
Dokter segera memberikan pertolongan, dan mengobati seluruh luka di tubuh Juragan Suripto. Lalu Dokter mencoba bertanya pada lelaki itu, tapi suaranya tidak dapat keluar dari tenggorokan nya. Ya Larasati sengaja melukai tenggorokan Juragan Suripto, supaya lelaki itu tidak dapat mengatakan apapun tentang nya.
Dan setelah hampir satu minggu menjalani perawatan, Juragan Suripto dibawa ke pengadilan untuk mendengarkan putusan hakim yang terakhir kali nya.
Terdengar Hakim memberikan nya pasal 338, yang mengatur tentang pembunuhan biasa yang tidak direncanakan dan tidak disertai pidana lain dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun.
Karena Juragan Suripto tidak memiliki pengacara, maka tidak ada keberatan yang di ajukan. Sementara dirinya sendiri tidak dapat berkata apapun, karena semenjak Larasati melukai tenggorokan nya. Juragan Suripto sama sekali tidak dapat berbicara, dengan tertunduk penuh penyesalan. Juragan Suripto terpaksa menerima semuanya, dia kembali dibawa ke Tahanan oleh petugas polisi.
Di luar pintu pengadilan nampak Larasati tersenyum angkuh menatap ayah tiri nya di gelandang oleh polisi. Tapi ternyata Mbah Warno sudah menantikan Juragan Suripto di halaman parkir, lelaki itu berpura-pura bertanya alamat pada petugas polisi. Dan diam-diam dia memberikan selembar kertas yang dibungkus dengan kain, yang dimasukkan ke dalam baju nya. Juragan Suripto melotot memberikan isyarat pada dukun kepercayaan nya. Dan sang dukun hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.
Sesampainya di Tahanan, Juragan Suripto membaca surat yang diberikan Mbah Warno. Surat itu menjelaskan jika sebentar lagi, kisah Larasati akan segera berakhir. Ki Barata mengetahui sebuah rahasia yang tak diketahui siapapun, karena di malam saat jiwa Awan akan pergi untuk selamanya. Burung gagak pelihara an nya, yang di utus untuk mengawasi semua orang, yang dekat dengan Larasati melihat semuanya, dan melaporkan pada Ki Barata. Dan Juragan Suripto diminta untuk menjaga dirinya sendiri dengan menaburkan bubuk belerang di sekitar sel nya. Karena kelemahan pengikut Kanjeng Ratu Ageng Sedo, ada pada bubuk belerang yang sudah berusia ratusan tahun. Dan di dalam bungkusan kain itu, terdapat sebungkus bubuk belerang yang harus segera di taburkan nya.
Nampak Juragan Suripto kembali tersenyum, meski dia terkurung di dalam tahanan. Yang terpenting adalah dirinya aman dari gangguan Larasati, meski dia harus tinggal di dalam penjara selama beberapa tahun lamanya.
Dengan perasaan yang lega Juragan Suripto berbaring di lantai beralaskan tikar, dia sedang membayangkan wajah Larasati yang nampak bodoh ketika datang ke tahanan nya.
Sekarang kau tidak akan bisa menyentuh ku lagi, dasar perempuan bodoh, aku menyesal kenapa aku tidak membunuhmu saja bersama Ayahmu waktu itu, dengan begitu kau tidak akan bisa membalaskan dendam padaku. Tapi tidak apa-apa, semua sudah terjadi. Aku hanya akan terkurung disini selama beberapa tahun, dan jika aki berkelakuan baik, aku akan mendapatkan remisi, setelah itu aku akan kembali menghancurkan hidupmu dan juga ibumu, batin Juragan Suripto didalam hatinya.
Tiba-tiba terasa hembusan angin yang sangat dingin, biasanya itu adalah pertanda ketika Larasati akan datang untuk menyiksa nya. Dan benar saja, di luar sel itu nampak Larasati berdiri mengambang, dengan senyum mengerikan. Terlihat petugas polisi berlalu lalang, tapi mereka tidak dapat melihat kehadiran Larasati.
Whuust...
Larasati berusaha menembus jeruji besi penjara itu, tapi tubuhnya terpental. Berulang kali dia berusaha masuk ke dalamnya, hasilnya selalu sama. Larasati selalu terlempar, seakan ada kekuatan tak kasat mata yang mendorong dirinya.
...Bersambung....