
Elrick menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan ke lewat hidungnya. Malam ini dia habiskan dengan memandang langit malam di balkon kamarnya, ditemani angin malam yang membelai wajahnya.
Satu jam lalu dia memutuskan pembicaraan dengan Raya, karena tidak tahan dengan desakan gadis itu yang meminta kejujurannya.
"Tapi mas Elrick sendiri yang bilang mau ngomong sama aku. Katanya ada hal penting yang mau disampaikan, tapi ditengah jalan kok malah gak jadi?" rengek Raya kesal.
Elrick tiba-tiba memutuskan untuk tidak mengatakan apapun. Memilih menutup rapat rahasia itu.
"Gak ada sayang. Aku hanya ingin menggodamu. Sudahlah. Kau istirahat ya. Aku juga lelah. Besok kita akan menikah, butuh energi dan juga tubuh yang fit, sebaiknya kita istirahat dulu," ucap Elrick sebelum menutup teleponnya.
Dia benar-benar pria pengecut, dia sadar akan hal itu. Tapi maaf, dia tidak mau mempertaruhkan pernikahannya demi berkata jujur tentang masa lalu.
Biarlah setelah Raya sah menjadi istrinya, Elrick akan mengatakan semuanya. Dia yakin setelah status mereka suami istri, Raya akan mempertimbangkan jika ingin berpisah.
Bunyi bel pintu coba dia abaikan, tapi tetap tidak bisa. "Sudah hampir jam satu, siapa yang datang jam segini, apa Bagas?" decaknya dalam hati. Penuh kesal, Elrick membuka pintu apartemennya dan muncullah dua sosok gadis yang begitu familiar dan bahkan sangat menjijikkan bagi Elrick.
"Kau.... Mau apa kau kemari bersama wanita sampah ini?" ucap Elrick berdiri ambang pintu yang terbuka.
Meyra tersenyum, tapi tidak dengan Lani yang baru saja mendapat penghinaan dari Elrick. Pria itu terlalu merendahkannya. Awalnya dia sangat menyukai Elrick, namun tajamnya lidah pria itu membuatnya membenci pria itu.
"Kau tidak mempersilakan kami masuk?" tanya Meyra masih tersenyum.
Tentu saja Elrick tidak mengizinkan mereka masuk, tapi apa Meyra peduli? tentu saja tidak. Gadis itu mendorong tubuh Elrick untuk menyingkir agar bisa melangkah masuk ke dalam rumah.
Langkah Meyra tentu saja diikuti oleh Lani. Keduanya duduk dengan sok anggunnya di sofa ruangan itu. Elrick ikut masuk, berdiri dengan melipat tangan di dadanya dan menatap jijik kedua gadis tidak tahu malu itu.
"Sekarang katakan apa yang kau inginkan. Betapa banyak lagi uang yang kau butuhkan? sebutkan angkanya. Aku lelah Mey!"
"Hahahaha...." Tawa Meyra menggema. Elrick terlalu naif menilai Meyra. Mana mungkin gadis itu menyebutkan harganya jika bisa memiliki brangkas nya dengan utuh.
"Jadi sekarang kau memberiku uang, meski aku tidak meminta hanya agar kau bisa mengusirku dalam hidup mu? Kau salah sayang." Meyra mengangkat kakinya, menumpu pada kaki satunya lagi.
"Aku dengar kau akan menikahi wanita murahan itu, ya?"
"Jaga mulutmu, Mey. Aku masih diam bukan berarti aku tidak akan membalas mu, aku hanya lelah, dan aku sedang tidak ingin ribut!"
"Baiklah. Terserah kau saja kalau tidak ingin menyebutnya dengan kata wanita murahan. Jadi, kau akan menikah dengannya?"
"Kalau iya, kau mau apa?" Elrick berlalu ke arah pintu keluar, membuka lebar dan dengan tangannya meminta keduanya untuk keluar.
"Sayang, kau tidak bisa menikah dengannya. Tidak selama aku masih hidup, dan menginginkan mu!"
"Jangan pancing aku, Mey. Aku bisa saja mencekikmu!"
Wajah Elrick pucat pasi. Darimana Meyra mengetahui itu. Melihat seringai dan senyum mengejek di wajah gadis itu, Elrick tidak perlu bertanya dari mana Meyra tahu.
