
Paris sudah melarang Sidney dan juga Scot untuk hadir di pesta Cici malam ini, tapi bukan dua somplak namanya kalau mengikuti perkataan Paris.
Pria itu memang sudah lebih dulu pergi baru keduanya menyusul. Selama Raya dan Elrick tidak ada di rumah, maka tambuk kekuasaan ada di tangan Paris, sesuai mandat kedua orang tua mereka.
"Gimana penampilan gue?" tanya Scot yang sudah berpakaian Zorro, lengkap dengan topeng dan juga topinya.
"You look amazing, Bro," ucap Sidney tidak berbohong. Scot memang tidak setampan Paris tapi tidak ada yang menyangkal kalau dia juga sangat tampan. Dia adalah Paris dalam bentuk lebih muda, tinggal dibentuk tubuhnya, agar lebih kekar.
"Kalau gue?" Sidney berputar. Dia menggunakan kostum Rapunzel, lengkap dengan aksesoris rambut dan sarung tangannya.
"Lo selalu cantik, Sidney. Tapi sayang gue gak pernah tertarik sama kecantikan lo itu. Gue harap habis ini, kita dapat pacar ya," ucap Scot tertawa renyah.
Pak Komar mengantar mereka hingga tiba di depan rumah Cici. Gadis itu memang anak orang kaya, yang kedua orang tuanya pebisnis sibuk hingga dia sering tinggal sendiri di rumah sebesar ini. Bahkan di ulang tahunnya ini pun, orang tuanya tidak berada di sisinya.
Dari luar saja acar pesta terlihat begitu heboh. Banyak tamu undangan yang lebih banyak tidak dikenal oleh Sidney, memakai berbagai kostum dan juga terlihat lebih berani. Bahkan bola mata Sidney sampai membulat sempurna kala melihat gadis-gadis yang dia kenal adalah kakak kelasnya hanya memakai lingerie.
"Welcome to surga dunia..." pekik Scot tersenyum gembira. Dia sangat bersemangat untuk mengikuti acara ini.
"Kok gue malah ngeri ya, Scot?"
"Lo harus terbiasa, beibey... ini lah dunia SMA, dunia bebas, asal jangan bablas," ucap Scot menarik tangan Sidney masuk.
Hiruk pikuk suara manusia ditambah lagi dengan suara musik yang dimainkan DJ sungguh menjadi keriuhan yang memekakkan telinga. Sidney harus setengah menjerit kala bicara dengan Scot.
"Gue tinggal dulu. Lo berkeliaran aja, siapa tahu dapat jodoh," ucap Scot yang ingin mencari mangsa.
Sidney hanya bisa bengong mengamati sekeliling. Tidak ada satu pun yang dia kenal. Oh, di sudut ruangan itu dia melihat Agnes, Mika dan juga Tara yang berlomba minum dengan kakak senior mereka. Sidney lagi-lagi tercengang melihat penampilan ketiga temannya yang begitu berani.
"Itu da*da Agnes beneran segitu? kok di sekolah gue lihat gak segede itu?" cicitnya mengamati dada Agnes yang membusung.
"Hey, lagi lihatin apa?" tepukan di bahunya membuat Sidney menoleh kebelakang.
"Eh, kak Cici... oh iya, selamat ulang tahun ya, Kak," ucapnya menyalami Cici. "Oh, iya hampir lupa, ini hadiah dari kita berdua."
Cici tampak mengernyitkan kening. Mungkin gadis itu bingung, siapa yang dia maksud berdua. "Oh, maksudku, dari ku dan Scot."
"Oh, iya. Mana dia? btw, makasih ya. Jadi merepotkan."
"Dia lagi sama teman-teman yang lain. Gak repot kok, Kak."
"Ya udah, aku ke sana dulu ya. Paris gak bisa jauh dariku," ucapnya tersenyum manis. Sidney hanya bisa menghela napas.
Yup... banyak rintangan yang buatnya harus mengubur perasaannya pada Paris. Pertama, yang paling mengikat adalah peraturan yang dia buat dengan Scot, 'Tidak jatuh cinta dengan saudara sahabatmu', yang artinya dengan Paris.
Kedua, Paris hanya menganggapnya sebagai adik. Itu juga pemutus harapan yang paling valid. Jadi, buang semua harapan, lagi pula itu mungkin hanya perasaan dia yang berkembang sejak kecil karena Paris yang selalu baik dan perhatian padanya. Seiring waktu, saat dia bertemu dengan pria yang bisa menggetarkan hatinya, mungkin dia akan melupakan Paris.
