Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 51


"Om, kita kapan pulang? besok siang aku harus udah di Jakarta," ucap Lani yang masih meringkuk di pelukan Om Broto. Dia hari sudah dia menemani Om Broto ke puncak. Bermain cinta dengan pria hidung belang itu di vila miliknya.


Selama Dika pulang kampung, Lani merasa merdeka. Sudah hampir seminggu Dika dikampung, dan lusa dia akan pulang sesuai yang diberitakan nya melalui pesan.


"Om masih pengen bersamamu. Gak tahu kenapa, om selalu merasa muda kalau bersamamu. Besok aja ya kita pulang," rayu Broto. Lani tersenyum, merasa bangga karena bisa membuat Broto ketagihan oleh goyangannya.


"Tapi transferannya ditambah lagi dong, Om. Terus kita pulang subuh, ya. Soalnya biar siangan udah sampai di rumah," ucapnya mencium sekilas bibir tebal itu.


***


Di sudut ruangan, Dika yang sebenarnya sudah pulang kemarin terpaku menatap jalanan di luar rumahnya. Berharap Lani yang belum pulang juga.


Seharusnya dia memang lusa baru akan kembali. Tapi ibunya memaksa untuk pulang lebih cepat, agar bisa melihat siapa istrinya itu sebenarnya. Walau marah pada ibu bapaknya yang tidak percaya pada Lani, Dika toh akhirnya pulang. Dia ingin membuktikan apa yang dipikirkan orang tuanya tidak benar.


Setelah tiba di rumah, Dika menunggu dengan sabar, tapi ternyata apa yang dikatakan ibunya benar. Lani bahkan tidak pulang sudah dua hari. Hatinya sakit, terpukul. Dia tidak ingin memikirkan hal buruk terhadap istrinya tapi nyatanya kebenaran ada di depan mata.


"Kemana kau Lani? Apa yang kau lakukan di luar sana?" cicitnya mengepal tinjunya penuh amarah.


Demi membunuh rasa bosannya, iseng Dika masuk ke kamar Lani saat dia masih gadis dulu. Duduk di tepi ranjang, mengamati sekitar. Lemari yang ada dihadapannya tampak terbuka, sudah kosong karena begitu Raya pergi dari rumah, keesokan harinya, Lani langsung memindahkan pakaiannya ke dalam lemari. Hanya sisa beberapa pakaian wanita itu yang Dika ingat dia bawa pertama kali datang ke rumah mereka.


Ada dorongan dari dalam, Dika bangkit, membuka lemari itu dan melihat isi laci dan mendapati, pakaian dalam Lani yang sudah robek, dekil dan tidak layak pakai lagi.


Botol berwarna putih menarik perhatiannya. Sesaat dia teringat ucapan dokter yang dulu menangani Raya saat masuk rumah sakit hingga keguguran. Nama obat itu sama dengan jenis obat yang dokter bilang dikomsumsi Raya. Obat pelangsing yang membuat efek murus-murus, perut melilit hingga Raya mengalami keguguran.


Kening Dika berurut. Segudang tanya muncul di benaknya. Mengapa ada obat itu di laci Lani. Apa mungkin...


Dika ingat semua keterangan dokter kandungan itu. Raya mengalami sakit perut yang melilit karena mengkonsumsi obat itu, mana mungkin dia sebodoh itu meminumnya, demi menjaga tubuhnya sementara dia sendiri sangat mengharapkan anak itu. Susah payah berobat ke sana ke mari demi bisa punya anak, jadi tidak mungkin dia mengambil resiko kehilangan anak mereka.


Perlahan Dika mengurut kejadian yang terjadi. Sebelumnya Raya baik-baik saja. Malam itu hanya susu yang diminum Raya yang terakhir dikonsumsi oleh mantan istrinya, dan susu itu sudah ada di sana, diseduh oleh Raya, dirinya hanya tinggal mengambil. Lalu kenapa bisa Raya kesakitan seperti itu. Susu itu sudah biasa diminum oleh Raya selama ini. Jadi hal masuk akal yang menjadi penyebab Raya keguguran adalah ada seseorang memasukkan obat ini ke dalam susu itu. Dan dengan ditemukannya botol ini, maka...


"Dasar bia*dab!" maki Dika menggenggam erat botol itu. "Aku akan membunuhmu, Lani. Tega sekali kau membunuh anakku!" umpatnya dengan mata yang sudah mulai berkabut. Merasa dibodohi, dan juga dipecundangi Lani.


