Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 109


Kebahagiaan dalam keluarga Diraja semakin sempurna dengan kehadiran anak laki-laki yang sehat dan tampan, yang baru saja lahir ke dunia. Oma bahkan tiada henti memanjatkan doa, mengucap syukur atas rahmat Allah pada keluarganya.


Semua tampak sempurna, seandainya saja berjalan semestinya. Tapi semua kebahagiaan itu ternyata punya celah, untuk dimasuki kesedihan yang tidak terperi.


Sudah beberapa jam Raya melahirkan putranya, tapi pendarahan yang terjadi masih belum berhenti. Satu rumah sakit dibuat panik oleh keadaan Raya yang semakin drop.


"Kita harus mendapatkan donor yang sama dengan golongan darah ibu. Kebetulan termasuk jenis langka, dan saat ini tidak tersedia di rumah sakit ini," ucap kepala rumah sakit yang menghadap Elrick dengan penuh ketakutan. Dia tahu siapa pria buas yang ada dihadapannya ini. Dia tidak akan dengan mudah memaafkan orang yang tidak.l bisa menyenangkan hatinya.


"Maksudmu apa?" wajah Elrick memucat. Tapi dia ada di dalam, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana gembiranya Raya melihat buat hati mereka, walau wajahnya terlihat begitu pucat dan sangat lemas.


"Maaf, Pak. Tapi ini di luar kendali kita. Kondisi ibu Raya saat ini sangat lemah, dan sangat butuh donor darah, kalau tidak, ibu bisa... bisa meninggal," ucap salah satu rekan dokter yang ikut membantu persalinan Raya tadi.


Penuh amarah dan geram, Elrick melangkah hendak menarik scrub suits yang saat itu digunakan oleh sang dokter. Namun buru-buru Dipa menahan tubuh Elrick agar tidak berbuat onar.


Pikiran pria itu tengah kacau, dia akan bertindak bar-bar tanpa memikirkan akibat di belakangnya, yang sama sekali tidak membantu Raya di dalam sana. "Tenangkan dirimu. Sekarang yang terpenting adalah menolong Raya!" geram Dipa mengguncangkan bahu Elrick.


"Saran dokter apa?" tanya Dipa yang selalu lebih bijak dan tenang dari Elrick.


"Kita harus cari donor darah yang sama dengan golongan pasien dimulai dari keluarga."


Sayangnya untuk menunggu Darma datang pasti akan sangat lama, sementara tidak satupun golongan darah orang yang ada di ruangan itu sama dengan Raya.


"Bagaimana dengan Raya?" suara Oma yang baru tiba membuat pandangan mereka beralih pada wanita itu. Di sampingnya ada Lia dan juga Sandi yang ikut datang untuk melihat Raya dan bayinya.


"Keadaan Raya kritis. Dia mengalami pendarahan dan harus segera mendapatkan donor darah," terang Dipa. Elrick yang kini coba berpikir, namun tetap tidak tenang, duduk di bangku pengunjung.


"Ya sudah, tunggu apa lagi?"


"Masalahnya, stok darah yang sama dengan Raya tidak ada tersedia saat ini, harus menunggu kabar dari PMI," kembali Dipa memberi penjelasan.


"Ambil darah Oma saja. Oma rela, asal Raya baik-baik saja," sahut Oma histeris. Dia tahu betul apa arti pendarahan bagi wanita.


"Golongan darah Oma tidak cocok. Tidak ada dari kita yang sama dengan Raya, kecuali pak Darma. Tapi menunggunya datang, nyawa Raya dalam kritis."


"Maaf, memang nya golongan darah Raya apa?"


"Golongan darah A-," Kali ini dokter yang tadi hampir kena bogem mentah Elrick yang angkat bicara. Karena ketakutannya membuatnya bertanggungjawab mencari pendonor untuk pasien yang dia tangani.


"Ambil darah saya saja, Dokter. Golongan darah saya sama dengan Raya. Saya mohon, check darah saya, kasihan Raya...."


Elrick berdiri kala mendengar ucapan Lia. Dia menatap nanar sekaligus penuh rasa terima kasih yang tidak terkira. Sejauh berpikir, hampir membuatnya gila, kini ada Dewi penolong untuk istrinya.


Bagas saja sudah ditugaskan menjemput Darma malam ini juga. Dia tidak ingin mengambil resiko atas Raya. Jika perlu seluruh umat manusia di dunia ini direpotkan asal istrinya selamat.


