Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 105


Semakin sukses dan berkembangnya usaha yang tengah dikelola, maka akan ada hal-hal yang dikorbankan. Tidak ada kesuksesan tanpa usaha dan pasti dibarengi dengan pengorbanan. Elrick harus kembali meninggalkan Raya, tepat di dua bulan usia pernikahan mereka.


Kali ini Elrick bersama Dipa berangkat ke Lyon, Prancis. Melebarkan sayap usaha mereka. Kali ini kedua pria tampan itu sama-sama menanam modal mereka dalam Mega proyek kali ini. Keduanya diminta untuk bertemu dengan CEO perusahan besar di kota itu.


Keberangkatan Elrick kali ini tidak bisa ditahan Raya perasaan sedihnya. Dia menangis sesunggukkan di pelukan pria itu. Kali ini lebih lama dari sebelumnya, hampir tiga Minggu.


"Baik-baik ya, Sayang. Jaga diri. Jangan nangis lagi dong, aku kan jadi gak tega ninggalin," ucap Elrick melerai pelukannya.


"Tapi kali ini lama," rengek Raya menghapus air matanya tanpa malu disenyumi oleh Nani dan Dipa yang menatap kedua orang itu.


"Makanya, ikut aja, yuk?" ujar Elrick berharap.


"Gak keburu lagi ngurus paspor. Lagi pula, ini aja masih gak enak badan," ucap Raya masuk kembali ke pelukan Elrick.


"Ya, udah. Nanti kalau udah sembuh, demamnya, nyusul aja. Nanti aku suruh orang buat temani ke sana. Pasport lagi diurus. Oke?"


Raya hanya bisa mengangguk dan mencoba tersenyum. Dia tidak mungkin terus menangis hingga buat suaminya khawatir.


***


Dua Minggu setelah keberangkatan Elrick dan Dipa, keluarga Oma dari Surabaya datang. Tidak hanya adik Oma dan juga keluarganya, juga ada sepupu jauh Elrick yang seumuran dengan Raya.


Ada tiga orang yang masih duduk di bangku kuliah. Sejak pertemuan pertama mereka, ketiga langsung menunjukkan sikap tidak sukanya pada Raya.


Mereka terang-terangan membenci Raya. Bagi mereka, gadis itu tidak pantas untuk menjadi istri Elrick.


"Kau tahu gak Ray, kalau Kak Elma sama Kak Elrick udah lama saling menyukai? mereka dulu sempat dijodohkan sama para orang tua kita," ujar Cindy, dengan mimik mengejek dan menganggap hina Raya.


Raya hanya menggeleng lemah. Dia hanya berusaha tetap tenang walah sering dijahati oleh ketiga. Parahnya, Di depan Nani dan keluarga lainnya mereka bertiga seolah ingin bersahabat dengan Raya.


Dia ingin sekali pergi ke rumah Lia untuk cerita dan menangis di pelukan wanita itu, tapi saat ini Lia dan suaminya tengah berada di rumah mertuanya. Ibu mertua Lia saat ini sedang sakit parah, dan dirawat di rumah sakit.


Raya hanya bisa bertahan sembari memohon agar ketiga rubah itu segera pergi dari rumah mereka.


"Ray, apa ketiga gadis itu bersikap baik padamu? Mereka tidak menjahatimu, kan?" tanya Nani yang melihat gelagat mencurigakan dari sikap Elma, Cindy dan Rita.


"Gak kok Oma. Mereka baik," sahut Raya menyisir rambut Oma yang baru siap dia bantu mandi.


Raya harus menyembunyikan semua perlakuan mereka. Tidak mungkin mengungkapkan semua kejahatan mereka pada Raya, yang pasti akan menjadi pemecah dalam keluarga.


Padahal semakin hari, kelakuan jahat mereka sungguh menjadi-jadi. Raya ingin sekali menampar ketiganya, Raya berani, tentu saja, tapi dia tidak ingin keluarga Oma jadi ribut.


Ada saja hal yang direncanakan mereka untuk mencelakai Raya. Pernah mengajak Raya ke taman, lalu dengan sengaja menjegal kaki Raya hingga terjerembab ke tanah.


Melihat hal itu, ketiga gadis itu tertawa terbahak-bahak. "Raya, kalau jalan hati-hati dong," ucap Rita berusaha menolong Raya, namun baru berdiri, dan Raya belum mempunyai keseimbangan, Rita sudah mendorongnya kembali.


