
Oma menyambut mereka di halaman rumah, karena saking tidak sabar melihat kedua orang yang paling berarti dalam hidupnya. Pelukan yang begitu kuat diberikan Nani pada Raya setelah wanita itu turun dari mobil.
"Kenapa lama sekali kalian kembali? Oma sudah kangen sekali," ucapnya sesaat setelah melerai pelukan mereka.
"Maaf, Oma," jawab Raya tersenyum. Tiba giliran Elrick yang menghampiri, Oma malah menjambak rambutnya.
"Aaau... sakit Miss universe... Ada apa sih? kepala ku bisa botak Oma," Tukas Elrick memohon agar rambutnya dilepaskan.
"Kau pantas mendapatkan itu. Setelah kau mendapatkan Raya, kau lupa pada Oma mu, bahkan kau memonopoli keberadaan Raya," hardik Nani kesal, tapi langsung melepas tangannya dari rambut Elrick.
"Hai, apa kabar? Selamat datang di keluarga ini," sambut Dipa yang sejak tadi tertawa renyah melihat Elrick yang mendapat hukuman dari Oma.
"Terima kasih banyak, Dip." Senyum Raya mengembang. Dipa kini sudah bukan hanya menjadi sahabat saja, tapi sudah menjadi keluarganya.
"Kalian ngomongin apa di belakangku? Dengar, sekarang dia ini adalah kakak iparmu, jadi kalau ada niat buruk dan juga pikiran kotor bersarang di kepalamu, singkirkan jauh-jauh!" Hardik Elrick yang sudah menyampirkan lengannya di bahu Raya.
Dipa yang mendapat tuduhan tanpa alasan hanya tersenyum geli ke arah Elrick. Tidak disangka, pria yang tidak peduli pada apapun, tidak pernah takut pada apapun juga, kini jelas tergambar di matanya ketakutan kehilangan Raya. Dipa bisa melihat, kalau Abang sepupunya itu begitu mencintai Raya.
Kini dia justru kasihan terhadap Raya. Ruang gerak gadis itu pasti akan sangat terbatas kalau melihat sikap overprotektif suaminya ini. Menurut Dipa, seandainya Raya bisa dilipat dan di simpan dalam dompet, pasti akan dilakukan Elrick agar bisa membawanya kemanapun dia pergi.
"Apaan sih, Mas. Gak jelas deh," rungut Raya memutar bola matanya. Elrick baru akan membalas, tapi tangan Nani sudah merebut Raya dari rangkulan Elrick.
"Oma, Raya mau dibawa kemana? Jangan lama-lama Oma, sebentar lagi kami pulang," ucapnya yang tentu saja dengan senang hati diabaikan Nani.
***
Elrick dan Dipa memilih duduk di bangku taman bunga Nani yang luas. Menatap ke hamparan taman yang rapi dan indah. Elrick yang mengajaknya untuk bicara karena menurutnya mereka memang harus bicara setelah selama ini dan setelah semua yang terjadi.
"Terima kasih untuk semua bantuan dan apapun yang kau lakukan hingga bisa mendekatkan ku terhadap Raya. Aku sadar kalau bukan karena kau membatalkan pernikahan itu, kami mungkin tidak bisa bersatu seperti sekarang ini," ucap Elrick mengawali perbincangan mereka.
"Ya, harusnya tidak aku lakukan. Harusnya aku tetap pada pendirianku, mengucap janji suci mengikat Raya," ucapnya kembali menggoda Elrick. Dipa kini tampak lebih terbuka, lebih bisa menerima Elrick sebagai saudaranya.
"Kau ingin melanjutkan duel kita waktu itu? aku akan ladenin."
Seketika tawa Dipa menggema. Dia saja yang pria bisa melihat kecemburuan dan sikap menggemaskan Elrick saat panik karena disinggung masalah Raya yang ingin direbut darinya.
"Cukup Dipa! Aku bersumpah kalau kau masih terbahak, akan aku patahkan lehermu!" Seru Elrick yang merasa kesal karena ditertawakan oleh adiknya. Memangnya apa yang lucu hingga dia pantas untuk ditertawakan seperti itu.
"Sorry. Aku hanya menikmati masa ini. Melihatmu dalam keadaan seperti ini, maksudku begitu mencintai Raya, aku merasa beruntung tidak jadi menikah, kalau tidak ya seperti mu ini, selalu ketakutan kalau sedetikpun tidak melihat Raya dari pandanganmu. Kata anak muda sekarang, kau terlalu Bucin!"