Elrick diam. Menatap satu persatu wajah wanita rubah itu. "Jangan coba menyangkal darling, kau tahu betul aku punya saksi!" lanjut Meyra merasa di atas angin.
"Aku penasaran, bagaimana reaksi Raya kalau sampai dia tahu kalau pria yang akan menikahinya saat ini adalah pria yang sama yang sudah mem*perkosa beberapa tahu lalu. Lalu bagaimana tanggapan pak Darma, calon mertua lo itu ya?"
Elrick mati kutu. Dia sendiri belum menemukan jalan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Raya dan Darma, kini sudah semakin banyak orang yang tahu rahasianya.
"Kau ingin mengancam ku? kau belum mengenal aku, Mey. Hal sekecil itu tidak akan bisa membuatku mundur untuk menikahi Raya. Dan buat informasi untukmu, Raya sudah tahu," Sahutnya berdusta. Ibarat di meja judi, dia hanya mempertaruhkan kesempatannya yang terakhir.
"Benarkah? mengapa aku ragu? Baiklah kalau begitu, aku akan menemui Raya malam ini!" Meyra yang mulai goyah bangkit berdiri, bersiap untuk pergi. Dia berniat untuk menemui Raya dan membeberkan semuanya. Kalaupun gadis itu tidak mempermasalahkan nya, maka jurus terakhir yang akan dia tempuh, adalah rahasia besar keluarga Diraja yang sempat dia dengar saat Dipa dan Elrick bertengkar. Dia yakin akan ada stasiun televisi yang mau membeli beritanya, terlebih ini berhubungan dengan keluarga Diraja yang saat ini sangat disorot karena perusahan Elrick yang sangat berkembang.
Penuh emosi karena ancaman Meyra, pria itu menarik tubuh Meyra dan menyandarkan ke tembok, mencekik leher gadis itu dengan satu tangannya. Kilatan amarah di bola mata Elrick bukan membuat Meyra ketakutan, justru memancing tawa gadis itu.
"Hahahaha.... Sekian lama aku bersamamu aku tidak pernah melihat kau setakut ini, El. Aku begitu ketakutan ketika aku mengancam akan buka suara dihadapan Raya. Kau takut, benarkan, Sayang? Sudahlah El, lupakan dia. Tempatmu di sisiku."
Cengkraman Elrick semakin kuat, hingga membuat bola mata Meyra membulat dan ada air mata yang mulai menggenang karena sesak tidak mendapatkan udara di paru-paru nya.
Tentu saja reaksi Elrick sudah bisa Meyra prediksi. Sesuai rencana, Lani menekan nomor ponsel Raya, dan setelah tidak kali berdering, gadis itu mengangkat teleponnya. Mungkin karena kemarin. Elrick menghubungi dengan nomor baru, jadi saat ada nomor baru, Raya akan bersemangat menjawab panggilan, berharap Elrick lah yang menghubunginya.
Elrick semakin panik mendengar suara Raya yang mengatakan 'halo' dari seberang sana. Elrick menatap jijik pada Meyra dan seketika melepas leher gadis itu. Setelah temannya aman, Lani mematikan panggilan telepon.
"Aku pastikan, kau tidak akan bisa bersatu dengan dia, El. Kau hanya milikku!"
"Jangan mimpi! Aku tidak akan sudi bersama mu. Sebaiknya kau lupakan obsesi mu itu, dasar rubah betina!" Elrick berjalan ke arah sofa menghempaskan tubuhnya ke sofa. Naas tidak bisa dihindarinya, dari arah belakang, Meyra mengeluarkan sapu tangan yang sudah dia olesi bius, membekap mulut dan hidung Elrick sekuat tenaga, hingga pria itu lemas dan jatuh pingsan.
"Gila, dia langsung jatuh pingsan. Banyak lo buat dosis nya?" tanya Meyra bergidik melihat Elrick yang sudah jatuh pingsan.
"Ya, mau gimana lagi, Mey. Badan mas Elrick tinggi besar, kita kan gak mau ambil resiko, kalau kita buat dikit, terus gak mempan sama dia, habis kita dibantai," balas Lani.
"Udah, sekarang kita papah dia ke kamar. Kita kunci, biar besok dia gak bisa pergi ke acara pernikahannya. Ponselnya juga akan gue nonaktifkan!"
*
*
*
Tiga bab, gais. Bagi hadiah dong...🙏😁