
"Ya Allah, siapa orang yang menggedor pintu sekeras itu? Apa penjahat yang mau menculik aku lagi?" desisnya semakin kalut.
Raya semakin meringkuk di sofa, dia mencoba untuk tidak panik dan memberanikan diri untuk tetap diam di sana. Dia yakin kalau dia tidak membuka pintu, siapa pun orang yang mencoba masuk tidak akan berhasil.
Kembali bunyi ponselnya mengagetkan. Raya begitu kesal, lalu menonaktifkan ponselnya. Duduk di sofa memeluk bantalan sofa guna menutup wajahnya yang penuh ketakutan.
Suara ketukan di pintu sudah tidak terdengar lagi, hanya sesekali gelegar petir yang dia dengar bersahut. Raya sudah menangis ketakutan. Sekuat apa pun dia mencoba tidak takut, tetap saja hati kecilnya tidak tenang hingga buat dia menangis.
Fokus membaca surat ayat kursi, Raya tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Tiba saat tangan kekar itu mengambil bantal sofa yang digunakan Raya untuk menutup wajahnya, jeritan Raya keluar hingga memekakkan telinga hingga bersahutan dengan suara petir.
"Jangan sentuh aku... pergi... jangan sentuh aku...," pekiknya memukul sembarangan tangan orang yang menyentuhnya. Dia hanya berpikir ingin menyelamatkan dirinya. "Mas Elrick... Elrick tolong...."
"Ssssttt... ini aku. Tenang sayang, ini aku..." ucap Elrick menarik tangan Raya, memeluk kepala gadis itu.
Baru setelah dipeluk erat oleh Elrick, Raya mau membuka matanya. Mengenali wangi parfum di tubuh pria itu, Raya yakin kalau itu adalah Elrick.
"Mas Elrick, aku takut. Kenapa nakut-nakutin aku sih? mas senang aku mati ketakutan?" ucapnya melerai pelukan mereka. Dengan kedua tangannya Elrick menghapus jejak air mata di pipinya.
"Maafkan aku. Sejak satu jam lalu aku sudah menghubungimu, tapi kau tidak mau mengangkat telepon ku. Bahkan kau memblokir nomor ku. Terpaksa aku menggunakan nomor yang lain."
Raya berpikir sejenak. Memblokir? dia ingat nomor sore ini yang diblokir Nana, yang dia pikir adalah orang iseng yang mengganggunya. Mengetahui itu ternyata Elrick dia jadi malu sendiri.
"Ehem... mas kok di sini? bukannya lagi si Surabaya dengan Oma?" tanyanya mengalihkan pembahasan.
"Harusnya aku memang masih di sana. Tapi karena telepon ku gak kau angkat, bahkan nomorku pun kau blokir, aku memutuskan pulang saat itu juga. Mencoba menghubungi mu lagi dengan nomor lain, tetap saja kau tidak mau mengangkat," ucapnya menarik ujung hidung Raya gemas.
"Terus kenapa mas kok bisa masuk? bukannya pintu udah aku kunci tadi?" Apa karena panik, Elrick menghancurkan jendela agar bisa masuk? kalau itu dilakukan pria itu, dia tetap tidak bisa dengar karena memang derasnya suara gemuruh hujan.
"Pintu rolling door memang sudah kalian tutup, tapi pintu ruang depan tidak terkunci. Bagaimana kalau tadi memang orang yang bermaksud jahat muncul?" Tanya Elrick kesal. Saat dia mencoba mengayun engsel pintu dan terbuka, dia merasa terkejut sekaligus kesal atas kecerobohan ketiga gadis di dalam rumah itu.
"Oh... berarti aku lupa..."
"Dimana kedua karyawan mu itu?"
"Oh, Nani dan Ranti? Mereka lagi keluar. Malam mingguan."
Tiba-tiba suasana hening. Keduanya menyadari kalau saat ini mereka hanya berdua, di gelapnya malam.
"Mmm... kau sudah makan?" tanya Elrick memecah keheningan. Dia tahu saat ini mereka kembali terjebak dalam suasana kaku.
"Udah. Mas Elrick?"
Dia baru saja akan mengatakan sudah, tapi perutnya sudah bunyi. Dia memang tidak makan. Selesai acara inti pesta pernikahan sepupunya itu, Elrick memaksa untuk segera pulang. Dia ingin menemui Raya. Rasa rindu yang sudah menggunung membuat Elrick memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta.
