
Hanya senyum yang terukir di bibir Elrick, sebelum menunjukkan kenikmatan yang tidak akan pernah Raya lupakan.
Pria itu mulai mendaki, hinggap di bibir merah muda Raya yang sudah mulai membengkak karena ciuman dan hi*sapan yang bertubi-tubi dari Elrick. Erang*an yang keluar dari bibir Raya semakin membuat Elrick terbakar.
Leher Raya sudah basah dikecup, dan diberi tanda merah di setiap jengkalnya. Perlahan bibir Elrick mengikuti jejak tangannya yang sudah lebih dulu bermain dengan puncak berwarna pink gelap itu. Lidahnya terus membelai, menggigit kecil lingkaran berwarna pink itu, hingga Raya tersentak kala Elrick benar-benar memasukkan puncaknya ke dalam mulut pria itu yang terasa panas.
Elrick sudah bagai anak kecil yang menyusu pada ibunya, bermain dengan pu*ting Raya membuat gadis itu melengkungkan tubuhnya melihat ke rambut hitam yang ada diantara dadanya.
Raya sudah tidak sanggup. Dia pikir sebentar lagi dia akan meledak hancur menyatu dengan angin malam. Bergantian benda kenyal itu menjadi mainan Elrick, puas akan hal itu, Elrick merambat ke bawah. Mengecup jengkal demi jengkal perut rata gadis itu.
Saat mengangkat wajahnya, kembali tatapannya tertumpu pada payu*dara gadis itu yang sudah berhasil menghilangkan kewarasannya.
Napas Elrick juga memburu ketika ia mengusap kembali benda kenyal itu, mengelus dan menimbang ditangan, mengagumi kepadatannya yang indah. Kembali meng*hisap sesaat.
Sekuat tenaga Raya menahan diri untuk tidak berteriak, ini sungguh nikmat sekaligus menyiksa.
"Aaackh.." Pekiknya membuka mata kala miliknya yang wangi dan memang dirawatnya dicium oleh Elrick. Raya hanya bisa memejamkan mata. Tanpa melihat pun, dia tahu, Elrick sedang menciumi permukaan milik dan juga pahanya. Mengisap kulit pahanya dekat selang*kangannya.
Elrick masih berlutut di antara gadis itu. Kedua tangannya yang kokoh diletakkan di kedua bagian dalam paha Raya yang kencang, mendorong dan menekan gadis itu hingga ia bisa bebas merunduk di antara keduanya.
Napasnya yang hangat menggoda inti gadis itu, ia mengeluarkan lidah dan menjilat gadis itu dengan pelan.
"Oh!" bisik Raya terbang.
Raya butuh pegangan lebih. Kalau tangan kirinya sudah mencengkeram seprei, tangan kanannya menjambak lembut rambut hitam pria itu. "Mas..." desisnya tidak tahan, ada dorongan dalam dirinya yang ingin keluar namun ditahannya.
Lidahnya bergerak berirama lalu berhenti lama di pusat Raya yang memerah. Tanpa merasa jijik, dia menghisap kli*to*risnya, membuat bagian itu semakin bengkak, gadis itu sensitif dan basah.
Aroma Raya kian membumbung di sekelilingnya, melajukan kebutuhan pria itu akan Raya semakin hilang kendali.
Pria itu semakin dalam membenamkan wajahnya di sana, menempelkan bibirnya dengan kuat di pusat yang berdenyut panas itu, dan memasuki gadis itu dengan lidahnya.
Rasa gadis itu mengalir ke dalam mulutnya ketika Raya mengerang lebih keras dari sebelumnya, tubuhnya terlonjak ketika mulut dan lidah Elrick bergerak buas.
"Mas...," kembali terdengar erangan Raya.
Suara erangan Raya mengirim gelenyar puas kepada Elrick. Gadis itu sampai mencengkeram rambutnya erat saat ia menjilat sisa kenikmatan Raya dan mengangkat wajahnya untuk menatap wajah memerah Raya.
Mata gadis itu bahkan setengah terpejam sementara ekspresi nikmat terukir di seluruh garis wajahnya. Napas Raya tersengal dan tersentak, begitu juga seluruh tubuhnya. Dia sangat dipuaskan dan tubuhnya dimanjakan oleh Elrick.
Tidak pernah sepuas dan semelayang ini.
Elrick tidak ingin buat Raya merasa dirinya dimonopoli. Elrick kembali memanjat, melu*mat kembali bibir Raya, bermain dengan lidahnya, membelit lidah gadis itu dan menghisap gemas.
