Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 10


"Kalimat yang mana, dari peringatan gue kemarin yang gak lo pahami?" Wajah Paris sudah menggelap. Dia pikir Sidney akan mendengarkan perkataannya. Dia tidak akan tahu kalau saja Raya tidak bertanya padanya.


"Abang gak pergi sama Scot dan Sidney? Katanya acara sekolah, kan?" Raya yang biasa masuk ke kamar Paris sudah berdiri di samping putranya yang sedang bermain game di laptopnya.


Malam Minggu bukan malam spesial bagi Paris seperti kebanyakan remaja lainnya. Dia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam kamar. Karena kebiasaannya itu lah, Cici sering ngomel padanya, tidak dianggap pacar, tidak pernah diajak malam mingguan.


Bagi Paris, kalau dia mau pergi, gak perlu lihat hari, mau itu malam senin sekali pun. Elrick dan Raya memang menaruh kepercayaan besar pada putra sulungnya.


Buktinya selama ini dia tidak pernah bermasalah hingga berurusan dengan pihak berwajib karena melakukan kriminalitas yang serius.


"Mereka pergi, Ma?" Kalau Scot past diomelin kalau masuk tanpa mengetuk pintu, beda dengan Raya. Sebenarnya Paris sudah sampai berbuih mengingatkan mama dan Scot atau siapa saja untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk, tapi mama dan adiknya tidak diindahkan. Untuk Raya, Paris bisa mentolerir, tapi tidak bagi Scot.


"Iya, udah setengah jam yang lalu."


Paris mengepal tinjunya. Kedua sahabat itu memang paling bisa buat dia naik pitam. Awalnya Paris ingin membiarkan saja, tapi bayang Steve menyentuh Sidney buat Paris mendidih, dan akhirnya memutuskan untuk menyusul mereka.


"Gue kan gak bilang kalau gue mau ngikutin omongan lo," protes Sidney pura-pura berani.


Kalau orang lain mungkin Paris sudah menghajarnya, tapi ini Sidney. Jangankan memukul, membuatnya menangis saja sudah menimbulkan rasa bersalah di hati Paris.


"Kita pulang!" Paris sudah menarik tangannya, tapi buru-buru ditepis Sidney. Tepat dari kejauhan siluet Steve terlihat.


"Lo gak bisa ngatur gue. Lo bukan orang tua, dan gue muak sama lo. Gak punya sikap, dasar gak jelas!"


"Lo kenapa sih?" Paris terkejut melihat amarah Sidney yang tiba-tiba menyala.


"Lo gak usah berlagak bego. Lo kan yang melarang Hendra, Gunawan, bahkan Steve buat menjauhi gue? Lo gila! Pantes aja gak ada yang berani dekati gue lagi. Ris, please, gue bukan adik lo, dan lo gak berhak ngatur gue buat dekat dengan siapa."


"Ada apa, Sid? gue cariin ke tempat kita, ternyata lo di sini?" ucap Steve yang kelelahan mencari Sidney. Lalu pandanganya diarahkan pada Paris.


"Lo yang bawa Sidney kemari? Ris, lo dewasa dong, Sidney bukan adik lo yang harus lo jaga overprotektif kayak gitu. Dia juga udah gede. Kalau lo bersikap kayak gini sama Sidney, orang bakal mikir lo itu suka sama dia sebagai pria, bukan sebagai Abang."


"Aaaach, bacot lo!" Paris sudah melempar satu pukulan di pipi Steve sebelum pria itu sempat menghindar. Pada niat kedua, Sidney yang sudah muak dengan tempramen Paris berdiri diantara kedua pria itu, melayangkan tatapan tajam pada Paris.


"Gue benci sama lo!"


Lalu menarik tangan Steve menjauh dari Paris yang hanya bisa bengong menatap jauh ke arah punggung gadis itu yang semakin menjauh.


***


"Mana Paris?" Susi dan Dita sudah menagih janjinya. Dia mengedarkan pandangan ke arah kerumunan orang, mencari Paris.


"Itu, Kak..." Tunjuk Sidney yang menangis di bahu Rina. Perasaannya campur aduk setelah bertengkar dengan Paris, hingga meminta Steve meninggalkannya dengan Rina. Lagi pula sebentar lagi Steve akan tampil mengisi acara dengan band nya.


