
"Mas Arogan, anda ke sini?" tanya Nana terkejut melihat Elrick sudah berjalan masuk ke laundry.
"Mau ngambil selimut beludru atas nama Bu Nani," ucapnya garang.
"Oh." Nana mengecek rak, tapi tidak menemukan di sana. Kembali memeriksa hingga dia ingat sesuatu, kalau kain selimut yang dimaksud sudah bersama Raya saat ini, untuk diantar ke rumah para pelanggan mereka. "Udah sama Mbak Raya. Lagi keliling ngantar ke rumah pelanggan," terang Nana tidak bersahabat.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Elrick pergi dari sana, berniat pulang. Lima menit berkendara, Elrick melihat Raya yang sedang masuk ke dalam sebuah ruang sambil menenteng kain. Ingin mendatangi wanita itu guna mengambil selimut neneknya, tapi diurungkannya. "Biarin aja dia yang mengantar, tugas dia, kan!" katanya menarik sudut bibirnya
Menganggap tidak penting, Elrick meneruskan perjalanannya. Hingga selang lima belas menit, ketika sudah tiba di depan pintu rumah Oma, kesadaran Elrick seolah tertarik akan sesuatu fakta.
Sesaat dia menimbang, apakah dia harus kembali, atau tidak. Namun, mengingat rasa kesalnya pada Raya, dia pun mengabaikannya. Itu hanya sepuluh menit. Merasa gelisah, namun tidak ingin memikirkannya, Elrick pamit pulang.
Elrick sengaja memilih jalan dari arah tempat dia bertemu Raya tadi, walau dia sebenarnya bisa lewat dari jalan lain yang lebih dekat ke pintu masuk utama. Motor Raya tampak masih di sana. Dibaca kembali keterangan yang ada di depan rumah itu yang menyatakan rumah pak RT.
Rasa gelisah mulai mengikutinya. Dia ingat apa yang dia dengar di apotek tadi hingga membuatnya tidak tenang. Buru-buru dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tidak jauh dari rumah pak RT.
Suasana sepi, seperti yang tadi pria umur 50 an itu katakan. Naluri Elrick mengatakan ada hal buruk yang tengah dilakukan pria itu. Lagi pula sudah sekian lama mengapa motor Raya masih ada di garasi rumah itu.
Tanpa mengatakan apapun, Elrick memberanikan diri ingin masuk, namun pintu depan terkunci. Aneh, tapi itu benar dirasakan Elrick, dia mulai panik. Elrick mengitari rumah itu dari samping. Ruang yang berada paling sudut blok itu mempunya pintu samping yang coba dibukanya.
Beruntung, pintu samping itu tidak dikunci. Dia masuk perlahan, dan tetap masih sepi. Tidak ada tanda-tanda manusia ada di rumah itu. Elrick terus masuk hingga samar-samar dia mendengar suara sayup yang merintih minta dilepaskan.
Elrick mendekat, dan suara itu semakin jelas, hingga dia memutuskan untuk mendobrak pintu itu karena mengenali suara itu.
Brak!
Pintu kamar itu dibuka paksa olehnya. Tampak Rata yang saat itu berada di bawah kungkungan tubuh Pak RT. Pria itu terkesiap, terkejut tidak menyangka kalau ada orang yang menerobos masuk dan menggagalkan rencananya.
"Dasar tua bangka!" makinya seraya menjambak rambut pria itu hingga terhuyung mundur, mengikuti gerakan tangan Elrick, lalu seketika Elrick melempar tubuhnya ke dinding.
Raya berbaring di sana, dalam keadaan lemas dan rambut acak-acakan namun masih memakai pakaian lengkap.
Elrick mendekati pak RT, melepaskan satu pukulan panas di wajah pria itu, begitu kuatnya hingga pria tua itu jatuh pingsan. Elrick kembali mendekat pada Raya yang sudah mulai terisak. Tubuhnya lemas, penuh ketakutan akan niat jahat yang sempat ingin dilakukan pak RT padanya. Tangisannya mulai pecah, tubuhnya bergetar hebat, terguncang oleh tangisnya, ketika tangan Elrick memegang punggungnya, Raya sontak menjerit menutup dirinya dengan kedua tangan menyilang di dada, lalu kepala menunduk.