Pusing dengan problematika hidupnya, Sidney mendatangi ketiga temannya. Hanya mereka yang dia kenal, dari pada bengong memerhatikan sekelilingnya, beberapa pasang remaja yang tidak malu saling bertukar air liur dengan terang-terangan, membuat Sidney memutuskan lebih baik menyingkir.
"Hai...," Sapamya yang buat ketiga temannya dan empat kakak kelas yang sedang bermain truth or dare melihat ke arah mereka.
"Bareng sohib gue, tapi gue ditinggal. Gue di sini, ya?"
"Tapi lo ikut main dengan kita," sambar Agnes.
Sidney duduk di samping Mika kala gadis itu menggeser duduknya untuk Sidney.
"Truth or dare. Lo berani? Kalau lo cupu, udah pergi sana. Mending lo pulang!" Seru Agnes memancing Sidney.
Umpan dimakan, Sidney ingin ikut permainan itu. Lagi pula dia datang ke pesta ini bukan untuk pelangak-pelongok, kan?
"Gue ikut!" Balasnya menatap Agnes tajam.
Kebanyakan pilihan yang Sidney ambil saat ujung botol mengarah padanya adalah 'dare'. Kesalnya setiap pertanyaan, membuat Sidney tidak mau melakukannya, terlalu berani hingga dia memilih dihukum dengan menenggak minuman dalam cup.
Pertama kali mencoba, minuman itu begitu membakar tenggorokannya, tapi karena tidak ingin dianggap pengecut, Sidney menerima hukuman itu. Lambat laun, dia mulai menikmati minuman itu.
"Truth or Dare?" tanya kakak kelasnya yang cowok.
"Gue lagi, ya?" sahutnya dengan kepala oyong dan rasa panas yang membakar tubuhnya. Diliriknya Agnes dan Tara, sudah mabuk dan tertidur di sofa.
"Dare!" Pilih Sidney. Sepertinya dia hanya tahu pilihan itu saja.
"Buka baju Lo!"
Bola mata Sidney membulat. Kepalanya berat tapi tubuhnya terasa gerah. "Lo nyuruh gue apa?" Ulang Sidney.
"Buka baju, Lo!"
Karena hawa di ruangan itu terasa panas buat Sidney, tanpa pikir panjang dia membuat gaunnya. Hanya sebatas dua anak kancing, karena susah dibuka, Sidney menarik gaunnya dari bawah hingga memperlihatkan paha bahkan cela*na da*lam nya hampir terlihat. Beruntung Paris segera datang, menurunkan tangan Sidney, hingga gaun itu kembali jatuh menutupi kaki Sidney.
"Paris..." ucapnya lalu jatuh pingsan dalam pelukan pria itu.
"Lo berempat, temui gue besok di kantin B. Kalau lo coba-coba berani gak datang, gue bakar rumah lo pada!"
Paris kemudian menggendong Sidney ala bridal menuju pintu keluar. Anak-anak heboh melihat kejadian itu.
Awalnya, Paris yang sedang minum dengan teman-temannya, serta didekap Cici melihat Scot melintas, seorang diri. Karena tidak melihat keberadaan Sidney yang biasanya selalu menjadi bayangan Scot, Paris kemudian bergegas berdiri, mencari gadis itu.
Tepat saat Paris di sana, Sidney sudah akan membuka bajunya yang dinanti para seniornya yang sudah tampak tidak sabar ingin melihat tubuh polos Sidney.
Cici yang tidak suka Paris terlalu peduli pada Sidney, sejak kejadian dengan Steve, memang sengaja tidak memberitahukan Sidney juga datang ke pestanya. Diawal kedatangan Paris, gadis itu bertanya apa Scot dan Sidney ikut dengannya, dan Paris mengatakan mereka tidak akan datang. Jadi, saat melihat Sidney duduk sendiri, tentu saja Cici mengunci rapat mulutnya.
Kini, niatnya untuk menjauhkan Sidney dari Paris sia-sia. Pria itu sudah pergi dengan amarahnya sembari menggendong Sidney pulang. Pestanya rusak hanya karena gadis bernama Sidney.
"Lo lihat aja, gue bakal akan buat perhitungan dengan lo, Sid!"