"Panggil. Bawa dia kemari," Perintah Dita menuntut. Sudah sejak tadi mereka mencari pria tampan itu tapi tidak kunjung bertemu. Ini semua hanya akal-akalan mereka berempat saja, sebenarnya dewan guru yang mengurus kesiswaan sudah meminta pengurus OSIS merekrut Sidney dan Scot yang memang punya keahlian.


"Gue gak peduli. Lo pergi bawa ke sini Paris, udah."


Tidak ingin memperkeruh suasana, Sidney bangkit dan berjalan mencari Paris. Tempat terakhir yang dia lihat, pria itu sudah tidak ada di sana. Satu titik ke titik lain, tapi dia tetap tidak menemukan Paris.


"Nyet, lo udah bawa Paris ke kuartet girl?" Tanya Scot yang lagi berduaan dengan Gladys. Melihat sumringah di wajah Scot, tampaknya acara pedekate nya berjalan lancar.


"Ini gue lagi nyari. Udah lo terusin aja. Gue cabut dulu." Sidney yang tidak ingin merusak acara Scot pergi sendiri mencari Paris. Hingga tiba di bangku taman, yang minim pencahayaan. Samar Sidney bisa melihat pria yang tengah saling melu*mat bibir itu adalah Paris dengan Cici.


Dia jadi mundur. Tapi entah mengapa ada dorongan untuk meneruskan niatnya. Jadi dengan mengalihkan pandangan, dia mendekat. Mentoel punggung Paris yang sedang sibuk membelai bibir Cici.


Merasa terusik, pria itu menoleh kebelakang, melihat Sidney dengan tatapan malas lalu kembali menciumi bibir Cici.


Untuk kali kedua, Sidney mentoel kembali punggung Paris, meminta perhatian, melepas Cici untuk sesaat. "What?!"


"Itu ada kakak kelas yang cariin. Ada yang mau dibahas katanya."


"Apaan sih lo, pergi sana!" Balasnya jutek, lalu kembali melanjutkan ciuman mereka. Sidney terbengong melihat aksi kedua orang itu, sembari meremat sisi gaunnya. Kenapa hatinya terasa sakit sekali?


Kenapa seolah dirinya tidak terima kalau Paris menyentuh Cici?


"Ris, tolong gue. Nanti gue dimarahi," ucapnya memelas. Paris menghentikan aksinya. Diam masih berhadapan dengan Cici.


Lihatkan, hanya dengan suara memelas seperti itu, Paris sudah tidak sanggup untuk tidak mempedulikan Sidney lagi. "Ris, jangan bilang lo bakal ikuti kemauan Sidney? Paris!" Pekik Cici yang tidak terima ditinggal oleh kekasihnya dan memilih menemani Sidney menemui Dita cs.


"Pariiiis... Akhirnya lo datang juga," pekik Dita penuh semangat. Akhirnya taruhan timnya dan geng Cici dimenangkan oleh Dita cs.


"Lo ada perlu apa nyari gue?"


"Kita mau minta foto bareng," jawab Susi.


Paris tanpa menjawab langsung balik badan dan berniat untuk pergi. Isyarat mata yang diberikan Dita pada Sidney yang memintanya untuk menarik Paris kembali, tidak dapat ditolaknya.


"Ris...." desisnya dengan suara lemah. Langkah Paris terhenti, lalu menatap tajam ke arah keempat wanita rese itu.


"Sekali aja. Setelah itu, gue tahu kalian menyulitkan Sidney, gue hajar lo pada!"


"Yeeeeey, asyik, foto bareng Paris," pekiknya lagi. Keempat orang itu berpose dengan Paris berdiri cuek di tengah mereka. Sidney mendapat tugas untuk mengabadikan momen itu.


Setelah mendapat yang mereka mau, keempatnya pergi mencari Cici dan gengnya untuk menunjukkan bukti battle mereka.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Paris pergi dari sana. Namun, baru dua langkah, dia berhenti dan tanpa berbalik, mengatakan sesuatu pada Sidney yang buat gadis itu tidak bisa menolak.


"Kau masih belum ingin pulang? Apa lagi yang harus aku lakukan untuk mu agar kau mau ikut dengan ku?"