"Tenang lah, mudah-mudahan Lia bisa membantu," ucap Sandi menepuk lengan Elrick


"Terima kasih banyak. Aku gak tahu harus berkata apa. Selamanya aku akan berhutang budi pada kalian," sahut Elrick memeluk Sandi.


Semua orang berdoa di luar sana berdoa untuk kesembuhan Raya. Elrick sangat ketakutan, membayangkan Raya pergi meninggalkannya dan juga anak mereka, sama saja seperti ibunya yang pergi meninggalkan Elrick bersama ayahnya.


Tidak, hal itu tidak akan dia biarkan. Dia tidak mungkin mau berpisah dengan Raya.


"Oh, Tuhan, jangan pisahkan aku dengan Raya. Aku tidak akan sanggup berpisah dengannya," batinnya dalam hati.


Beberapa jam kemudian, dokter yang menangani Raya keluar. Semua orang berdiri menyongsong kedatangannya. "Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" tanya Elrick yang begitu frustrasi.


"Keadaan pasien sudah lebih baik. Masa kritisnya sudah lewat. Kita tinggal menunggu Ibu Raya siuman," terang dokter yang kini bisa bernapas lega karena sudah berhasil menolong Raya.


Elrick ingin sekali memeluk dokter itu, guna meluapkan rasa gembiranya, tapi dia sadar itu tidak pantas. "Kapan saya bisa menemui istri saya, Dok?"


"Segera, Pak. Kita pindahkan dulu ke ruangan ya, Pak."


Sembari menunggu Raya boleh dijenguk, mereka semua menemui Lia. Wanita itu terlihat lemah, tapi tetap bisa tersenyum kala menyambut kedatangan mereka.


"Bagaimana dengan Raya?" tanyanya susah payah. Sandi segera meraih tangan istrinya menggenggam dan mencium punggung tangannya.


"Karena kemurahan hatimu, Raya pasti baik-baik saja," ucap Elrick mewakili Sandi menjawab pertanyaannya.


"Syukurlah...."


"Maaf, Lia. Aku tidak bermaksud tidak sopan, atau tidak menghargai ketulusan hatimu membantu Raya, tapi aku ingin sekali memberikan sesuatu padamu, sebagai bentuk rasa terima kasihku karena sudah menyelamatkan hidup istriku," ucap Elrick setengah hati. Dia takut menyinggung perasaan Lia dan suaminya, tapi Elrick juga sebenarnya tidak ingin berdiam diri tidak memberikan apa-apa. "Aku tahu, pertolonganmu, tidak akan ternilai, tidak mampu ku bayar dengan semua hartaku, tapi aku..."


"Jadikan aku saudarimu. Aku ingin dekat dengan Raya, menjadi saudara iparnya. Hanya itu yang aku inginkan jika kau berkenan," ucap Lia tersenyum tulus. Kalau menjadi adik Elrick, dia tidak akan dimarahi oleh pria arogan itu kalau mengajak Raya jalan.


Seminggu dirawat di rumah sakit, Raya sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Elrick tidak mau tahu dengan penolakan gadis itu, tiga pelayan dikerahkan untuk melayaninya, dan dua orang untuk melayani putranya.


"Kau berlebihan, Mas," ucapnya sembari menggesek-gesekkan pipinya di dada bidang pria itu. Malam sudah larut, tapi Elrick yang sudah terbiasa membantu Raya mengurus bayinya di malam hari, masih belum berniat untuk tidur, selagi putranya terlelap.


"Aku bukan berlebihan. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan. Kau tahu kan, aku sangat ketakutan saat mengetahui kau dalam keadaan sekarat," ucapnya mencium puncak kepala Raya.


"Aku tidak akan meninggalkan kalian berdua. Aku sangat menyayangi kalian hingga tidak akan rela pergi," jawabnya sembari tersenyum memamerkan barisan giginya yang putih.


"Janji ya, Sayang. Jangan pernah meninggalkan kami," ujar Elrick menutup pembicaraan mereka dengan ciuman mesra di bibir gadis itu. Seandainya masa nifas Rasa sudah usai, pasti akan diterjangnya lagi.


Walau janji untuk tidak membuat Raya hamil lagi, tapi badai gairah diantara mereka mana mungkin bisa padam.