
Raya hanya duduk sembari memandangi Lia yang sibuk memilih pakaian yang disodorkan penjaga butik.
"Kayaknya ini deh, buat kamu semakin cantik, berani dan mempesona banget," ucapnya menunjukkan gaun merah menyala. "Kulitmu yang putih mulus itu akan membuat semua tamu undangan terpana."
"Gak mau, ah. Itu terlalu terbuka Liya. Aku gak mau mempermalukan mas Elrick, nanti dipikir punya istri genit penggoda," sahut Raya bergidik ngeri. Gaun itu mewah dan sangat cantik, tapi itu tidak akan cocok dengan dirinya yang kalem. Terlebih hanya wanita yang tinggi bak model yang cocok dengan gaun sepanjang itu.
"Ya sudah, kita carik yang lain." Lia kembali memilih di deretan gaun yang tergantung. Ruangan itu dipenuhi banyak gaun tapi tidak ada yang menarik hati Raya. Kalaupun ada, pasti terlalu terbuka.
Hingga sampailah sang desainer pemilik butik mewah itu mengeluarkan gaun berwarna baby pink indah menjuntai panjang. Begitu indah dengan segala kerumitan detail jahitannya.
"Ayo coba," ucap Lia antusias. Itu dress yang terbaik. Seolah menggambarkan dirinya yang begitu lugu, tapi ada sisi berani dan juga mengga*irahkan dari dalam dirinya.
Gaun itu mungkin tertutup hingga kebawah, membentuk pinggul ramping dan pinggangnya yang kecil, tapi mempertontonkan bahu belakangnya yang sangat mulus.
Raya menatap pantulannya di cermin. Dia sangat cantik dibalut gaun itu, bak dewi Yunani kuno. Dia sangat menyukai tampilannya. Tapi saat berbalik, Raya jadi mengurungkan niatnya. "Liya ini terlalu terbuka," cicitnya.
"Dih, ni gadis ya, ini gak terbuka. Ini masih batas sopan kok. Untuk acara besar dan mewah seperti itu, gaun ini udah paling pas. Ini gaun yang biasa dipakai artis papan atas atau wanita sosialita."
"Apa mas Elrick gak akan marah?"
"Dia gak akan marah. Malah dia akan bangga. Ingat Raya, banyak wanita di luar sana yang bersiap, menunggu kau lengah dan segera menerkam suamimu. Banyak wanita di luar sana yang bahkan bersedia tidak berpakaian untuk suamimu, dan kau masih ingin menutup pundak belakangmu?" ucap Lia memutar bola matanya jengah.
Raya diam sejenak. Dia membenarkan lagi ucapan Lia. Buktinya kemarin di kantor, sekretarisnya mengaku-ngaku kekasih suaminya. "Tapi yakinkan, ini masih sopan?"
"Iya, sayang. Udah yuk pulang. MUA mu udah nunggu tuh di rumah."
***
Dua jam Raya 'dikerjai' hasilnya sangat memuaskan. Siapapun akan sulit memalingkan wajahnya dari Raya jika sudah melihat gadis itu. Bahkan dia sendiri saja merasa kaget betapa tampilannya sangat cantik.
"Suka, Mbak?" tanya MUa yang sudah menyelesaikan sentuhan akhirnya.
"Sangat," sahut Raya terpukau. Senyumnya mengembang di depan cermin besar itu. "Pasti susah ya, merias wajahku?"
"Sebenarnya wajah dan kulit mbak cantik dan sehat loh. Malah saya cuma oleh-oles dan jadi seperti ini. Mbak sangat cantik, coba aja belajar make up, Mbak," usul si perias.
Sekali lagi Raya mengagumi tampilannya. Dia terlihat bak ratu kerajaan. Cantik, elegan dan sangat mempesona.