Setelah dua tahun berlalu, bayangan kejadian kelam itu jadian terkutuk itu kembali muncul dalam bayangannya. Malam itu juga dia yang tidak tahu apa-apa, diseret ke sebuah ruangan. Disekap selama beberapa jam, dan setelah itu... sungguh Raya tidak ingin mengingat hal itu kembali.
"Sssttt... tenanglah...," ucap Elrick kembali menyentuh pundak Raya namun, seketika wanita itu menjerit, menjauhkan tangan Elrick dari tubuhnya.
"Raya..." ucap Elrick lembut. Dia bahkan tidak menyadari kalau dia bisa juga berkata lembut seperti itu.
"Jangan, lepaskan aku. Menjauh. Aku mohon, jangan sentuh aku," ucap Raya masih histeris. Dia menutupi tubuhnya lagi dengan kedua tangan, lalu menjambak rambutnya dan menggelengkan kepala, persis seseorang yang trauma akan suatu kejadian.
"Ayo kita keluar dari sini. Kita pulang, ya?" Elrick kembali mengulurkan tangannya, menunggu reaksi gadis itu. Dalam tangisnya Raya menatap uluran tangan berlanjut hingga ke wajah Elrick. Air mata Raya sudah memenuhi wajahnya, menatap pedih ke arah Elrick, penuh ketakutan.
"Semua sudah aman. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi," bisik Elrick sangat lembut. Hatinya miris melihat keadaan Raya saat ini. Jelas wanita ini sangat trauma.
Raya menerima uluran tangan itu, setelah mendengar lembut suara Elrick, dia sadar pria itu bukan pria jahat. Spontan Raya menghambur dalam pelukan Elrick, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu, menangis sesenggukan.
"Sudah, kau sudah aman. Jangan menangis lagi." Penuh gerangan canggung, Elrick membelai rambut panjang Raya yang sudah lepas dari ikatannya.
***
Dalam mobil, Raya meringkuk, masih menangis namun hanya isakan. Elrick membawa Raya dari sana, bukan pulang ke laundry, namun ke sebuah taman yang masih berada di kawasan perumahan itu.
Keduanya duduk berdampingan. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Elrick sendiri bingung mengapa tadi dia membawa Raya ke sini bukan langsung ke rumahnya saja. Entahlah, pria itu hanya merasa punya tanggung jawab untuk menenangkan gadis itu, walaupun dia sempat berpikir itu bukanlah urusannya. Namun, menurutnya Raya butuh tempat untuk dia bisa tenang melepaskan ketakutan dan juga rasa tertekannya barulah bisa dengan tenang kembali ke rumah.
Elrick bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Dia bahkan membenci siapa saja, dan tidak mempercayai siapapun, terlebih makhluk yang bernama wanita.
Dia senang dipuaskan. Memakai tubuh wanita adalah salah satu caranya untuk melampiaskan amarah dan kebencian pada seseorang. Dia ingin menghukum dan membuat wanita kesakitan setiap bercinta dengan mereka.
Banyak yang tidak tahan, merasa tersakiti dengan cara Elrick yang dianggap pria memiliki kelainan hasrat. Hanya Meyra lah yang sejauh ini bertahan paling lama. Seberat apapun kegilaan Elrick dia bisa menanggung selagi pria itu memenuhi segala yang dia inginkan.
Suara isakan Raya sudah tidak terdengar sama sekali. Hanya napasnya yang terdengar naik turun begitu kuat. Gadis itu coba menekan kesedihan, kembali menjadi biasa melupakan apa yang baru saja terjadi.
"Terima kasih..." Akhirnya Raya bisa buka mulut. Dia menatap ke samping, melihat sekilas wajah tampan dan dingin Elrick.
"Kejadian apa yang sudah menimpamu, hingga kau mengalami trauma seberat itu?"
*
*
*Mau lanjut lagi? bagi dong hadiahnya...🙏😅