
"Kamu gak ganti baju, Sid?"
"Hah?" Sidney yang duduk di tepi ranjang, meremat jemarinya demi menghilangkan rasa gugupnya, sementara suaminya yang sudah selesai membuka sepatunya mendekat dan jongkok di hadapannya.
"Mau apa?" tanya Sidney menurunkan gaunnya saat pria itu memegang gaunnya dan mengangkatnya.
"Mau buka sepatumu. Apa gak sakit?"
Sidney jadi merasa tidak enak hati, menatap pangerannya itu. "Aku bantu buka gaunmu, ya?"
Sidney mengangguk. "Aku gak akan memaksamu untuk memenuhi kewajibanmu sebagai istri, aku akan sabar menunggu sampai kamu siap," ujar Paris membuka kancing yang ada di gaun Sidney.
Sidney gak mengerti, kenapa dia jadi takut malam ini, padahal kemarin-kemarin justru dia yang minta untuk pada Paris.
"Sudah, " ucap Paris yang sudah membuka semua kancing, hingga punggung gadis itu terekspos. Paris tidak tahan melihatnya hingga mencium lembut kulit putih mulus Sidney.
Sidney memejamkan mata, meremas sisi gaunnya yang merinding karena sentuhan bibir Paris yang terasa panas di kulitnya.
"Ris, aku mandi dulu, ya," ucap Sidney lemah.
Ingin rasanya Sidney berlama-lama di kamar mandi, tapi gak mungkin, sudah dua kali pintu digedor Paris selama 30 menit di dalam sana.
Saat Paris bersiap ingin mengetuk lagi, Sidney keluar. Aroma mawar yang menyeruak dari tubuh Sidney mampu membius Paris ingin mendekap istrinya itu saat ini juga, tapi dia tidak ingin membuat Sidney ketakutan.
Paris buru-buru menyelesaikan mandinya, lalu kembali keluar. Pikirannya sudah terkontaminasi oleh bayangan tubuh Sidney yang aduhai.
"Loh, kenapa masih pakai bathrobe?" Tanya Paris yang melihat Sidney duduk di sisi ranjang.
"Gimana mau pakai baju, pakaian aku gak ada di sini, yang ada di koper itu malah baju tidur yang kurang bahan semua." Paris mendekat, membongkar koper mereka dan melihat beberapa lingerie dengan model menggoda iman, menantang naluri kelaki-lakiannya.
Glek! Susah payah Paris menelan salivanya hanya dengan membayangkan Sidney memakainya.
"Iya, gak usah pakai ini. Lebih baik gak usah pakai apapun," ucap Paris mema*gut bibir Sidney, dalam dan lama. Memancing gairah wanita itu hingga menginginkannya.
Lidah Paris mulai membelai langit-langit mulut Sidney, membelit lidahnya hingga gadis itu terengah-engah.
"Ris..." desahnya penuh hasrat.
"Iya, sayang..." sahut Paris merambah ke lehernya. Dia bisa merasakan tubuh gadis itu bergetar hebat. Paris membaringkan tubuh Sidney di ranjang, menarik tali bathrobe nya hingga tubuh mulus Sidney terekspos jelas di matanya. Tatapan Paris bak singa kelaparan.
Mulai menjelajah tubuh istrinya, mencium bibir Sidney sebagai dosis pembuka agar gadis itu bisa lebih rileks saat menerima sentuhannya.
Merasa menikmati teksturnya hingga Paris yang sungguh mengagumi bentuk dan ukurannya memasukkan salah satu puncaknya yang tampak berwarna merah muda ke dalam mulut.
Terasa panas dan membakar jiwanya. Sidney lebur tersesat oleh gairah. Hisa*pan Paris yang lembut lalu tiba-tiba mengencang membuat Sidney tersentak, melengkungkan tubuhnya.
"Ris... aku... " de*sahnya tidak karuan saat tangan pria itu menyelusuri tubuhnya ke bawah dan jauh lebih ke bawah, menyentuh intinya.
Sidney tampak basah dan siap, tapi Paris masih ingin bermain dan memuja tubuh istrinya. Paris turun menjilati perut hingga turun lebih ke bawah.
"Ris, jangan, aku malu. Itu kan jorok," ucap Sidney merapatkan pahanya.
"Gak ada yang jorok dari tubuhmu. Ini milikku, Sid aku ingin menciumnya," tegas Paris dan membuktikan ucapannya, mencium permukaan milik Sidney lalu mulai menyapukan lidahnya di bagian inti Sidney. Gadis itu bergerak dan men*desah tertahan.
"Ris..." panggilnya dengan suara terengah, membelai rambut Paris dan memintanya untuk naik, menuntaskan permainan mereka
Sidney sudah tidak tahan, rasa nikmat yang diberikan Paris sungguh menyiksa.
Paris yang juga sudah tidak tahan, merangkak naik dan mengecup bibir Sidney. "Jadilah milikku selamanya, Sayang," bisiknya di atas bibir Sidney, lalu turun, memposisikan dirinya di antara paha mulus Sidney.
Rasa takut Sidney membuatnya merapatkan kembali pahanya. "Aku janji, gak akan sakit, aku akan melakukannya dengan perlahan dan lembut, hingga yang tersisa hanya rasa nikmat."
Sidney mengangguk, belaian tangan Paris di pahanya membuatnya kembali rileks. Dengan perlahan Paris mendorong, tapi belum berhasil membobol pertahanan Sidney. Kepanikan melanda gadis itu lagi. Paris mencium bibirnya, dan satu tangannya mulai mengarahkan senjatanya pada milik Sidney, lalu setelah masuk setengah, mendorong kuat dalam satu hentakan hingga menembusnya lapisan diri Sidney.
Kuku tangannya menancap di punggung Paris, ketika rasa sakit itu datang. Paris diam dalam penyatuan mereka membiarkan istrinya mengambil napas dan waktu, setelah rasa sakit itu berkurang, Paris mulai menggoyangkan tubuhnya, yang secara naluri diikuti oleh Sidney.
"Ris... aku... aku mohon...aku ingin..."
"Iya, Sayang... aku juga. Kita bersama-sama, ya," sahut Paris mulai memaju-mundurkan tubuhnya, memompa tubuh Sidney hingga puncak yang ingin mereka raih bisa digapai. De*sahan dan lolongan panjang menandai puasnya petualangan mereka yang pertama.
*
*
Udah ya, jangan minta lagi. Ini benar-benar part yang terakhir, janji jangan minta lagi🤭🤭
Makasih semua, pamit dari cerita ini ya, mampir ke novelku yang lain. Akhir kata, author dan keluarga Diraja beserta jajarannya, mengucapkan banyak terima kasih dan sampai jumpa.
Mengenai novel, nanti kalau udah cetak, aku akan bagi-bagi sama pembaca yang paling banyak nyawer🤭🤭