
Ini kali kelima Dipa datang ke sekolah ini, selama Paris bersekolah di sana, tapi tetap masih dengan tujuan yang sama, mempertanggung jawabkan perbuatan keponakannya tersayang.
"Ini Om, ruangannya. Moga om bertemu sama guru BP yang baik, yang hanya buat perjanjian, selesai," ucap Paris sebelum pergi meninggalkan Paris di depan pintu masuk ruang BP.
Di sekolah Bhineka, ada tiga orang yang menjadi guru BP. Satu menjadi eksekutor bagi anak-anak nakal, dua orang yang menjadi pembimbing yang bertugas menasehati siswa yang bermasalah.
Tok... Tok... Tok..
"Silakan masuk..."
Dipa memasuki ruangan yang di dalamnya ada tiga meja, sesuai dengan jumlah guru BP di sekolah itu, tapi yang ada di dalam hanya ada seorang wanita muda yang berdiri menyambutnya. Dengan senyum dan juga terlihat indah di mata Dipa. Setua itu baru sekali ini dia terpesona hingga kehilangan kata-kata.
"Silakan duduk, tuan..."
"Sa-Saya Dipa. Om nya Paris. Ayahnya tidak bisa hadir, jadi saya mewakili sepupu saya untuk menghadap."
CEO sekilas Dipa ternyata masih bisa gugup. Pria tangguh yang biasa menghadapi banyak orang, kini justru mati kutu di hadapan seorang gadis.
Dipa mengamati gadis itu. Sederhana, tampilan layaknya seorang guru, pendidik. Tapi mengapa wajahnya tampak begitu menenangkan, sangat teduh saat dipandang. Dan coba tebak, yg terasa debar di dadanya.
Diperhatikan secara intens, tentu saja membuat gadis itu malu. "Ehem..." Gadis itu berusaha membersihkan tenggorokannya . "Perkenalkan, Saya Tita. Kami mengundang bapak ke sini, sehubungan dengan anak didik kami, Paris yang kemarin berkelahi dengan temannya."
"Iya, Bu. Dia sudah cerita. Sebenarnya pemicunya apa, ya?"
Tita mulai menjelaskan semuanya. Mulai dari perbuatan Steve yang mengganggu Sidney hingga Paris yang ingin membalas karena membela Sidney.
Sebenarnya Paris sudah cerita. Jadi saat Tita menerangkan kembali, Dipa tidak fokus ke masalah itu, tapi lebih ke bibir merah gadis itu. Pikirannya mulai liar, membayangkan ingin melu*mat bibir gadis itu. Dia terlalu muda untuk dipanggil Dipa dengan sebutan Ibu. Tapi karena ini dilingkungan sekolah, maka dia akan mengikuti aturan.
30 menit berbincang, Dipa keluar juga. Tapi hal yang membuat Dipa ingin tertawa ngakak adalah saat dia meminta nomor telepon Tita dengan alasan agar bisa berkonsultasi mengenai Paris dengan jiwa remajanya yang saat ini sangat meledak-ledak.
Tentu saja itu hanya modus, mana mungkin untuk berdiskusi mengenai Paris. Kalau pun ada itu hanya berapa persen, sisanya ingin mendekati Tita.
Dipa keluar dengan semangat 45. Sesaat setelah sampai di dalam mobil, dia menghubungi Paris yang saat itu sedang berada di kantin, tentu saja bolos lagi. "Gimana, Big Bos aman, kan?"
"Beres. Mulai sekarang kalau ada urusan ke sekolah, jangan sungkan minta om ke sini lagi. Oh iya, Ris, kalau bisa kau sering-seringlah buat masalah biar Om di panggil ke sekolah lagi. Udah, ya."
Paris menatap heran ke arah ponselnya. Panggilan sudah ditutup. "Kenapa big bro gue semangat amat dipanggil menghadap?" desisnya mengerutkan keningnya.
***
"Apa nih?" tanya Scot yang baru tiba di kelas bersama Sidney. Melihat undangan tergeletak di atas mejanya.
"Eh, gue juga dapat nih," ucap Sidney melihat ke arah mejanya. Penuh semangat Sidney membuka dan membaca undangan itu. Persatu ulang tahun Cici akan diadakan Sabtu ini di rumahnya.
