Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 23


Raya belum menjawab pertanyaan Nani, Dipa sudah mendekat, dan mencium lama pipi keriput Nani. Wanita itu hanya tersenyum, sembari memukul pelan lengan Dipa yang memeluk erat tubuhnya. "Dari mana saja kau? Oma pikiran kau sudah lupa pada Oma mu ini."


"Itu tiada mungkin, Miss universe. Kalau aku lupa pastinya aku amnesia. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan wanita paling cantik di jagad raya ini, tentu saja setelah Raya..." ucapnya mengerlingkan sebelah matanya pada Raya.


Raya mendadak gugup. Bahkan sempat tercekat. Mengapa begitu kebetulan sekali. Dia baru saja memberi janji untuk lebih dekat pada Nani, dan sekarang mendapat kenyataan bahwa wanita itu adalah nenek Dipa yang entah punya alasan apa, hingga mendekatkan diri padanya juga.


"Kau jangan macam-macam. Oma sudah memutuskan akan mengangkat Raya menjadi cucu Oma, jadi dia adalah adikmu."


"Dih, apaan sih Miss universe, gak bisa gitu, dong," goda Dipa semakin mengeratkan pelukannya.


"Oma, Dip... aku pamit dulu," ucap Raya berdiri. Sejak tadi mau pamit pulang gak jadi-jadi juga.


"Oh, iya. Dip, antar Raya pulang. Tempat tinggalnya gak jauh dari sini," terang Nani, namun menarik wajahnya ke belakang, merasa heran dengan reaksi Dipa yang tersenyum geli.


"Kau kenapa tersenyum?" Nani semakin curiga.


"Miss universe, kami ini sudah saling kenal. Jadi udah tahu dimana Raya tinggal.


"Kenal dari mana?" susul Nani penasaran. Dipa pria tampan yang suka memberikan pesona hingga banyak gadis berharap padanya dan dengan suka rela jatuh ke dalam pelukannya. Namun, dia bukan lah pria yang jahat.


Pria malang itu sudah sejak kecil ditinggalkan kedua orang tuanya. Nani lah yang membesarkan Dipa, mendidik dan menyekolahkannya hingga lulus Strata dua dari Jerman, dan kini memegang salah satu perusahaan keluarga.


"Jawab Oma, kalian kenal dimana? kau tidak memperdaya dia, kan?" delik Nani. Dia sudah terlanjur menyukai Raya, dan Nani tidak ingin gadis itu terluka, karena dia tahu Dipa tidak bisa dijerat oleh seorang wanita.


"Kenal di jalan. Raya cari ruko untuk buka usaha, ya udah aku kenalkan pada Koko Robert."


"Oh.... Benar Ray?" kali ini Nani ingin jawaban dari Raya, karena kalau Dipa bisa membohongi, Raya pasti akan jujur.


"Iya, Oma. Aku pamit dulu, udah hampir gelap," ucap Raya menarik lembut tangan Nani dan mencium punggung tangannya.


"Iya, tapi ingat pesan Oma, sering main kemari, dan sesekali menginap di sini, temani Oma."


***


"Makasih, ya. Baru kali ini aku lihat Miss universe bisa tertawa lepas, sejak 13 tahun lalu." ucap Dipa datar. Tatapannya membawa pada kenangan yang sulit untuk dilupakan semua anggota keluarga Diraja.


"Sama-sama. Aku juga senang bisa kenal dan menemani Oma. Dunia sempit ya, ternyata kamu adalah cucu Oma Nani. Kenapa gak bilang kalau rumah mu dekat sini? pantas saja kamu tahu ruko koh Robert disewakan."


"Aku gak tinggal di sana. Aku punya dunia dan hidupku sendiri. Aku tinggal di apartemen, tapi sesekali aku akan datang untuk menemui dan menemani Miss universe," terang Dipa tersenyum. Topik pembicaraan seru membuat keduanya tidak sadar sudah berdiri di parkiran motor Raya. Jarak rumah dan juga pekarangan depan rumah mewah itu memang lumayan, hingga satu topik pembahasan cukup untu di ulas.


