Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 12


Tentu saja Dipa membalas ciuman itu, dengan lembut dan penuh perasaan. Sampai satu titik, Tita menyadarinya dan segera melepaskan ciuman mereka.


Ditatapnya Dipa dengan penuh arti. Seolah dia ingin mencari tongkat yang bisa menopangnya untuk berdiri diantara kerapuhan hidupnya.


"Katakan semua padaku, agar sesak di sini bisa berkurang," ucap Dipa meletakkan tangannya di dada Tita.


"Ini semua salah. Kita gak bisa bersama. Sebaiknya lupakan aku," ucap Tita menarik napas lalu menghembuskannya dengan berat.


"Ada apa sebenarnya, Ta? Kalau kamu gak cerita, aku mana tahu. Apa yang memberatkanmu menerimaku? Apa karena kau tidak menyukaiku? Tapi aku rasa itu tidak benar jika mengingat bagaimana caramu menciummu tadi."


"Aku sudah punya calon suami, Dip." Akhirnya tangis Tita pecah lagi. Dia benci mengingat hal itu, seolah itu menjadi predikat sekaligus rantai tangannya untuk tidak melirik pada pria lain. Dia sudah dipaku mati oleh keluarga Samertha.


"Terus? Kalau masih calon, aku tidak peduli. Hanya satu kuncinya, kalau kau mencintaiku, aku akan memperjuangkan mu, akan ku hadapi semuanya, asal kau mau berjalan dengan menggenggam tanganku," ujar Dipa menghapus air mata Tita dengan jarinya untuk kesekian kalinya.


"Gak segampang yang kau pikirkan, Dip."


"Aku tidak akan mengerti kalau kau gak cerita!"


Tita diam sesaat. Mengambil tisu dari atas dasboard, membersihkan sisa air matanya hingga berdehem untuk membersihkan tenggorokannya.


"Aku yatim piatu, tepatnya sejak 12 tahun lalu. Ayahku yang saat itu menjadi satu-satunya keluargaku sedang sakit parah. Oleh tanteku, adik ibu, menjualku pada satu keluarga kaya raya yang punya anak bertemperamen tinggi. Mereka mau membayar biaya perobatan ayahku, serta menyekolahkan ku, dengan catatan aku akan menikah dengan anaknya setelah selesai kuliah."


Tita diam sesaat. Mengingat masa-masa menyulitkan itu. "Tapi perjuanganku sia-sia, karena setelah operasi, ayahku meninggal. Dan aku terpenjara oleh perjanjian itu."


"Aku akan membayar semua uang yang sudah mereka keluarkan untukmu dan pengobatan ayahmu," potong Dipa tegas. Uang tidak menjadi soal baginya. Bahkan bila perlu, dia akan menukar semua hartanya untuk Tita.


"Gak semudah itu. Aku sudah menandatangi kontrak, tidak akan mengelak untuk menikahi Regal walau apapun yang terjadi. Bahkan, aku sudah menjual rahimku pada mereka."


"Maksudnya? Kau kan belum menikah dengan anak mereka?" Dipa semakin tidak mengerti. Kalau masalah uang yang dituntut, dia akan berikan berapapun mereka minta.


"Regal sebenarnya sudah menikah, tapi dia belum juga dikaruniai anak. Jadi ibunya memintaku untuk mau melahirkan anak demi penerus keluarga mereka."


"Dasar gila. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Bawa aku menemui mereka."


"Tante dan Om ku gak akan setuju. Mereka begitu takut akan kekuasaan keluarga itu."


"Ta, dengarkan aku. Kau mau kan berjuang denganku? Kalau kau mau tetap melangkah bersamaku, apapun kendalanya, aku akan tetap bersamamu."


Ada keseriusan yang dia lihat di sana. Tita mengangguk. Mungkin Dipa dikirim Tuhan untuk menyelamatkannya dari kungkungan keluarga Samertha.


Pada awalnya Tita sudah mencoba menerima takdirnya, mengikhlaskan dirinya untuk jadi istri kedua Regal, asal ayahnya bisa sembuh. Pukulan dan juga makian yang dia terima dari pria itu, masih bisa dia tahan.


Hanya karena melanjutkan kuliah, membuat Tita masih bisa mengulur waktu mereka untuk menikah. Seandainya diawal tidak ada perjanjian Tita harus selesai kuliah, dia pasti sudah dipaksa menikah dengan Regal saat itu juga.