Tubuh Raya menggelinjang kala jemari Elrick diam-diam menyusup ke dalam miliknya yang sudah basah dan siap. Telunjuk dan jari tengah Elrick membelai permukaan luar milik Raya, mengelus lembut kli*to*Ris nya yang buat Raya kehilangan kesadarannya.
Benar, Raya sudah tidak sadar lagi, yang dia inginkan Elrick melengkapi permainan mereka.
Kalau sejak tadi Elrick bisa menahan diri, cairan pelumas milik Raya di jarinya membuat milik Elrick meronta ingin masuk, membelah tubuh Raya.
Elrick mencium sekilas, lalu bangkit untuk memposisikan dirinya di antara paha mulus Raya yang sudah dia tekuk. Dari sana dia bisa melihat milik Raya yang sudah lembab dan siap menerimanya.
"Aaach..." sentak Raya melengkung tubuhnya. Seketika ketakutan muncul di depannya. Itu kah milih Elrick? Apa tidak salah? Kenapa begitu besar? Raya tidak menyangka bahwa milik pria itu beda-beda ukurannya, atau Elrick baru saja memompanya?
Bahkan setengahnya saja punya Dika dia rasa tidak ada sebesar itu. Dia bisa benar-benar terbelah jika semua milik pria itu masuk.
"Kenapa sayang?" tanya Elrick yang kembali terganggu dengan kerutan di kening Raya.
"Itu... itu besar sekali. Mas pompa dulu atau gimana sampai menggembung seperti itu? apa muat kalau dimasuki?"
Hampir saja Elrick tergelak, ini pengalaman bercinta yang paling aneh yang dia lakukan selama ini. Kalau biasanya partner ranjang akan terpesona melihat miliknya dan segera menerkam, memasukkan ke mulut mereka, Raya justru bergidik ngeri.
"Bisa, Sayang. Pasti masuk. Jangan takut sayang," bisiknya. Raya percaya lagi, dan mengangguk.
Elrick sudah mulai kembali memasuki Raya. Ada yang mengganjal dan terasa sakit. Raya menghipnotis dirinya untuk tidak berteriak, tapi tetap saja tubuhnya menegang.
"Jangan tegang, sayang..."
Raya mencoba kembali rileks. Menarik napas panjang lalu mengeluarkan perlahan.
"Sayang, katakan kau menginginkanku," bisik Elrick di bibirnya.
"Iya, Sayang... aku menginginkanmu. Please...," ucapnya Raya dengan bola mata yang berkabut.
Kalau pria itu membutuhkan suplemen penguat senjatanya, maka ucapan Raya adalah yang dia butuhkan. Ia menggeram ketika matanya beradu pandang dengan gadis itu. Ia ingin melihat wajah Raya, mendeteksi perubahan ekspresi gadis itu ketika kejanta*nannya yang keras memasuki gadis itu. Ia menekan dengan lembut saat pencariannya di mulai.
Raya terengah pada awalnya, dan ketika Elrick membenamkan dirinya semakin dalam pada inti Raya, gadis itu kesulitan mengejar napasnya sendiri.
Elrick menarik dirinya dengan pelan ketika seluruh tubuhnya telah terbenam, lalu menurunkan tubuhnya dengan kekuatan terkendali sehingga Raya menjerit kecil.
Ia melakukannya lagi, masuk dan keluar dengan lembut sampai batas kepala miliknya yang masih tetap tertinggal di dalam, lagi menarik tubuhnya keluar masuk dalam gerakan maju mundur yang kian tidak terkendali.
Tubuhnya basah ketika ia berjuang menaklukkan gadis itu, mulutnya mengeluarkan era*ngan seperti binatang liar ketika kebutuhan primitifnya mengambil alih.
Elrick benar-benar tersesat pada kenikmatan yang ditawarkan Raya. Dia terus melaju, menyatukan jemarinya dengan jemari Raya yang tergeletak di sisi tubuh Raya, sembari terus menggoyang di bawah sana.
Elrick tahu sebentar lagi dia dan Raya akan meledak, dan dia ingin meledak bersama melebur menjadi satu.
Pemandangan gadis itu meraih klimaksnya menjadi pendorong terakhir bagi dirinya. Ia meledak bersama gadis itu, memenuhinya begitu dalam, banyak dan kuat, menandai Raya begitu hebat sehingga tidak akan ada lagi yang berani meragukan bahwa gadis itu adalah miliknya, dan hanya akan menjadi miliknya seorang!
*
*
*
Done! Sumpah, terengah-engah, lelah eike hanya buat satu bab iniππ
Ayo, kasih imun dong kakak-kakak cantik dan baik hati, bagi hadiah π€π€