
Malam itu, Sidney dilarikan ke rumah sakit. Demamnya bahkan ada diangka 40 derajat Celsius. Semua keluarga Diraja panik, tapi sialnya, Sandi tidak bisa dihubungi.
"Sayang, jangan takut, ya. Tante ada di sini, menemani kamu." Perasaan Raya begitu takut, kalau sampai Sidney kenapa-kenapa, apa yang harus dia katakan pada Lia nantinya?
"Sudah, Sayang. Sidney pasti baik-baik saja. Dia udah gak sadarkan diri. Dia gak dengar apa yang kau ucapkan. Kita percayakan pada dokter, ya," ucap Elrick menenangkan.
Hanya mereka berempat, karena Tita dan Dipa sudah pulang ke rumah mereka agar bisa beristirahat lebih tenang karena selama menjaga Oma, mereka sama sekali jurang tidur. Lagi pula karena masih pengantin baru, masih belum puas untuk berduaan.
Elrick paham akan hal itu sehingga meminta mereka untuk pulang saja dan datang lagi besok.
Wajah Paris tampak masih membeku, pucat dan matanya menggambarkan ketakutan yang nyata. Dia begitu takut Sidney kenapa-kenapa.
Sementara Scot berada di ujung koridor ruangan itu. Dia pun sedang dilanda penyesalan yang sangat besar. Sejak pertengkaran mereka, dia tidak bicara dan memperhatikan Sidney yang ternyata sudah dia hari berbaring sakit di rumahnya.
Dia tahu kalau Sidney tidak masuk sekolah, dan dia menganggap itu cara gadis itu untuk menghindarinya. Sidney memerlukan waktu untuk memikirkan semuanya. Tapi ternyata salah. Menjauhnya Sidney ternyata bukan karena dia ingin mengambil waktu untuk memikirkan semua yang terjadi, tapi karena sakit.
Di situlah Scot merasa sangat bersalah padanya. Dia janji kalau Sidney sembuh, dia tidak akan marah lagi pada gadis itu.
"Kalian berdua kemari," perintah Elrick melihat kedua putranya. Kepala Elrick rasanya mau pecah. Dia lelah dan kurang tidur, ditambah melihat istrinya sedih dan terus menangis, membuat kepalanya mendidih. Dia tahu kalau Sidney sangat berarti bagi Raya. Dan dua bocah nakal itu pasti sudah membuat gadis itu memilih tinggal di rumahnya.
"Katakan pada mama dan papa, ada apa ini? Kenapa Sidney harus pulang ke rumahnya? Paris, bukankah papa bilang kamu yang bertanggung jawab pada kedua adikmu?"
"Sidney bukan adikku, Pa!"
"Iya, Papa tahu. Masih bisa-bisanya kau protes dalam keadaan seperti ini. Sampai matipun kau pasti tidak ingin menganggap Sidney menjadi adikmu. Sekarang katakan ada apa?"
Kedua remaja itu masih menutup rapat mulutnya. Tidak mungkin mengaku kalau mereka baku hantam karena memperebutkan Sidney.
"Kalian gak punya mulut? Kalian ini sudah dewasa! Dari gelagat kalian saja, papa sudah tahu kalau saat ini kalian sedang tidak bicara satu sama lain."
Sidang dadakan itu akhirnya terpotong karena dokter yang memeriksa Sidney sudah keluar. "Dokter, gimana putri saya?" Tanya Raya berdiri menyongsong sang dokter.
"Kondisinya masih lemah. Tapi kita sudah suntik obat agar tubuh lebih kuat dan demamnya bisa turun. Dia sudah siuman, keluarga sudah boleh masuk."
Raya segera menghambur masuk disusul suaminya dan Scot. Hanya Paris yang menahan langkahnya. Dia tidak sanggup melihat Sidney betapapun dia ingin sekali masuk.
Dia hanya menunduk di kursinya, memanjatkan doa, mengucap syukur sebab gadis itu sudah siuman.
"Hey, princess... kamu sudah bangun? Tante khawatir banget. Tante jadi bersalah meninggalkan kamu," ucap Raya menghapus air matanya yang meleleh di pipi.
"Tante jangan nangis. Aku baik-baik saja," jawab Sidney terharu. Pandangannya dilayangkan ke sekeliling ruangan, semua anggota keluarga Diraja, tidak ada papanya. Dia memang sudah seperti yatim-piatu.
Kalau bukan karena keluarga Diraja, hidupnya pasti sudah sangat terasa hampa. "Sid, cepat sembuh ya. Nanti siapa dong teman om tanding catur?" Elrick mengusap penuh kasih rambut Sidney.
Dia juga menyayangi gadis itu sudah seperti putrinya sendiri, terlebih semua anggota keluarganya juga sangat menyayangi dan mencintainya.
