
Elrick terpaku melihat rumah sederhana yang ada di hadapannya. Rumah asri khas pedesaan. Memiliki halaman luar dan dikelilingi pagar bambu. Pintu tampak tertutup, namun dari arah dalam terdengar suara televisi yang menyala.
"Kalau jam segini, Pak Darma pasti lagi ada di warung kopi dekat balai desa. Biasanya menghabiskan waktu senja hingga malam nanti dengan bermain catur," terang pria bernama asli Berton itu dengan suara datar. Masih bertanya-tanya mengapa Elrick masih ingin bertemu Raya yang sudah lama tidak dia jumpai.
Lagi pula, Berton ingat, pria itu memang menyewa Raya semalaman, tapi setelah dua jam, pria itu turun dan mengatakan adanya sudah selesai dengan Raya.
Dingin udara malam desa, membawa Betty ke masa itu. Perbuatan yang menyisakan penyesalan besar. Adiknya memang sembuh, bisa ditolong dan saat ini sudah masuk SMP. Dia berhutang pada Raya akan hal itu. Tapi untuk mengakui perbuatannya pada Raya, sungguh Betty tidak berani.
"Kenapa sih, Bet, wajah koe suntuk amat?" tanya seorang wanita yang berprofesi sebagai penghangat ranjang para pria kesepian.
"Aku lagi bingung, Mbak Yu. Ada bos tajir cari selimut," ucapnya ikut duduk di samping wanita yang sedang mempertebal lipstiknya sebelum menjajakan diri.
"Kasih aku aja toh," sambar wanita itu menghentikan aksinya. Memiringkan duduknya untuk bisa lebih leluasa menatap Betty.
"Ya ora bisa toh, Mbak. Dia maunya *na*seh perawan!" seru Betty pusing. Dirogohnya tas tangan, menari rokok dan pemantik, mungkin nikotinnya bisa memberikan ide.
"Bayarannya gedhe, ora?"
"Sangat. Makanya aku bingung ini. Mau cari dimana perawan di desa ini yang mau temani dia, ya?"
Hening sejenak. Lalu sesuatu terbersit dalam pikiran Rahayu. "Sik yo," ucap Rahayu mengeluarkan ponselnya. Lalu berbicara pada seseorang diserang sana. Menunggu 20 menit, Lani datang bersama Raya yang saat itu memang sedang di rumah Raya. Lani menghabiskan banyak waktunya di rumah Raya. Makan, minum dan juga kadang menginap, karena di desa itu hanya keluarga Lani yang mau menerima Lani. Teman-teman mereka yang lain tidak ada yang tulus berteman dengannya karena profesi ibunya.
"Ada Apa, Bu? Untuk apa kami disuruh ke sini?" tanya Lani yang baru tiba bersama Raya.
"Ini, kau ajak Raya nongkrong di restoran hotel, pesan jus sambil nonton biduan tampil." Rahayu menyerahkan uang 100 ribu ke tangan putrinya, bersama dua biji pil yang biasa dia kasih minum pada calon korbannya yang susah ditaklukkannya.
Lani menatap bingung ke arah wajah ibunya. Tangan keduanya masih mengapit uang dan bingkisan pil itu. "Nanti ibu kabari." Hanya satu kalimat itu yang Rahayu ucapkan, lalu membalik pundak Lani dan mendorongnya. "Bergegaslah kalian pergi. Raya jangan malu-malu, pesan saja apa yang kamu mau, ya," ucap Rahayu.
"ngeh, Bu. Matur nuwun."
Hanya butuh dua jam untuk menaklukkan kesadaran Raya. Lani, seperti yang sudah diinteruksikan oleh ibunya lewat pesan WhatsApp, memasukkan pil itu pada minuman Raya, walau tidak tahu apa tujuannya.
Setelah mendapat kabar dari Lani, Betty dan juga Rahayu kembali ke restoran hotel. Raya sudah tergeletak di sofa tak sadarkan diri.
"Pasti obatnya sedang bereaksi. Cepat gotong ke atas. Nanti saat dia bangun, dia pasti jadi liar dan ingin dipuaskan," ucap Rahayu memandang penuh kemenangan ke arah Raya.
"Ibu, kenapa ibu lakukan ini?" ucap Lani tidak tega pada Raya. Sedikit banyak dia sudah menduga apa yang ingin dilakukan kedua orang yang hidup di dunia malam itu.
