Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 104


Elrick terus saja mengamati gerakan luwes Raya yang menyusun rapi semua pakaian dan segala keperluan yang dibutuhkannya selama di luar negeri nanti. Hari ini Elrick terbang ke Australia, bersama Bagas. Tapi tetap, Toni dan juga Dono akan tetap mengawasi Raya. Terlebih Dono, yang memang dipekerjakan sejak awal hanya untuk menjadi bayangan Raya, memberi informasi pada Elrick setiap aktivitasnya.


"Sudah semua," ucapnya menghela napas, puas karena bisa menyelesaikan semua tepat waktu, gak harus buru-buru ke bandara. Diliriknya Elrick yang duduk di tepi ranjang, yang saat itu juga tengah menatapnya. "Kenapa? kok ngelihatin?" Raya tersenyum lembut, bangkit dari lantai dan menuju tempat Elrick duduk.


Pria itu menarik Raya agar tidak duduk di sampingnya tapi justru di pangkuan pria itu. Menyandarkan kepalanya di dada Raya, tempatnya selalu bermanja. "Kenapa kau gak ikut sih, Ray?" ucapnya dengan suara manja. Kalau sampai Bagas atau Dipa tahu dia bersikap kayak anak kecil begini, bisa hancur reputasinya.


"Kan udah kita bahas, Mas. Aku juga pengen ikut, tapi kesehatan Oma saat ini tidak memungkinkan untuk ditinggal. Gak papa, ya?"


"Memangnya aku bisa apa lagi?" ucapnya mencium leher istrinya. Mengecup dan membuat satu tanda merah di sana.


"Aaaach...."de*sah Raya tertahan. Dia meremat sisi gaunnya demi menahan suara itu keluar lagi, karena dia tahu apa akibatnya kalau dia sampai mende*sah.


Elrick selalu bilang kalau dia akan semakin terbakar kala mendengar istrinya mendesah. Dia suka dan membuatnya bergai*rah.


"Kita buat sekali lagi yuk, Sayang," bisiknya.


"Iih, Mas Elrick... baru juga habis mandi, masa mau mandi lagi. Lagi pula nanti mas terlambat."


"Tapi nanti aku pasti kangen banget sama ini," bisiknya sembari turun menciumi gundukan mengkal milik Raya.


"Cuma seminggu, nanti kita gaskeun,"sahut Raya tersenyum malu. Belum ada dua Minggu menikah dengan Elrick, dirinya semakin berani saja. Dia ingat ucapan Elrick, suami istri tidak boleh malu untuk mengungkapkan keinginannya, menunjukkan gai*rah yang dirasakannya.


Kini dia bisa menjadi dirinya. Tidak ada rasa takut, sungkan, apalagi rasa malu. Dia bahkan sudah berani menunjukkan saat dia ingin, dengan mengelus dan menciumi dada suaminya, Elrick sudah tahu harus apa.


"Jaga kesehatan ya, Sayang. Jangan kelelahan," ucap Elrick yang menangkup wajah Raya dan mendekatkan ke wajahnya. Satu ciuman mendarat di bibir Raya lalu beralih ke kening dan tidak ketinggalan di kedua pipi Raya.


***


Nyatanya tidak semudah yang Raya bayangkan. Dua hari ditinggal Elrick, dia sudah merasa kesepian. Dia bahkan menangis setiap Elrick melakukan panggilan video call dengannya pada hari ke empat Elrick pergi. Kalau sudah begitu, Elrick pasti langsung menutup panggilan itu, dan mengirimkan pesan. "Aku tutup, aku gak tahan melihatmu menangis. Aku juga kangen. Sabar ya, sayang."


Siang itu, Oma meminta pada Raya, untuk membawanya duduk di teras rumah. "Ada tetangga baru ya, Ray?" tanya Oma yang menatap lurus ke depan rumah itu.


"Kayaknya sih iya, Oma," sahutnya, ikut mengamati kesibukan orang-orang di depan sana.


Seorang wanita yang mungkin seumuran Raya mendatangi mereka. "Selamat siang, kami tetangga baru di depan. Perkenalkan, nama saya Lia," ucapnya ramah. Gadis itu sangat cantik. Senyumnya juga tulus, kali pertama melihatnya saja, Raya sudah menyukainya.