"Satu kelas diundang semua sama kak Cici?" tanyanya pada teman-teman yang ada di ruangan itu. Ada beberapa orang yang memang tidak pergi ke kantin pada jam istirahat. Biasanya mereka adalah anak-anak pintar, yang sudah membawa bekal dari rumah. Atau mereka adalah anak-anak dari keluarga sederhana yang mendapat beasiswa dari sekolah guna pengabdian yayasan Bhineka untuk anak-anak berprestasi.
"Kayaknya gak semua deh, Sid. Kita bertiga gak dapat. Mutia sama Tiwi juga katanya tadi gak dapat," terang Siska.
"Gitu ya?"
Tidak lama Rina, teman sebangku Sidney datang, dan memberitahukan kabar yang buat orang di kelas berhamburan ke luar.
"Gais, Agnes nembak kak Paris," ucapnya setengah berlari.
"Di tolak dong, gih lihat di luar. Agnes malah ngurung diri di kamar mandi karena malu. Bu Tita lagi bujuk dia keluar."
Sidney langsung menarik tangan Scot yang sudah nyantai mendengarkan lagu dari playlist di ponselnya. Anak itu selalu berlangganan Spotify yang premium.
"Apaan, nih?" tanyanya yang tidak mendengar karena menghabiskan volume ponselnya. Tapi dia tidak berhak bertanya karena Sidney sudah menariknya kasar.
Benar kata Rina. Anak-anak sedang berkumpul di depan toilet wanita. Tampaknya Agnes belum mau keluar. "Paris, ibu minta tolong kamu bujuk Agnes keluar, ya?"
"Sorry, Bu. Saya tidak ada urusan sama gadis itu," ucapnya lalu berlalu meninggalkan tempat itu, yang disusul oleh Cici yang diketahui semua anak-anak adalah pacar Paris.
"Agnes juga sih yang salah, Bu. Udah tahu kak Paris udah punya pacar, masih nekat nembak," sahut anak yang lain hingga buat Tita geleng-geleng kepala.
Tita adalah mahasiswa kedokteran yang mengambil jurusan ilmu psikologi Klinis yang secara khusus mengarahkan perhatiannya pada penerapan psikologi pada setting praktik medis, termasuk penanganan psikologis dari penderita penyakit pasien, keluarga pasien bahkan dokter yang memberikan perawatan behavioral.
Saat ini dia menjadi mahasiswa tingkat akhir strata tiga yang nantinya akan bergelar Doctor of Psychology (Psy.D.) dan saat ini bekerja di sekolah sebagai guru BP yang lebih mendekatkan pada psikologi para anak didik.
Setelah membujuk dengan kata-kata lembut dan menenangkan, Agnes pun mau keluar dari kamar mandi. Itu pun karena Miss Tita meminta semua anak kembali ke kelas masing-masing.
Belum genap sebulan di sekolah itu, tapi Sidney sudah menyukai Tita. Dia juga termasuk dekat dengan gadis itu karena sering bertemu di perpustakaan. Bagi siswa Bhineka adalah berkah jika masuk ruang BP dan mendapat penanganan dari Tita dari pada Pak Matondang, si Saddam Hussein.
***
"Hai, Sidney. Apa kabar?" Sapa Riko, teman Paris yang saat itu datang ke rumah Paris dengan tiga orang lainnya yang Sidney tidak tahu siapa saja nama mereka tapi selalu berada disekitar Paris tiap berkeliaran di lingkungan sekolah.
Semua mata pria itu tampak memandang pahanya yang mulus yang hanya menggunakan hotpants biru.
Sejak kemarin, Raya dan Elrick beserta Oma pergi ke Jogja, melayat adik Nani yang meninggal. Tinggallah Sidney, Scot dan Paris di rumah itu. Kebetulan Sandi juga ke luar kota.
"Hai, Kak," sahutnya tersenyum sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah, tapi Riko buru-buru mencegat langkahnya.
"Kamu nanti malam pergi kan ke pesta Cici? Bareng kak Riko, yuk?"
"Gak usah, Kak. Makasih."
"Atau bareng gue aja, Sid. Gue Vincent, gue asyik kok orangnya." Seorang lagi maju untuk menggoda Sidney.
Melihat teman-teman begitu antusias mendekati Sidney, jelalatan ke paha mulus Sidney, Paris yang baru keluar dari dalam rumah untuk berganti pakaian dan sempat mendengar obrolan mereka, segera menarik Sidney masuk ke rumah.
"Lo bisa gak pake celana itu jangan sependek ini?"
*
*
*
Hai semua, mampir dong ke karya baruku. Jamin ceritanya pasti gak membosankan. Makasih 🙏