"Ray, itu Bagas di bawah. Katanya, mas Elrick minta untuk langsung ke sana, membicarakan masalah proyek sekaligus tanda tangan kerjasama dengan yang punya hajatan. Heran deh, anak mau nikah masih sempat mikirin bisnis," ujar Lia yang tengah menggendong Paris.
Sejak bayi itu lahir, Lia setiap hari menjaga dan bermain bersama Paris. Bahkan kalau Paris tidur siang, Liya akan membawa anak itu ke rumahnya, mengurus dan menjaga bayi besar itu. "Buat mancing, Ray. Moga aku segera hamil," ucapnya kala Raya tidak enak hati, merepotkan Lia menjaga Paris.
"Jadi, aku harus pergi sendiri ke sana? duh, jadi makin gak pede," ucapnya duduk kembali di kursi meja rias.
"Gak papa. Nanti setelah tiba di sana kan ketemu sama mas Elrick," sambar Lia. Bay the way, you look so beautiful to night. Sumpah, pangling aku."
Raya tersenyum. Setidaknya dia tidak akan mempermalukan Elrick di pesta nanti. "Liya, beneran gak papa aku titip Paris?"
"Santai aja, Ray. Mas Sandi juga lagi ke luar kota. Jadi aku bisa berduaan dengan pangeran tampan ini," ucapnya.
***
Sepanjang jalan, Raya berdoa semoga orang-orang yang ada di pesta itu, yang dia temui nanti adalah orang-orang yang menyenangkan.
Lamunannya terhenti kala mobil sudah berhenti di parkiran. "Kita sampai, Bu," ucap Bagas.
Raya sangat gugup dan sedikit terselip rasa takut. Tempat itu ramai dipadati tamu undangan. Ia terus berjalan masuk ke lobi gedung, matanya mencari ke sana ke mari sosok yang sejak tadi dirindukannya. Tiba di depan pintu masuk aula, dua orang pria berpakaian rapi dengan dasi kupu-kupu di leher, memintanya untuk menunjukkan undangan. Raya gelagapan, dari mana mendapatkan undangan, dia memang tidak punya.
"Sebentar, Mas. Saya lagi mencari suami saya." Matanya terus menatap satu persatu orang di sana, menjadi diantara kerumunan orang banyak.
"Sedang mencariku, My Lady?"
Raya hanya mengangguk dan tersenyum, sangat anggun. Dia sudah belajar sedikit tadi lewat YouTube cara bersikap di pesta kalangan atas.
"Izinkan aku memujimu atas penampilan beranimu malam ini, My Lady. Aku harus menguatkan hatiku untuk tidak menyeretmu pulang dan menguasaimu di tempat tidur. Dan aku bingung, harus marah atau justru kagum padamu."
"Aku? kenapa?"
"Kau terlihat sangat mempesona, cantik, dan sangat anggun, sekaligus menggoda. Siapa yang mengizinkanmu terlihat sangat cantik malam ini? Aku tidak ingin pria-pria di ruangan ini memandang kulit mulusmu ini. Kau hanya milikku, semua yang ada di tubuhmu adalah milikku, hanya milikku!" Tangan Elrick sudah menarik pinggang Raya, mendekatkan pada dirinya, dan menyapu bibir Raya sekilas. Tatapan Elrick begitu posesif padanya hingga setiap mata pria yang melihat istrinya, dia akan melotot dengan rahang mengeras.
Acara malam itu sungguh megah. Raya baru pertama kali ini bertemu banyak artis, baik itu penyanyi atau pemain film dan sinetron. Seolah mimpi, dirinya bisa duduk berdekatan dengan mereka. Bahkan mejanya lebih di depan ketimbang beberapa artis itu.
Elrick memperkenalkan istrinya pada semua koleganya, yang juga menyambut ramah kehadiran Raya. Tapi tentu saja Elrick tidak mengizinkan para pria itu menyalami Raya lebih lama.
