Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Kecurigaan Larasati?


"Mungkin itu aroma parfum keponakanku bu, tadi kan dia menumpang di mobilku sampai ke stasiun yang ada di kota, memangnya apa yang kau pikirkan bu?", tanya juragan Suripto memberikan alasan.


"Aku hanya ingin tau saja pak, memangnya saudaramu sakit apa to mas, jika parah sekali aku juga ingin menjenguknya".


Lalu juragan Suripto menjelaskan jika saudaranya itu sudah baik-baik saja, sehingga Karsiti tidak perlu menjenguknya.


Apakah yang dikatakan mas Suripto benar, kenapa aku merasakan jika dia menyembunyikan sesuatu darimu, semoga ini hanya firasat burukku saja, batin Karsiti resah didalam hatinya.


Tok tok tok...


Terdengar suara pintu yang diketuk diluar kamarnya, lalu Karsiti bergegas membuka pintu itu, nampak anak gadisnya baru saja pulang dan ingin berbicara dengannya, kemudian Karsiti mengajak Larasati masuk ke dalam kamarnya, terlihat Larasati langsung mengutarakan isi hatinya, dia mengatakan jika ditengah perjalanan menuju gudang milik bapak tirinya, Larasati menemukan beberapa topeng yang mirip dengan para anggota penjahat, yang telah merenggut kehormatan nya saat itu, namun Karsiti menanggapi nya dengan santai, berbeda dengan Larasati yang terlihat sangat panik.


"Mungkin saja itu topeng orang lain nduk, bukankah banyak topeng model yang sama seperti itu, lagipula jaraknya sangat jauh loh, apakah ada barang lain nya lagi nduk yang kau ingat", tukas Karsiti.


Entah kenapa aku yakin sekali jikw topeng itu adalah milik dari para penjahat itu, mungkin saja mereka melarikan diri ke daerah sana, batin Larasati dengan mengkerut kan keningnya.


"Tidak ada barang lainnya bu, sepertinya aku harus mencari bukti lain lagi, aku curiga jika mereka bersembunyi di dekat sana".


Sayu-sayu juragan Suripto mendengar pembicaraan ibu dan anak itu, nampak dia menjadi cemas jika Larasati sampai mencurigainya, karena dia menemukan topeng yang dikenalinya digunakan oleh para penjahat itu, karena tidak berhati-hati juragan Suripto berjalan dan membentur tembok yang ada dibelakangnya, sontak dia terjatuh dan membuat kegaduhan disana, lalu Karsiti dan Larasati berjalan keluar melihat juragan Suripto sudah tersungkur di lantai.


"Astaga mas kenapa kau terjatuh disini, aku kira kau sudah mandi", seru Karsiti seraya membantu suaminya berdiri.


"Aku ingin meminta kopi pada simbok di dapur, tapi kakiku tersandung", jelas juragan Suripto gagap.


Terlihat Larasati mengkerutkan keningnya menatap tajam pada ayah tirinya, lalu juragan Suripto semakin salah tingkah dan ketakutan dia berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya, setelah itu Karsiti ikut masuk ke dalam kamarnya, nampak kecemasan pada raut wajah suaminya, lalu Karsiti bertanya pada suaminya itu tentang apa yang ada didalam pikiran nya, karena tiba-tiba wajahnya berubah sangat panik padahal sebelumnya tidak ada apa-apa.


"Ta tadi aku mendapatkan kabar jika saudaraku itu kembali kritis, karena itulah aku bertambah cemas bu, sepertinya besok aku harus menjenguknya lagi".


"Tidak usah bu, setelah dari rumah sakit ada pekerjaan lain yang harus ku urus".


Dan malam harinya juragan Suripto tidak dapat memejamkan kedua matanya, dia teringat ucapan mbah Warno tentang Larasati yang sudah dirasuki makhluk gaib, yang bisa kapan saja menyerangnya, jika Laras sampai tau kalau dia terlibat dalam kejahatan yang telah menimpa nya, sementara Laras yang berada di dalam kamarnya, memikirkan banyak hal yang terjadi, dia sangat yakin jika topeng yang ditemukannya itu adalah milik para penjahat yang dikenalinya.


Aku tidak bisa menerawang lebih dalam lagi, karena Kanjeng Ratu membatasi penglihatanku, sepertinya dia merencanakan sesuatu padaku, batin Larasati didalam hatinya.


Keesokan paginya, juragan Suripto bergegas pergi ke gudang miliknya, dia ingin memastikan jika tidak ada barang bukti yang tertinggal disana, karena dia sangat takut pada Larasati yang memiliki kekuatan lain didalam tubuhnya, bahkan dukun ilmu hitam seperti mbah Warno menghindar untuk berurusan dengan nya, tanpa menunggu Umar, lelaki itu mengemudikan mobilnya sendiri, sedangkan Umar yang baru saja tiba di rumah istri juragannya terlihat bingung, karena ternyata juragan nya sudah tidak berada di rumah, lalu Karsiti memberitahu Umar jika suaminya sedang pergi menjenguk sodaranya.


"Bu Laras pergi ke kampus dulu ya, apa pak Parjo sudah datang?", tanya Larasati seraya berjalan keluar rumah.


"Pak Parjo ijin datang agak siang nduk, ada acara keluarga katanya, jika kau buru-buru biar pak Umar saja yang mengantarmu", jawab Karsiti.


Karena ter buru-buru ada kelas pagi itu, Larasati berangkat ke kampus bersama Umar, dan disepanjang perjalanan, Larasati bertanya pada Umar, sejak kapan dia bekerja bersama ayah tirinya, dan Umar mengatakan jika dia sudah lama bekerja bersama ayah tirinya.


"Semenjak bapak merintis usahanya, saya sudah bekerja sebagai sopir bapak, sampai akhirnya saya dipercaya untuk mengurus beberapa usahanya mbak", jelas Umar seraya mengemudikan mobil.


"Oh kalau begitu pak Umar sudah sering pergi ke gudang milik bapak kan, pernah melihat sesuatu yang mencurigakan tidak", ucap Larasati berusaha mengorek informasi dari sopir itu.


Untuk sesaat Umar tercengang mendengar pertanyaan anak tiri juragannya, lalu Umar hanya menggelengkan kepalanya seraya berkata tidak ada apapun disana, hanya ada penduduk sekitar saja yang setiap malam selalu mencari katak untuk dijual di kota keesokan harinya.


"Memangnya ada apa ya mbak, apakah ada yang bisa saya bantu?", tanya Umar dengan penasaran.


"Tidak ada apa-apa pak, aku hanya kepikiran sesuatu saja", jawab Larasati tidak mengatakan yang sebenarnya.


...Bersambung. ...