"Titip aja motormu di sini, biar aku antar pakai mobil," saran Dipa, namun Raya buru-buru menolak.


"Jadi, benar nih gak papa kau pulang sendiri?" tanya Dipa memastikan. Jarak tempuh memang hanya 15 menit, tapi tetap saja membiarkan seorang gadis pulang malam sendiri bukanlah sikap gentleman.


***


"Panggilkan bos mu!" hardik seorang wanita yang penuh amarah, membentak Nana.


"Kenapa, Bu? anda siapa?" tanya Nana menebak bahwa wanita itu bukan pelanggan mereka. Nana kenal baik siapa saja pelanggan mereka, lagi pula dia tidak membawa pakaian untuk di laundry.


"Raya... keluar kau!" umpat tamu dadakan penuh amarah. Dia Lani. Pagi ini dia datang setelah semalam suntuk bertengkar dengan Dika. Pasalnya, Dika ingin memberikan sebagian dari hak Raya yang sempat dia pakai.


Tentu saja Lani tidak setuju. "Semua yang kini kau hasilkan, adalah hak ku sebagai istrimu, Mas. Bukan lagi haknya. Dia sudah tidak punya hak sama sekali!"


"Tapi dulu harta yang menjadi jatahnya sudah aku pakai, dan aku juga sudah berjanji untuk mengembalikannya." Dika berusaha menjauh dari Lani, meraih kunci mobil untuk pergi malam itu, namun, Lani menahan. Menangis sejadi-jadinya, hingga Dika tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengurungkan niatnya.


Di sinilah Lani pagi ini. Menganggap kalau Raya lah yang sudah mempengaruhi suaminya agar membagi harta gono-gini.


Mendengar teriakkan dari arah depan, Raya yang baru selesai mandi, keluar untuk melihat apa gerangan yang terjadi.


"Sini kau perempuan sundal, perayu suami orang!"


"Lani...." pekik Raya. Nana hanya terdiam, bergantian melihat Raya lalu ke arah Lani. Dia baru sebulan bekerja bersama Raya, dan jujur tidak tahu bagaimana kehidupan Raya sebelumnya. Benarkah dia seorang penggoda suami orang?


Sejauh yang dia kenal, Raya sosok wanita yang baik hati, selalu memperlakukan dirinya sebagai teman, saudara, bukan karyawan. Jadi, kalau mengatakan dirinya adalah pelakor rasanya tidak mungkin.


"Akhirnya kau keluar juga. Kenapa? kau takut? jangan pikir kau bisa merebut harta suamiku! Ingat Raya, jadi wanita tahu malu sedikit, jangan menggoda suami orang. Kau sudah punya hidupmu sendiri, jadi jangan minta-minta uang pada suamiku!"


"Aku gak minta uang apapun pada Mas Dika." Raya tidak percaya, teganya Lani mengatakan hal itu. Manusia kadang tidak punya hati, menunjuk kesalahan pada orang lain, seolah tidak becermin siapa dirinya dulu.


"Bohong. Jelas-jelas tadi malam Mas Dika mengatakan akan mengembalikan uang padamu. Ingat Ray, kalau sampai aku tahu kau menemui suamiku, aku akan buat perhitungan. Jangan coba-coba padaku, Raya!"


Lani pergi, Raya merosot, duduk di kursi kasir. Nana buru-buru masuk ke dalam lalu keluar dengan membawa segelas air hangat. "Minum dulu, Mbak."


Tangan gemetar Raya menerima dan segera menghabiskan isinya, menarik napas panjang lalu mulai menangis. Nana mendekat menepuk punggung Raya pelan. Segudang tanya muncul di hati Nana, tapi tidak mungkin dia menanyakan hal ini pada Raya saat ini.


"Sudah, Mbak, nanti kepalanya sakit." Tidak ada sahutan, hanya isakan yang terdengar hampir sepuluh menit. Lelah menangis, Raya mengangkat wajahnya, menghapus jejak air mata yang tersisa di pipinya.


"Na, mana kain yang harus aku antar hari ini," ucap Raya membenarkan letak bajunya.


"Ini Mbak, pakaian si cowok ganteng tapi sombong kemarin."