri mengambang dengan senyum yang tampak menyeramkan, Kanjeng Ratu Ageng Sedo sedang menatap tajam perempuan yang duduk dibawahnya. "Berdirilah serahkan jiwa dan ragamu untukku, rasakan setiap energi yang menyatu padamu, maka kau akan mengetahui semua kebenaran yang selama ini belum kau ketahui." Ucapnya seraya melesat memasuki tubuh Larasati, secepatan kilatan petir yang menyambar.
Seorang lelaki berdiri dibalik pohon besar, dengan tubuh gemetaran, menatap semua kejadian gaib yang ada didepan matanya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dia ingin melarikan diri dari sana, dia tidak tau, petaka apa yang akan menimpanya setelah ini.
Jangan-jangan dia juga akan mencelakai ku, karena aku turut membantu semua kejahatan yang dilakukan Juragan Suripto, batin Umar seraya melangkah mundur meninggalkan tempat itu.
Dengan berlari tunggang langgang, Umar berusaha menembus rimbunnya hutan angker itu, dia terus berlari tak perduli goresan-goresan ranting kering telah melukai tangannya, satu tujuan Umar adalah melarikan diri dari tempat itu.
Sementara Larasati tengah melihat berbagai kilasan balik kejadian yang pernah dilaluinya, tubuhnya melayang ke udara, jubah berwarna merah berkibar terkena hembusan angin kencang, matanya menyala merah, seperti dendam yang bersemayam didalam hatinya.
Larasati melihat gambaran demi gambaran berbagai kejadian kelam yang pernah menimpanya, ada beberapa orang yang dikenalnya turut campur dalam kejahatan yang terjadi saat itu. Nampak seorang lelaki sedang mengemudikan mobil, mengantar lelaki lainnya yang menggunakan penutup wajah. Umar terus menuruti perintah lelaki yang duduk dibelakang kemudinya, dia menghentikan mobil tepat di gudang tua, tempatnya dulu di ruda paksa, bahkan Umar mengetahui semua kejadian yang terjadi disana, tapi dia memilih diam di dalam mobil, sampai akhirnya terdengar kegaduhan dan seseorang berteriam untuk meninggalkan tempat itu. Ya Ayah Larasati telah tewas ditangan penjahat-penjahat itu, tapi Umar hanya melihat semua kejahatan itu tanpa menolong sedikitpun, setelah Juragan Darman menghembuskan nafas terakhirnya, dan Larasati jatuh pingsan, Umar mendekati mereka untuk memastikan apakah Juragan Darman telah tewas. Seorang lelaki yang merupakan ketua dari penjahat itu membuka penutup wajahnya, dia membuang ludahnya di atas jazad pesaing bisnisnya. "Cepat tinggalkan tempat ini, dan bersihkan semua barang bukti, jangan sampai ada jejak yang tertinggal." Seru Juragan Suripto seraya melangkahkan kakinya pergi dari gudang tua itu.
Braak...
Tubuh Larasati terhempas ke tanah, untuk sesaat dia tidak sadarkan diri, setelah melihat berbagai kilasan balik di masa lalunya, sosok gaib yang ada ditubuhnya keluar untuk sesaat, ingin memastikan apakah Larasati akan membalaskan dendam saat itu juga atau tidak, nampak jari jemari Larasati bergerak perlahan, dia membuka kedua matanya, seluruh tubuhnya terasa sakit, karena energi besar baru saja memasuki tubuhnya.
Dengan susah payah, Larasati bangkit dan berdiri dengan tubuh yang bergetar, ditatap nya sosok gaib yang berdiri mengambang didepan nya.
"Apakah kau siap membalaskan dendammu Larasati?." Tanya nya dengan tatapan bengis, nampak Larasati belum sepenuhnya mendapatkan kesadarannya, dia memegangi belakang tengkuknya, berusaha untuk mencerna pertanyaan sosok gaib yang ada dihadapannya.
...Berikan semangat untuk author yuk kak, jangan lupa berikan Vote dan gift nya ya, terimakasih 🤗...
...Bersambung....