Sidney hanya tersenyum sembari mengangguk. "Kita keluar dulu, Sayang. Biarkan mereka bicara," bisik Elrick melirik ke arah Scot yang masih berdiri di ambang pintu.
Raya paham dan mengangguk mengiyakan. Setelah hanya tinggal mereka berdua, Sidney yang menatap Scot dengan bening air matanya membuat Scot tidak tahan lagi, segera mendekat dan memeluk erat tubuh lemah Sidney.
Tubuh Sidney bergetar hebat kala menangis di pelukan Scot. Begitu pula dengan pria itu, dadanya bergemuruh, tangannya tidak henti membelai rambut gadis itu. "Jangan nangis lagi, ntar kepala lo sakit, pingsan lagi. Diam Sid."
Hingga Sidney tertidur, Scot masih setia memeluk gadis itu. Berulang kali mengatakan kalau dia sudah memaafkannya hingga Sidney mau berhenti menangis dan jatuh tertidur akibat obat yang sudah dia konsumsi tadi.
***
Hanya dua hari dirawat di rumah sakit, Sidney sudah diperbolehkan pulang. Tapi dia meminta untuk sementara tinggal di rumahnya saja.
Raya ingin menentang, memaksa untuk tinggal bersama mereka, tapi Elrick memberikan penjelasan yang dapat dipahami Raya hingga mengikuti kemauan Sidney.
"Jadi menurut Papa mereka lagi ribut? Mama gak mau mereka sampai putus, Pa. Pokoknya Sidney harus jadi mantu kita," rengek Raya memeluk Elrick.
"Iya, papa tahu. Biarkan dulu mereka begini, memiliki jarak hingga satu sama lain menyadari apa yang lebih penting bagi mereka."
Semua kembali seperti sedia kala. Scot bermain, jalan dan melakukan aktivitas dengan Sidney. Bahkan mereka semakin solid. Demi Sidney, Scot bahkan mengurangi intensitas bertemu dengan Gladys agar bisa menemani Sidney.
Semua memang tampak sempurna. Sidney sudah kembali seperti dulu. Tapi satu hal yang Scot sadari, tatapan mata Sidney kosong, begitupun hatinya. Mungkin bibirnya tertawa kala mereka tertawa, tapi hatinya menangis, matanya mencari sosok yang juga kini menjaga jarak dengannya.
Saat itulah Scot menyadari, mungkin dia bisa memenangkan Sidney dari Paris, tapi selamanya di hati gadis itu, pria yang dia cintai tetap Paris.
Haruskah sebagai sahabat dia mempertahankan egonya? Bagaimana dengan perjanjian, 'kalau sahabat harus ikut bahagia dengan kebahagiaan sahabatnya itu'?
Setiap dia dan Gladys jalan, Scot memaksa Sidney untuk ikut, walau gadis itu ikut, tapi nyatanya nyawa Sidney tidak ada bersama mereka. Scot menyerah. Kalau dia memang sayang pada sahabatnya itu, maka dia harus mendukung Sidney memperjuangkan kebahagiaan, bukan?
"Mau kemana lo?" Tanya Scot yang melihat Sidney sejak tadi gelisah dan kini hendak keluar dari ruang kelas. Jam pelajaran kosong membuat anak-anak pada kabur ke kantin.
"Ke toilet. Bentar ya..."
Perasaannya tidak enak sejak tadi dan menebak kalau saat ini dia pasti sedang datang bulan. Saat memeriksa dugaannya tepat. Bahkan rok sekolahnya juga sudah kena noda.
"Gimana nih?" Cicitnya bingung. Di dalam tasnya juga dia gak membawa persediaan pembalut.
"Kalau gue keluar, banyak anak-anak, nanti gue pasti diejek. Apa lebih baik gue tungguin aja sampe bel masuk?" Sidney sibuk menimbang apa yang harus dia lakukan, dan akhirnya memutuskan untuk tetap di sana.
"Lo di sini? Sidney mana?" Tanya Paris yang sudah mulai berbicara dengan Scot.
"Tadi izin ke toilet, tapi udah lama kok gak balik, ya? Dasar cewek emang," komentarnya.
Paris yang sejak tadi duduk di kantin, beranjak mencari Sidney. Jauh dari pandangannya membuat Paris selalu khawatir akan gadis itu.
"Siapa di dalam?" Tanyanya saat ada siswi keluar dari kamar mandi.
"Sidney."
"Kenapa lama di dalam?" Desak Paris penasaran. Karena takut pada Paris, gadis itu justru membeberkan keadaan Sidney di dalam sana.
"Dia lagi datang bulan, tapi gak bawa pembalut katanya."
"Lo tunggu di sini. Jangan pergi!" Ancam Paris lalu berlari ke koperasi sekolah. Tidak berapa lama, dia kembali membawa pembalut sekaligus jaket yang biasa dia pakai.
"Berikan ini padanya."