Elrick diam, menatap kembali ke hamparan tanah luas milik neneknya. Dia ingat, sewaktu kecil, Dipa dan dirinya sering bermain bola di sana. Sudah lama sekali tidak mengulang hal itu.
"Kau benar. Aku begitu mencintai gadis itu sampai hampir gila jika dia terluka. Aku bahkan ingin memukul diriku sendiri kalau sampai tahu dia menangis. Aku tidak pernah mencintai wanita sebesar itu. Kau tahu, mungkin aku akan mati jika wanita ini juga meninggalkanku seperti yang dilakukan wanita itu dulu," ucapnya mengenang wanita pertama yang dia kasihi, yang lebih memilih pergi dengan selingkuhannya.
Dipa paham maksud ucapan Elrick. Masa kecil Elrick sangat menderita dengan sikap penolakan Silvira. Ibunya lah yang menjadi sosok ibu bagi Elrick. Jadi jika saat ini hatinya terbuka untuk mencintai Raya, maka beralasan kalau pria itu takut ditinggalkan.
"Raya gadis berhati lembut, dia baik dan juga sangat mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu."
Suasana kembali hening. Tidak banyak yang bisa mereka katakan walau sebenarnya banyak yang ingin diucapkan. Yang terpenting hati mereka sudah sama-sama saling memaafkan dan membuka diri. Menjadi saudara karena hanya mereka berdualah pilar di keluarga ini.
Bunyi ponselnya menyentak lamunan panjang Elrick dan segera membuka satu pesan foto yang masuk. Dari Dipa. Tangan Elrick bergetar, bahkan ponsel itu saja tidak bisa dia pegang lagi dengan benar. Matanya terus menatap tajam pada layar ponselnya.
"Pergilah. Lepaskan semua rasa kecewa dan juga sakit hatimu," ucap Dipa menepuk pundak Elrick dan berlalu masuk.
***
Malam itu, Elrick sama sekali tidak bisa tidur. Raya sudah pulas sembari memeluk lengannya. Perlahan dan dengan pelan, Elrick menarik tangannya agar tidak sampai membangunkan istrinya.
Berhasil menapaki lantai, Elrick menyelimuti tubuh Raya sebelum beranjak menuju balkon. Pikirannya kacau, bimbang merayap dalam hatinya. Kebencian yang dia rasakan membuatnya tidak ingin memikirkan hal itu, tapi nyatanya tidak bisa.
Satu persatu peristiwa menyakitkan itu muncul dalam benaknya lagi. Dia merasakan sakit hingga memegang dadanya sebelah kiri.
Dia ingat apa yang pernah dikatakan Raya padanya dulu. "Berdamailah dengan masa lalu. Jika tidak bisa membuat lebih baik, makan ikhlaskan."
Beberapa batang rokok sudah habis dia hi*sap sembari masih terus menimbang. Elrick beranjak masuk, dia memutuskan mungkin ini lah yang harus dia lakukan.
***
Pagi menyapa, Raya yang sudah lebih dulu bangun mencium kening Elrick yang masih tertidur. Dia turun untuk menyiapkan sarapan.
"Pagi, kau bangun sepagi ini?" Sapa Raya yang melihat Dipa yang sudah duduk di meja yang ada di tengah ruangan dapur.
"Yap. Aku gak bisa tidur, membayangkan wanita yang aku sukai ada di sebelahku," godanya. Nyatanya, Dipa bangun pagi karena penerbangannya ke Chicago sebentar lagi.
"Gak lucu ya, Dip!" Sahut Raya memonyongkan bibirnya. Dipa hanya membalas dengan tawa renyah.
"Apa bayi raksasamu masih tidur?"
Raya hanya mengangguk, sembari memecahkan beberapa butir telur dan mulai mengocoknya. Mbok Ida, yang kini menangani menu di rumah hanya membantu mengambilkan bahan yang dibutuhkan Raya, lalu meminta para pelayannya untuk mengerjakan hal lain saja.
"Seperti tadi malam dia tidak bisa tidur."
"Memangnya kenapa?" tanya Raya penasaran. Kali ini tatapan Dipa tidak sedang ingin menggoda Raya.
"Mungkin kepikiran, berujung dilema, apakah dia sebaiknya pergi mengunjungi ibunya atau tidak," jawab Dipa yang sangat yakin akan tafsirannya.
"Memangnya ada apa dengan Bu Silvira? Apa beliau sakit?"
"Dia sudah meninggal...."
*
*
*
Lanjut gak nih? kasih gift dong, biar aku semangat 🙏😁