
Sesaat wajah Betty memucat. Tidak menyangka Elrick masih saja mengingat peristiwa malam itu, yang Berton kubur dalam-dalam.
Dia terpaksa. Apapun alasannya, dia salah. Karena haus uang, dia sudah menghancurkan masa depan seorang gadis muda yang begitu polos dan suci. Bahkan karena perbuatannya, gadis itu sampai dicemooh warga desa dan dianggap seorang pela*cur!
"Maaf, tuan. Kalau yang itu gak bisa," ucapnya pendek. Dia tidak berbohong. Permintaan Elrick dianggap sangat berat. Bagaimana mungkin dia menyeret gadis itu untuk keduakalinya untuk melayani tuan muda kaya ini. "Bagaimana kalau saya carikan gadis lain, masih pera*wan," bisiknya pelan ke arah Elrick.
"Kenapa? apa dia sudah tidak di sini lagi? atau sudah menikah?" susul Elrick semakin penasaran.
Apa yang harus dia katakan? Betty alias Berton bukan tidak tahu keberadaan gadis yang dicari Elrick, sangat tahu. Karena baru beberapa hari lalu, mereka bertemu.
Kabar kepulangannya sangat menggemparkan warga desa. Betty yang masih menyimpan rasa bersalah sengaja datang menjumpainya diam-diam.
Dari warga desa, dia juga mendapatkan kabar kalau gadis itu sedang ada masalah prahara rumah tangga.
"Bukan begitu, tuan. Yang pasti gadis ini sudah tidak bisa melayani, tuan. Lagi pula, tuan kan suka yang pera*wan. Biar saya carikan."
Sempat Elrick tergoda. Mungkin benar, dia butuh pelepasan, agar tubuh dan pikirannya bisa rileks, tidak tertahan pada satu orang saja yang bukan siapa-siapanya.
Seandainya saja dulu dia tidak menerima tender di desa ini, membangun rumah sakit di sini, Elrick pasti tidak perlu bertemu gadis itu.
Saat itu dia tidak punya pilihan lain. Dari pada proyek milyaran rupiah itu jatuh ke tangan Dipa, Elrick memilih menerima tawaran itu.
Lelah bekerja, Elrick yang saat itu ada di bar hotel, bertemu dengan satu mucikari, dan meminta membawakan satu gadis untuknya.
"Baiklah. Bawakan aku nanti. Harus bersih!" Betty mengangguk. Setelah dua langkah, Elrick berhenti, dan kembali menghadap Betty.
"Siapa nama gadis itu?"
Kembali tubuh Betty mengejang. Untuk apa pria itu ingin tahu nama gadis itu. Sudah bertahun, kenapa dia masih mengingatnya? Apa setiap wanita yang tidur dengannya memang selalu dia ingat? ataukah gadis ini terlalu spesial hingga sulit dilupakan.
"Bahkan aku tidak mengingat wajahnya. Malam itu aku sudah minum terlalu banyak. Dia meringkuk di tempat tidur, dan saat aku mendatangi, cahaya lampu sangat minim, hingga tidak jelas melihat wajahnya. Lupa wajah tapi ingat rasa."
Betty tersenyum simpul. Tidak menyangka karisma gadis itu bisa menahan sesuatu dalam diri Elrick. Betty merogoh tas tangannya, mengeluarkan ponselnya, lalu mulai membuka galeri di ponselnya.
"Untuk sekedar memuaskan rasa penasaran Anda, saya akan tunjukkan wajah gadis itu," ucap Betty. Dia mengambil keputusan seperti itu, karena dia yakin toh, keduanya tidak akan pernah bertemu lagi. "Ini, tuan."
Seketika roh Elrick keluar dari tubuhnya. Bola matanya terbelalak seolah melihat setan dalam foto itu. Ada dua gadis dalam foto yang ditunjukkan Betty. Yang membuatnya hampir jatuh pingsan, salah satunya adalah Raya!
"Ya-yang mana?" tanyanya dengan napas tertahan.
"Ini, Tuan. Gadis cantik berkulit putih mulus dan yang punya rambut panjang hitam," ucap Betty merujuk ke arah Raya.
Ini gak mungkin! tidak mungkin dia!