"Diam, kau. Kita butuh uang, dan ada pria yang mau bayar mahal untuk tubuh Raya."
"Tapi Raya teman aku, Bu. Jangan, Bu, kasih Raya."
"Kau mau beli ponsel baru, kan? kalau kau punya banyak uang, kau bisa ke salon buat smoothing!"
Tergiur oleh imbalan yang akan diberikan untuknya, Lani pun merelakan Raya dibawa ke kamar hotel.
"Maaf, Bos. Ini sudah malam. Di kampung ini, tidak baik bertamu malam-malam ke rumah orang, apalagi ke rumah janda!"
"Janda?" Elrick bingung. Setahu dia, Raya saat ini sedang hamil, berarti punya suami. Lantas sekarang dia mendapati kenyataan kalau wanita itu sudah janda. Bukannya tidak boleh bercerai saat sang istri tengah mengandung?
"Kabarnya sih gitu, Bos. Lagian saya mau tanya, sebenarnya bos mau apa sih menemui Raya? jangan bilang bos ingin nostalgia lagi dengan dia. Aduh, Bos. Jangan yang aneh-aneh lah, lebih baik kita pulang. Bapaknya gualak tenan, Bos," ucap Betty tidak ingin mendapatkan masalah dari pak Darma.
Elrick sendiri bingung, mau apa dia menemui Raya? Diawal, tujuannya hanya ingin menyampaikan pesan Nani, Omanya, lalu kalau gadis itu mau, mengajak Raya pulang. Sekarang, setelah semua terungkap, dia justru bingung harus bersikap bagaimana.
"Ayolah, Bos. Lebih baik kita pulang. Kita pikiran dulu, besok kalau mau kesini lagi, baru saya temani."
Menimbang ucapan Betty, Elrick mengangguk karena merasa tepat. Dia butuh mempersiapkan mentalnya saat berhadapan dengan Raya. Kalau biasanya dia akan bersikap santai kalau berada dalam satu ruangan dengan gadis itu, kali ini pasti akan sangat berbeda.
***
Siang menjelang, Cahaya terik menyinari hingga kamarnya. Elrick bangun sudah hampir pukul tiga sore.
Semalam tidak tidur, membuatnya bangun kesiangan. Bagaimana mungkin dia bisa tidur semalam setelah mendengar cerita Betty.
"Saya merasa bersalah sekali pada Raya, tuan. Setelah kejadian malam itu, Raya yang terbangun pukul lima pagi menjerit histeris di dalam kamar, mendapati dirinya yang sudah ternoda. Pelayan hotel yang saya tugaskan untuk mengurusnya mengatakan kalau Raya bahkan hampir bunuh diri saat melihat noda darah yang ada di seprai."
Betty diam. Mengangkat gelasnya dan meneguk habis isinya sebelum mulai melanjutkan ceritanya.
Dia diantar pulang, dan sejak saat itu dia hanya mengurung diri di dalam kamar. Cemoohan dari warga yang menudingnya sebagai pela*cur membuat ibunya syok dan jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia." Betty mere*mas genggamannya pada gelas kaca di hadapannya. Elrick pun ikut membisu, larut akan kesedihan cerita Betty.
"Kepergian ibunya membuat Raya semakin terpukul, dan hampir gila. Para warga sudah memvonisnya sebagai gadis yang mengalami gangguan jiwa, karena tidak mau diajak bicara, hanya diam, dan menangis."
"Lantas, kenapa dia bisa menikah kalau dia gila? kau bilang dia janda?"
Dika, nama suaminya. Pria itu sudah lama jatuh hati pada Raya, karena memang dia adalah wanita yang paling cantik di desa ini. Pria itu terus mendekati Raya yang tertutup, hingga gadis itu kembali mau bicara pada orang lain dan berangsur normal kembali, setelahnya, Dika mengajaknya menikah, dan membawa Raya ke kota."
"Lalu?" Desak Elrick yang ingin tahu semua tentang Raya. Kini dia merasa bersalah pada gadis itu. Dialah yang menjadi penghancur masa depannya.
"Ada kabar yang mengatakan, Dika menikah lagi, sehingga Raya minta cerai."
*
*
*
Lanjut gak nih? mau plot twist lagi? bagi hadiah dong 😅