"Kau sangat beruntung, tuan Diraja, bisa mendapatkan gadis secantik dan masih sangat muda seperti ini," ucap tuan Chandra Sudibyo, orang yang punya hajatan sekaligus partner bisnisnya yang baru.
"Benar sekali. Nyonya Diraja sangat cantik. Kalau saya punya istri secantik ini pasti akan betah di rumah," timpal yang lain.
Elrick hanya tersenyum kaku. Semakin tidak betah berlama-lama di sini. Seperti katanya tadi, dia tidak suka membagi Raya.
Untuk menghormati tuan rumah, Elrick dan Raya ikut berdansa malam itu. Satu tembang romantis mengiringi gerak langkah mereka. Elrick melihat ke sekeliling, beberapa pria sudah menunggu dia selesai, untuk bisa menggantikan dirinya berdansa dengan Raya. "Jangan harap!" cicitnya.
"Ada apa, Mas?"
"Kepalaku pusing, kita pulang ya, Sayang."
"Tapi acaranya belum selesai," ucap Raya. Tapi melihat wajah Elrick yang tidak nyaman, Raya pun mengangguk. Dandanan berjam nya hanya dinikmatinya 20 menit.
Raut kekecewaan muncul pada wajah teman-teman Elrick, saat pria itu menggandeng istrinya dan pamit pulang. Mereka tidak punya pilihan lain, selain menahan hasrat mereka yang ingin berdansa dengan Raya.
Harusnya Raya sadar akan akal-akalan suaminya. Sakit kepala hanya alasan untuk membawa Raya lebih cepat naik ke ranjang.
Malam itu menjadi pelabuhan cinta sekaligus hasrat mereka yang selalu menggebu. Rasa puas dan juga gelora cinta berpacu, terukir jelas di wajah keduanya.
"Aku sangat mencintaimu," bisik Elrick mendekap istrinya. Napasnya masih belum stabil setelah pelepasan mereka yang terakhir.
"Aku juga. Dan terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku," balas Raya mengecup dada Elrick.
***
Kebahagiaan terus hadir di keluarga Diraja. Dua tahun usia Paris, akhirnya Raya hamil anak keduanya, dan kebahagiaannya semakin sempurna kala mengetahui Lia pun tengah hamil, bahkan usia kandungan mereka juga sama.
Kini keduanya benar-benar menjadi saudara. Saling berbagi tips dimasa kehamilan, menikmati waktu bersama dan bergembira.
Raya duduk di teras rumahnya di suatu sore. Memandang anak dan suaminya yang asik bermain bola. Bulir bening mengalir di pipi Raya. Betapa hidupnya penuh dengan berkah dari Allah. Dulu dia terbuang, disia-siakan, tapi kini pria bernama Elrick sudah mengangkatnya, menjadikannya wanita yang sempurna dan selalu dipenuhi kebahagiaan.
Pelajaran berharga bagi siapa saja. Jangan pernah melihat milik sendiri terasa tidak berarti, jelek dan membosankan, tapi setelah bersama orang lain, baru sadar dia terlihat begitu berharga dan menarik. Jadi, jangan sebelum seseorang itu pergi, baru menyadari kalau dirinya berharga.
Raya memejamkan mata, bersamaan dengan itu bulir air mata turun di pipinya.
"Terima kasih ya Allah..."
*
*
*
Hufffh... selesai.... yeeeeey... Akhirnya season satu kelar. Terima kasih untuk semua yang sudah singgah. Dua bulan kebersamaan kita, aku terharu π₯Ίπ₯Ί Membaca komen-komen kalian adalah salah satu imun ku buat semangat up lagi. Terima kasih yang sudah mampir, support, kasih hadiah, dan juga doa. Semoga Allah yang membalas kebaikan kalian, para readers setiaku. ππππ₯Ί
Akhir kata aku pamit, sampai jumpa di season 2, nanti aku kabari kapan mulai tayang. Gitu aja, see you bye-bye..ππππ