Berulang kali Elrick mengerjapkan matanya, berharap gadis yang ada dalam foto itu bukan dia. Bukan Raya!
"Tuan, anda baik-baik saja?" tegur Betty mengamati wajah kaku dan juga pucat pria tampan yang ada di hadapannya itu.
"K-kau tidak salah orang? aku minta wajah gadis yang dulu kau bawakan padaku!"
"Ini, Tuan. Tentu saja saya ingat. Rayana gadis yang paling cantik di desa ini. Dia kembang desa yang ditaksir banyak pria."
"Kita duduk dulu, di sana," ucap Elrick yang hampir pingsan mendapati kenyataan yang sangat tidak pernah dia prediksi.
Betty menurut, mengikuti langkah pria yang kini tampak terseok itu. Memilih duduk di salah satu sudut ruangan yang jauh dari tempat duduk pengunjung lagi.
"Lantas, mengapa kau berikan dia padaku? apakah dia memang menjalani profesi seperti itu?"
Pertanyaan menohok itu tentu saja menampar wajah Betty. Benar, bagaimana dia bisa tega menyerahkan gadis tidak berdosa itu menjadi santapan Casanova seperti Elrick Diraja?
"Tentu saja dia bukan gadis seperti itu, kalau tidak, saya tidak perlu harus mencekokinya dengan minuman beralkohol dan juga obat perang*sang. Saya bersalah padanya. Kala itu saya butuh uang untuk operasi adik saya, tuan. Mendengar tuan mau bayar mahal untuk gadis pera*wan, saya pun mencari gadis di desaku. Saya bertanya pada orang-orang yang bisa membantu saya. Lalu salah satu teman, mengatakan kalau dia mengenal gadis yang tuan butuhkan. Teman putrinya." Betty dia sejenak. Kembali rasa bersalah menjalari hatinya.
Dia ingat bagaimana mereka memperdaya Raya. Membawa gadis itu bar hotel. Memberinya minuman beralkohol, dan mencampurkan obat yang buat dia menginginkan sentuhan pria pada tubuhnya.
Ketika gadis itu sudah tidak sadarkan diri, anak buat Betty memapah Raya ke kamar Elrick, melemparkan ke atas ranjang, lalu mengunci dari luar. Setelah itu, nasib Raya sudah berubah, hanya menyisakan derita trauma yang berkepanjangan dah juga air mata.
Seketika keduanya diam. Tidak berniat membuka mulut. Elrick juga tidak ingin mengatakan pada Betty kalau dia mengenal Raya bahkan kini tinggal di dekat rumah Oma nya. Terburuknya, tidak mungkin dia mengatakan kalau dia datang ke desa ini untuk membawa Raya pulang!
"Oh, Tuhan!" Pekiknya tanpa sadar, menjambak rambutnya dengan kasar. Semua sudah terjadi. Kini apa harus dia lakukan? Bagaimana kalau Oma sampai tahu?
Mengurut sejauh ini, Elrick menyimpulkan kalau Raya pun tidak mengenali pria yang sudah merenggut kehormatannya. Namun, demikian apakah dia bisa menemui Raya nanti tanpa dihantui rasa bersalah?
"Tuan, lupakanlah dia. Dia sudah tenang dengan kehidupan barunya di desa ini. Dia baru datang dari kota. Saya akan membawakan gadis yang bisa memuaskan tuan malam ini," ucap Betty memecah lamunan Elrick.
"Batalkan. Aku tidak menginginkannya lagi. Sekarang tugasmu, antarkan aku ke rumah gadis itu."
"Apa?" Kali ini Betty yang terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, dia sudah berusaha menghindar, cuci tangan dari masalah ini, menyembunyikan dari semua warga di desanya agar dia tidak dituntut, sekarang justru pria ini ingin mencari Raya?
"Kau tidak dengar. Antarkan saya ke rumah gadis itu. Kau tahu, tanpamu aku juga bisa menemukan tempat tinggalnya, namun, alangkah lebih cepat kalau kau membantuku. Jadi, sebaiknya kita pergi sekarang juga!"
*
*
*
Satu plot twist nya udah terbuka, gais... gimana kelanjutannya? mau lagi? kuy, kasih aku gift, biar semangat up. Makasih 🙏😁