Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 54


"Oke, jangan marah padaku. Aku kan hanya bertanya," sahut Elrick menelan ludah. Baru menyadari kalau Raya bisa juga marah.


"Habis, Mas Elrick kayak orang-orang di kampung aku yang nuduh aku jual diri," sahutnya kesal.


Keduanya diam sesaat. Ini hal yang sangat sensitif bagi Raya, Elrick paham akan hal itu, makanya dia ingin mengambil jeda waktu dulu. "Raya, apakah lo tidak pernah kepikiran kalau ternyata lo sebenarnya dijebak seseorang yang ingin menjual lo sama germo?"


Raya menyimak. Memandang ke arah Elrick. Sekalipun dia tidak pernah berpikir akan hal itu. Elrick benar, dia bisa saja dijebak seseorang untuk dijual. Karena dia diperkosa, mengapa dia bisa sampai ke hotel? pasti karena ada seseorang yang membawanya ke sana.


Raya menatap lekat wajah Elrick. Mendapati apa yang dipikirkan pria itu ada benarnya juga.


"Tapi kalau pun begitu, atau katakan lah ada orang yang menjebak ku, tetap saja yang salah adalah pria yang sudah meniduriku. Aku membencinya. Semoga dia mendapat hukuman atas apa yang dia lakukan padaku," sahut Raya antusias.


"Memangnya hukuman apa yang lo harapkan terjadi padanya?"


"Terserah mau hukuman apa aja. Kalau bisa hukuman susah move on dari aku. Jadi biar dia terbayang-bayang terus sama wajahku, dan gak bisa mencintai gadis lain, dan juga diikuti rasa bersalah seumur hidup!"


Elrick terdiam. "Lo gak tahu aja Ray, kalau semua ucapan lo udah kejadian," batinnya.


"Udah, gak usah dibahas, Mas. Aku aja gak ingat wajah pria brengsek itu."


"Kalau misalnya dia datang mengaku salah padamu, minta maaf padamu, reaksi lo gimana? lo mau maafin dia?"


"Hah?" tanya Raya gak paham. Menatap Elrick dengan tatapan bingungnya.


"Gini, anggap aja gue yang sudah memperkosa lo, apa yang bakal lo sampaikan ke gue?"


"Hahahaha...." tawa Raya pecah. Menatap kearah Elrick dengan wajah geli hingga air matanya muncul di sudut matanya.


"Kok lo ketawa sih? gue serius."


"Ya habis, Mas lucu sih. Mana mungkin mas yang udah melakukan hal itu padaku, kalau iya, pasti aku minta mas nikahi aku dong. Tapi ya gak mungkin, selain aku bukan tipe Mas, mas Elrick kan belum pernah ke desa kami."


Elrick jadi tutup mulut. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Padahal dia sudah siap untuk mengakui kesalahannya, tapi reaksi Raya buatnya terdiam, hingga mengurungkan niatnya.


***


Oma yang merasa curiga akan tingkah Elrick selama ini, kini semakin yakin kalau Elrick memang menaruh rasa pada Raya, dan dia mendukung hal itu. Dipa sudah menyatakan niatnya pada Raya tapi ditolak gadis itu, hingga Nani memutuskan mencoba pada cucunya yang lain.


Dia tidak akan memaksa, kalau Raya memang tidak juga menyukai Elrick, maka keputusan Nani untuk mengangkat Raya sebagai cucu angkatnya semakin terbuka lebar, tapi kalau semisalnya Raya mau menikah dengan Elrick, Oma pasti lebih senang lagi.


"Ada apa lagi, Miss universe? aku sedang rapat ini," ucap Elrick yang akhirnya mengangkat telepon Nani.


"Tadi nenek janjian dengan Raya di bioskop, dan sedang menunggu film diputar, tapi karena kepala Oma sakit, tanpa mengatakan apa pun pada Raya yang sedang mengantri, Oma pulang meninggalkannya sendirian di sana. Oma mau minta tolong, kau jemput lah Raya. Kasihan dia belum tahu seluk beluk kota Jakarta ini. Apa lagi dia pergi sendiri," ucap Oma sebelum memutus teleponnya.


"Tapi, Oma..." kalimat Nani hanya menggantung di awang-awang. Elrick mendengus kesal. Omanya selalu melakukan apapun yang ingin dia lakukan dan membiarkan Elrick membereskan semuanya.


"Gas, Lo lanjutkan meeting nya. Gue ada keperluan penting," ucap Elrick mengambil ponselnya di atas meja dan bergegas menuju lift.


Tepat saat lift terbuka, Elrick masuk, dari lift lainnya, Meyra tiba di lantai itu. "Tuan Elrick di dalam?" tanya nya dengan keangkuhan paripurna.


"Maaf, Mbak. Pak Elrick baru saja keluar," sahut sekretaris Elrick datar. Dia memang sejak dulu tidak menyukai Meyra yang super sombong itu.


"Pergi kemana?"


"Maaf, Mbak. Saya tidak tahu, si bos gak tinggalkan pesan."