Dika keluar dari kamar itu, menunggu Lani pulang agar bisa meminta penjelasan. Dia sudah membulatkan tekadnya, kalau memang Lani lah yang sudah meracuni Raya, maka dia akan menceraikan wanita itu.


Malam berganti pagi, Lani tidak kunjung pulang. Kabar berita pun tidak ada. Dika tidak ingin menghubungi wanita itu, yang mungkin menyangka kalau dia masih di kampung.


Pukul 10 pagi, ponselnya berdering, dari nomor Lani. Dika menatap tajam penuh amarah ke arah ponselnya. Seolah dengan hanya membaca nama itu sudah membuat amarah mencuat kembali.


"Halo...!" bentaknya dan bersiap memuntahkan segudang makian pada si penelepon yang dia yakini adalah Lani.


"Maaf, ini dengan bapak Andika?" tanya seorang pria dari seberang sana.


"Saya petugas kepolisian, istri bapak mengalami kecelakaan dan sekarang sedang ada di rumah sakit umum," terang pria itu dengan nada tegas.


Pikiran Dika sudah melayang jauh. Dia hanya mendengar semua perkataan pihak kepolisian yang tadi mengevakuasi kecelakaan lalu lintas di jalan mau masuk tol Jakarta.


Dika dengan setengah kesadaran, mendatangi rumah sakit yang disebutkan pihak kepolisian.


"Saya Andika, Pak. Suaminya Lani," ucap Dika yang diarahkan satpam rumah sakit untuk menemui pihak yang berwenang yang saat ini tengah berada di lobi rumah sakit.


"Oh, pak Andika. Ini barang istri Anda, dan saat ini sedang ditangani oleh dokter. Saya ingin minta keterangan anda perihal status istri anda."


"Maaf, Pak. Apa benar seperti yang disampaikan kalau arah mobil yang ditumpangi istri saya datang dari arah Bogor?"


"Benar, Pak."


"Dia tidak bisa menyetir, lantas dia pergi dengan siapa?"


"Saat kecelakaan itu terjadi, ibu Lani sedang bersama pak Broto, direktur stasiun televisi swasta yang sangat besar saat ini."


"Hanya berdua, Pak?" tanya Dika memucat. Hatinya yang sempat sangat kecewa dengan perbuatan Lani atas bayinya dengan Raya, kini ditambah lagi dengan kelakuan Lani yang diyakini punya affair dengan orang yang disebutkan pihak kepolisian tadi.


Siapa yang tidak kenal dengan Brotoseno, pengusaha mata keranjang, yang memiliki banyak istri sirih dan juga simpanan. Suka bermain dengan gadis-gadis muda di saat usianya yang sudah kepala enam.


Dika terduduk di kursi pengunjung. Sendiri dengan kebingungannya. Dokter pun sudah memanggilnya, menjelaskan keadaan Lani saat ini. Kaki patah, walau tidak terlalu parah, namun mengakibatkan sulit untuk berjalan selayaknya orang normal, karena harus pelan-pelan sekali, selebihnya hanya memar dibawah mata sebelah kiri karena mungkin terantuk dengan sisi dasboard.


Lani baik-baik saja, hanya tuan Broto yang mengalami luka parah. Kakinya patah dan yang paling menyedihkan, senjatanya kena pecahan kaca dari botol minuman yang dia minum, hingga harus dioperasi dan kemungkinan tidak akan berfungsi baik lagi. Hukuman bagi orang yang suka jajan sembarangan dan tidak setia pada istrinya.


Amarahnya belum sirna, bahkan masih menjadi-jadi, namun dia tetap bertanggung-jawab atas keadaan Lani. Bagaimanapun saat ini wanita itu masih istrinya. Biarlah dia memberi perhatian pada Lani untuk terakhir kalinya, karena setelah ini, dia akan menceraikan wanita itu, dan keputusan itu tidak akan bisa diubah siapapun, walau Lani sekalipun yang memohon dimaafkan dengan iming-iming goyangannya, Dika tidak akan mau lagi mempertahankan rumah tangganya dengan Lani. Cukup sudah pria itu memberi kesempatan pada Lani.


*


*


*


Dih, kasihan banget junior Om Broto ya🤭


Btw, nanti dibeberapa bab, aku numpang promo novel ya. Makasih.