Cindy yang paling sok imut, merengek di depan mamanya untuk diajari membuat kue oleh Raya karena saat wanita itu menyajikan kue buatannya semua orang memuji. Tentu saja keluarga Cindy menyambut gembira rencana anaknya yang ingin belajar.


Saat di dapur, nyatanya Raya kembali jadi bulan-bulanan ketiga wanita terkutuk itu. Tangan Raya bahkan disiram minyak panas dengan embel-embel gak sengaja.


"Ya, ampun Raya. Maaf, Aku gak sengaja," ucapnya mengelap minyak di tangan Raya, menggosok hingga kulit Raya mengelupas.


"Au, udah Elma..." ucapnya menarik tangannya. "Maaf aku gak bisa melanjutkannya. Lain kali aja," ucap Raya berlari ke kamarnya. Menangis hingga kelelahan.


Besoknya, ketiganya merencanakan hal yang lebih ekstrim. Elma meminta kerja sama kedua sepupunya untuk membantu menjalankan rencananya untuk mencelakai Raya.


Mereka memaksa Raya untuk ikut berenang. Berkali-kali Raya menolak, tapi kembali adik Oma, Oma Tati meminta Raya untuk bersama dengan mereka.


Dalam kolam itu, ketiganya menyerang Raya dari berbagai arah. Membuat gadis itu terpeleset, bahkan hampir menenggelamkan Raya. Mereka juga memasukkan semut ke bathrobe Raya hingga tubuh gadis itu memerah digigit semut merah.


Raya sudah tidak tahan lagi, sudahlah nyawanya hampir melayang, kini kulitnya memerah digigit semut.


Di bawah keran air yang mengalir deras, Raya menangis keras. Hanya dia yang bisa mendengar jeritannya dan juga tangisnya yang menyedihkan. Semua ucapan sepupu Elrick masih dia ingat.


"Maaf nih kak, sebenarnya kakak itu gak cocok sama kak Elrick. Dia itu cowok sempurna, tampan, pintar dan kaya raya. Nah, kakak? cantik biasa aja, kaya gak, malah cuma tamatan SMA," ucap Cindy.


"Benar tuh, apa kata Cindy, bayangkan aja, kalau sampai teman-teman bisnisnya tahu, istri seorang Elrick Diraja hanya gadis desa, apa kata dunia? Kak Elrick pasti diejek," lanjut Rita.


Raya hanya diam, ingin membantah tapi semua yang mereka katakan benar. Tapi dia kan tidak pernah memaksa Elrick untuk menikahinya? Mereka menikah karena saling mencintai.


"Maaf, nih Ray. Apa gak lebih baik kamu tuh pulang ke desa. Jujur, aku kaget tahu kalau Elrick menikah, mana sama gadis yang gak ada apa-apanya dibanding aku lagi." Kali ini Ema yang buka suara. Dia memilih ikut ke Jakarta ini juga ingin melihat langsung wanita yang dipilih Elrick. Dia kecewa pada Elrick, selama ini Elma tahu kalau pria itu memiliki kekasih si A atau si B, tapi menurut Elma itu hanya persinggahan, dialah yang nantinya jadi pelabuhan terakhir Elrick.


Tiba-tiba saja dia mendapatkan kabar bahwa Elrick sudah menikah, di desa pula. Tentu saja Elma merasa direndahkan karena saingannya bukan wanita yang berkelas.


Semakin dipikirkan, Raya semakin ingin menjerit. Entah sudah berapa lama dia menangis dibawah genangan air ini.


Tubuhnya menggigil, kepalanya semakin pusing. Dia bangkit, membersihkan tubuhnya dan segera memakai bathrobe.


Ditatapnya wajahnya di cermin, matanya bahkan sudah bengkak. Dari dalam kamar mandi dia mendengar suara pintu dibuka, dan ketika dia mencium bau parfum Elrick menyeruak ruangan, dia menduga pasti Elrick yang datang walau sedikit tidak yakin. "Ini belum ada tiga Minggu," pikirnya.


Tapi saat berada di ruang ganti pakaian, suara Elrick menggema memanggil namanya.


"Ray... sayang..."


Gelagapan Raya membalik badan, membelakangi pria itu yang berdiri diambang pintu ruang ganti.


"Ray, aku pulang, Sayang. Aku kangen banget samamu. Perasaanku gak enak, makanya aku duluan pulang. Kau baik-baik saja?"