Meyra memutuskan untuk menghubungi Elrick, tapi tidak diangkat juga. Berulang kali mencoba tetap tidak mendapatkan hasil, jadi memutuskan untuk pulang saja.


'Kalian dimana?'


'Kita ketemuan di pub Bintang, ya.'


***


Dari kejauhan Elrick sudah melihat wajah gadis itu yang ketakutan, duduk di sofa merah tempat para pengunjung menunggu film yang akan diputar. Wajahnya celingak-celinguk mencari sosok Oma yang tidak kunjung datang.


Elrick kasihan melihatnya. Oma keterlaluan, meninggalkan gadis bodoh itu seorang diri, segan pop corn ditangan kiri dan tiket di tangan kanan.


Elrick mendekat, dan mentoel pundaknya. Raya menoleh dengan kaget, dan tiba-tiba saja air matanya meleleh di pipi. Gadis itu menangis hingga membuat Elrick bingung


"Raya, kenapa lo nangis? memangnya sakit ya toel-an gue?" Perasaan Elrick dia sama sekali tidak menggunakan tenang untuk menyentuh Raya. Mengapa gadis itu menangis?


Raya menggeleng, dengan air mata di pipi, tangan penuh dengan pegangan membuat tampang Raya begitu lucu dan menggemaskan. "Lo kenapa nangis sih?"


"Aku dari tadi ketakutan, Mas. Oma pergi gak balik-balik. Aku bingung harus apa."


"Kan Lo bisa telepon Oma," lanjut Elrick ingin tertawa. Sumpah wajah Raya lucu sekali. Bak anak kecil yang baru saja diselamatkan saat tersesat di mal.


"Gak bawa..."


"Hah? Kok bisa?"


"Tadi Oma singgah ke laundry, ngajak aku katanya mau makan bakso. Jadi aku naik mobil tanpa bawa dompet, apa lagi ponsel. Dibawa ke sini, terus Oma menghilang," ucapnya masih menangis tersengal.


Elrick jadi iba. Omanya memang keterlaluan. Pria itu duduk di samping Raya. Menghapus air mata di pipi gadis itu, dan tibalah saat momen yang menggelikan ala film-film. Keduanya terpaku, saling menatap tajam, masing-masing berenang ke dalam samudra bola mata indah itu.


Elrick lah yang tersadar lebih dulu. "Ehem... udah, jangan nangis. Gue udah ada di sini. Ya udah, kita pulang," ucapnya menenangkan debar jantungnya.


"Tapi ini?" Raya menunjukkan kedua tangannya. Elrick menimbang sesaat. Gadis udik itu pasti belum pernah menonton film di bioskop. Karena Oma sudah mengerjainya, maka demi menebus kesalahan Oma, Elrick memutuskan untuk menggantikan peran Oma menemani Raya menonton."


"Kita nonton aja, gimana?"


Ragu-ragu dan malu, Raya mengangguk. Dia juga penasaran bagaimana rasanya menonton di bioskop.


Elrick bangkit, dan mengambil pop corn dan juga tiket dari tangan Raya. "Ayo."


Yang mereka tidak tahu, sejak tadi gerak gerik keduanya tengah dipantau oleh seseorang di ujung sana. Tidak terlihat, namun tersenyum melihat tingkah keduanya. Oma memang juara kalau jadi Cupid.


Raya hanya bisa mengikuti langkah Elrick, memperhatikan apa yang dilakukan pria itu, memberikan tiket pada penjaga pintu bioskop. Karena film yang akan ditonton mereka memang sudah mulai, lampu sudah dipadamkan, mereka harus meraba dalam gela mencari bangkunya.


Takut terjatuh, Elrick spontan menarik tangan Raya menggenggam erat dan menuntun menuju kursi mereka yang ada di barisan ketiga paling atas.


Selama menikmati film itu, Raya sangat fokus, sama sekali tidak bergairah untuk menikmati pop corn atau minuman yang mereka pesan setelah berada di dalam.


Sementara Elrick justru menghabiskan waktunya menatap wajah cantik Raya dalam sinaran cahaya dari monitor besar itu.


Kembali degub jantungnya tidak bekerja dengan baik, berdetak kencang bahkan semakin kencang.


Melihat keseriusan gadis itu, Elrick tersenyum dan mengambil satu biji pop corn yang menyuapkan ke bibirnya, Raya yang terhipnotis oleh film romantis itu membuka mulutnya tanpa sadar siapa yang menyuapinya. Lalu untuk kali kedua, barulah Raya menoleh ke samping, dan..


Bam!


Tanpa sengaja Bibir keduanya menempel tanpa sengaja, dan mata keduanya saling menatap. Buru-buru Raya menarik tubuhnya, sedikit menjauh dari Elrick guna menenangkan debar jantungnya.


"Ya Allah, apa yang barusan terjadi?" batinnya menahan panas diwajahnya. Malu dan harus bagaimana sikap yang dia tunjukkan pada Elrick nanti?


Ternyata tidak hanya Raya yang panik, Elrick juga menjadi gugup karena ciuman yang tidak terduga itu. "Lama-lama gue bisa kena serangan jantung, ini!"