Sebaris senyum melengkung di wajah cantik Raya. Pipi putih mulusnya semakin cantik dihiasi senyum memikat itu. "Aku masak nasi goreng, mau?"
Raya melirik pria berkemeja navy yang saat ini tengah mengupas timun. Punggungnya begitu lebar, Raya membayangkan betapa menyenangkan dan nyaman berbaring di sana.
Satu piring nasi goreng sudah terhidang di hadapan Elrick, lengkap dengan timun yang sudah disiapkan pria itu.
"Wanginya enak."
"Kalau gitu dihabiskan, ya," ucap Raya lembut. Terbius oleh ketampanan wajah Elrick. Jarak wajah mereka yang hanya beberapa jengkal membuat Raya hampir pingsan. Dia menebak Elrick pasti bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdetak semakin kencang.
Pandangan masih belum terputus. Raya bisa merasakan embusan napas Elrick yang beraroma mint.
"Aku merindukanmu," bisik Elrick dengan lembut dan terdengar seksi di telinga Raya. Membuat debar jantungnya semakin kencang. 10 menit lagi seperti ini, bisa dipastikan dia akan pingsan.
"Ray, dengar gak. Aku rindu..." ulang Elrick mengangkat dagu Raya hingga gadis itu kembali menatap matanya.
"Aku juga..." ucapnya malu.
"Boleh, ya?" bisik Elrick memohon.
Raya sama sekali tidak mengerti clue yang dimaksud oleh pria itu. Tatapan Elrick sama seperti kala mereka selesai berciuman beberapa hari sebelum lamaran dadakan itu.
"A-apa?"
"Ini..." Elrick menghapus bibir lembut nan menggoda Raya dengan jarinya. Begitu ingin merasakan bibir itu. Memuaskan dahaga kerinduannya.
Tubuh Raya bergetar. Ada perasaan senang pria itu merindukannya dan begitu menghargai dirinya dengan meminta izin untuk menciumnya.
Perlahan Raya mengangguk dengan malu-malu. Secepat itu juga, Elrick menyambar lembut bibir gadis itu, melu*mat dan bermain dengan lidahnya. Keduanya terbakar. Raya bahkan sampai bergetar kala Elrick menyapu langit-langit mulut Raya.
Gadis itu sudah melebur bersama badai gai*rahnya sendiri. Desahannya manisnya terdengar di telinga Elrick kala pria itu meng*hisap lidahnya hingga buat tubuh Raya menggelinjang hebat.
Elrick ingin lebih, ingin menyentuh tubuh Raya, melebeli gadis itu menjadi miliknya. Elrick mengangkat tubuh Raya untuk duduk di pangkuannya, mendekap erat tubuhnya hingga tampak menyatu.
Elrick masih terus menghujani Raya dengan belaian lidahnya, menari di mulut gadis itu, hingga Raya mulai berani membalas ciuman itu. Raya mengikuti instingnya, mengingat apa yang dilakukan Elrick yang menghasilkan rasa nikmat baginya, dan dia ingin memberikan hal itu pada Elrick juga.
Raya cepat belajar tampaknya. Dia begitu lihai memainkan lidahnya hingga erangan dari mulut Elrick terdengar, sejurus dengan tangan Elrick yang menjelajahi tubuh Raya. Dia menegang. Dia menginginkan Raya seutuhnya, tapi dia juga sadar kalau mereka tidak bisa melakukan lebih dari ini. Gadis itu sudah membuatnya gila. Elrick tidak pernah menginginkan sesuatu sebesar dia menginginkan Raya.
Dengan perasaan campur aduk, antara rela dan tidak, Elrick melepas ciuman panas itu. Napas keduanya masih terengah-engah dan mata di penuhi kabut ga*irah.
"Kita harus berhenti, kalau tidak kau akan membenciku karena melakukan lebih dari ini. Ray, aku sangat frustrasi karena menginginkan mu. Aku ingin mendengar apa jawaban mu atas permintaan ku kemarin. Aku mohon, menikah lah dengan ku. Berbagi kebahagiaan dengan mu. Aku ingin di sepanjang hidupku, hanya ingin bersamamu, melewati hari-hari bahagia kita hingga ajal menjemput. Raya, maukah kau menjadi istriku?"
Dan tatapan pria itu meyakinkan Raya untuk mengangguk. "Aku bersedia."