"Oh, hai. Aku Raya, ini Omaku," ucap Raya membuka pintu gerbang rumahnya, agar wanita itu bisa masuk.


Dua jam lebih mengobrol, Raya dan Oma tidak merasa bosan. Bahkan Raya merasa sangat nyaman saat berbincang dengan wanita itu.


Sejak saat itu, Raya sering mengobrol dengan Lia bahkan semakin dekat. Lia juga merasa nyaman dengan Raya dan keduanya mengikrarkan diri menjadi sahabat baik.


"Semoga persahabatan kita langgeng ya?" ucap Lia yang diangguk Raya.


Hal itu membawa dampak positif bagi Raya. Dia tidak merasa kesepian lagi. Dia banyak bicara bahkan jalan menghabiskan waktu bersama Lia. Oma yang melihat hal itu ikut gembira untuk Raya.


"Akhirnya, Raya punya sahabat yang tulus padanya. Setidaknya gadis itu jadi terhibur sehingga lupa oleh keinginannya untuk membuka laundry lagi," ucap Nani pada Juminten yang melihat perubahan sikap Raya yang sangat ceria.


Berulang kali Raya memohon untuk diizinkan untuk kembali membuka usaha laundry. Saat diajak Darma pulang ke kampung kemarin, laundry Raya sudah dialihkan pada orang lain. Kebetulan Nana sudah dipinang oleh pria pilihan orang tuanya. Sementara Ranti, kembali ke kampung halamannya setelah diberikan pesangon dan juga tiket untuk pulang.


Bahkan Elrick sampai bingung. Malamnya dia video call dengan Raya, wanita itu tidak menangis lagi, bahkan sibuk menceritakan kedekatan dengan sahabat barunya. Elrick pikir gadis itu akan sangat gembira mengetahui kepulangannya besok, tapi ternyata tanggapan Raya hanya standar. Padahal Elrick berharap istrinya akan guling-guling dilantai, manjat lemari saking senangnya, tapi ya sudahlah, dia ikut gembira kalau Raya kini sangat senang dengan teman barunya.


***


"Aku bahkan sudah meminum semua jamu dan obat yang disarankan oleh keluarga, tapi belum ada juga tanda-tanda kehamilan," ucap Lia. Sore itu di rumah wanita itu, keduanya membahas mengenai keinginan untuk bisa memiliki momongan.


Raya hanya diam, tanpa sadar memegangi perutnya. Teringat kembali janinnya yang saat itu hampir memasuki tiga bulan, tapi mereka tidak berjodoh sebagai ibu dan anak.


Dan kini, setelah menikah kembali, Raya tentu saja ingin memberikan keturunan pada suaminya. Hal itu jugalah yang buat Raya merasa takut, karena dia sadar kalau rahimnya juga lemah, susah untuknya bisa hamil.


"Dih, kok jadi bengong, Ray?" ucap Lia mencubit pipi Raya sembari tertawa. "Nih, minum dulu tehnya."


"Makasih, Lya. Sejujurnya, aku takut kalau aku gak bisa hamil. Rahimku memang lemah. Sedangkan mas Elrick udah pengen banget kayaknya punya anak," terang Raya lemas.


"Jangan mikirin hal yang buat kamu down. Aku yakin, kau pasti bisa punya anak. Gitu juga aku. Aku akan mendoakan mu juga dalam setiap sholat ku," ucap Lia memeluk Raya.


***


Kepulangan Elrick malam itu menjadi hal yang paling membahagiakan buat Raya. Rasa rindunya yang sekian lama tertahan kini bisa dia puaskan.


Tapi dia harus menahan diri, begitu pun dengan Elrick. Oma menuntut untuk berbincang dengan keduanya. Berbagai jenis hadiah dibawa pria itu untuk Oma dan Raya.


"Apakah kau merindukanku?" bisik Elrick setelah melucuti pakaian Raya hingga gadis itu kini polos, sama seperti ketika dia lahir di dunia ini.


Dua jam menemani Oma, akhirnya wanita itu mengantuk dan pasutri yang sudah menahan gejolak rindu itu pun bisa naik ke atas.


"Sangat... bahkan membuatku sesak setiap merindukanmu," ucap Raya yang sudah berada di bawah tubuh suaminya.