Dia tidak kenal Dipa lebih jauh. Dia juga tidak kenal latar belakang Dipa, tapi kalau pria itu bilang dia sanggup menghadapi mereka, maka Tita akan percaya.


Dipa kembali menarik tangan Tita untuk masuk ke dalam pelukannya. Menikmati kehangatan dalam rinai hujan.


***


"Gak. Gue pulang bareng lo aja." Sidney memandang benda cair yang turun dalam skala besar. Dia suka dengan hujan, tapi takut kalau sudah disertai petir, karena meledak-ledak dan membuat perasaannya tidak tenang.


Paris dalam diamnya mengamati Sidney. Gadis itu masih sibuk dengan tatapan terpesonanya pada hujan.


"Sid, kita pacaran, yuk?"


Suara itu lembut, pertama kali dalam sejarah Paris mengucapkan sesuatu begitu lembut. Sidney bisa mendengar dengan jelas tapi dia tidak berani untuk menoleh ke samping. Tahu kan bagaimana dag-dig-dug nya perasaannya saat ini?


Merasa tidak mendapat perhatian, Paris menarik wajah Sidney agar menoleh padanya. "Sid.... Kita pacaran yuk?"


Glek!


Susah payah Sidney menelan salivanya. Mungkin sebentar lagi dia akan jatuh pingsan. "Kenapa sih lo harus ngerjain gue? Gue tahu lo cuma main-main."


"Siapa yang main-main? gue serius."


"Terus, kak Cici? lo sama dia pacaran, kan? Malah tadi di depan gue lo sempat ciuman sama dia," rutuk Sidney kesal, harus diingatkan kembali pada momen itu. Kalau mengikuti kemauan hatinya, dia ingin sekali menarik Paris dan menendang tulang keringnya karena sudah mencium Cici, tapi dia punya hak apa?


"Itu karena gue kesal lihat lo sama si brengsek Steve, dan masalah Cici, gue akan putuskan dia besok."


Sidney diam. Impiannya sejak dulu selangkah lagi dia dapatkan, tapi bagaimana dengan Scot? Dia sangat menyayangi pria itu, bahkan Scot selalu ada di setiap momen terberatnya. Selalu menghiburnya bahkan membelanya saat teman sekelas mereka waktu sekolah dasar mengejeknya.


Mereka membuat aturan itu juga demi kebaikan bersama. Dia tidak mungkin membuang Scot demi Paris.


"Gue gak bisa," ucapnya meremat sisi gaunnya. Sakit dan terasa perih di hatinya. Melepaskan orang yang dia cintai, bukan hal yang mudah.


"Lo gak suka sama gue?" Tanya Paris yang sudah menyerongkan duduknya lebih mendekat pada Sidney.


Tatapan mata Sidney terkunci oleh mata Paris. Tidak memberinya ruang untuk bernapas hingga terasa sesak. Perlahan, dalam kebimbangan Sidney menggeleng.


"Oke kalau begitu. Gue gak akan mengulanginya lagi. Gue sayang sama lo tapi gak mau maksa kehendak gue sama lo," ucap Paris membenarkan duduknya, menghadap ke rintik hujan yang mengiringi kesedihannya.


Sidney masih menatap Paris. Pipi pria itu terlihat tirus kalau di lihat dari samping. Air mata Sidney tanpa dia sadari jatuh kala menutup matanya. Dia juga ingin bahagia. Salahkan dia jika menjalin hubungan dengan orang yang dia sukai? yang kebetulan juga menyukainya?


Mengikuti tuntunan hatinya, Sidney membuka mata, lalu tangannya yang gemetar menyentuh tangan Paris. Pria itu menoleh, dan melihat jawaban di mata gadis itu.


Dibawah atap ruko yang sudah sudah tutup, Paris mengukuhkan hubungan mereka. Mencium dengan lembut bibir Sidney. Penuh perasaan cinta dan kasih sayang. Selama ini tidak sehari pun Paris menganggap Sidney adiknya, tapi seorang gadis yang sangat dia cintai.


Dengan pengetahuan yang terbatas, Sidney membalas ciuman Paris, lembut dan dalam. Dia bersuka cita di dalamnya. Paris melerai ciuman mereka dan menatap mata Sidney sesaat sebelum menyatukan kening mereka berdua. "Aku anggap ciuman itu jawaban darimu, pacarku."


*


*


*


Waduh, gimana kalau sampai Scot tahu ya? btw, mampir dong ke novel baru ku 😁😁